Memuat...

Strategi Penyanderaan Tentara 'Israel', Jejak Panjang Perencanaan Muhammad Deif sejak 1989

Zarah Amala
Senin, 2 November 2026 / 23 Jumadilawal 1448 11:39
Strategi Penyanderaan Tentara 'Israel', Jejak Panjang Perencanaan Muhammad Deif sejak 1989
Nachshon Wachsman (kiri), Gilad Shalit (kanan). (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Gagasan untuk menyandera tentara 'Israel' telah muncul sejak awal dalam pemikiran Muhammad Deif, mantan Panglima Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas. Ide tersebut mulai dibahas secara serius pada 1989, ketika Deif menjalani masa penahanan pertamanya di penjara 'Israel'.

Dalam masa penahanan itu, Deif berdiskusi dengan rekannya, Zakaria Al-Syurabji, mengenai pentingnya menjadikan penyanderaan tentara 'Israel' sebagai salah satu cara untuk memperoleh keuntungan bagi perlawanan Palestina.

Dokumenter program Ma Khafiya A‘zham (Yang Tersembunyi Lebih Besar) Al-Jazeera, dalam episode berjudul "Ad-Dhaif", mengungkap bahwa gagasan tersebut mulai diterapkan pada awal 1990-an. Tahap awalnya ditandai dengan penyerangan patroli militer 'Israel' dan perampasan senjata milik tentara.

Salah satu operasi yang dilakukan adalah penikaman terhadap tentara 'Israel' bernama Alon Kervani untuk merebut senapannya. Operasi tersebut menjadi langkah awal dalam mempersenjatai kelompok-kelompok tempur.

Rencana penyanderaan kemudian berkembang menjadi operasi yang lebih rumit pada Oktober 1994. Saat itu, satu kelompok Brigade Al-Qassam melancarkan operasi yang berujung pada penyanderaan tentara 'Israel', Nachshon Wachsman.

Melalui operasi tersebut, Deif berupaya memaksa 'Israel' berunding dengan menetapkan syarat pertukaran tentara yang disandera dengan tahanan Palestina.

Untuk mengelabui intelijen 'Israel', pimpinan militer Hamas menerapkan strategi pengalihan jejak. Seorang pejuang bernama Jihad Yaghmur ditugaskan membawa kartu identitas Wachsman dan rekaman video operasi dari Tepi Barat ke Jalur Gaza secara rahasia.

Strategi tersebut membuat pasukan 'Israel' terlambat menemukan lokasi penyanderaan selama beberapa hari. Wachsman ditahan di Beir Nabala, dekat Yerusalem.

Setelah lokasi itu terungkap, pasukan khusus 'Israel' melancarkan serangan untuk membebaskannya. Namun, operasi tersebut berakhir dengan tewasnya Wachsman, komandan unit penyerbu 'Israel', serta seluruh pelaksana operasi dari pihak Palestina.

Mantan pejabat badan intelijen dalam negeri 'Israel' Shin Bet, Asher Ben Artzi, mengakui bahwa operasi Wachsman menimbulkan guncangan di kalangan 'Israel'. Serangan itu dinilai sebagai kegagalan intelijen sekaligus operasional yang merugikan sistem keamanan 'Israel' dan memperlihatkan celah yang berhasil dimanfaatkan kelompok perlawanan.

Pengalaman operasi di dekat Yerusalem kemudian memperkuat doktrin militer Brigade Al-Qassam. Penyanderaan tentara 'Israel' menjadi salah satu strategi utama setelah pusat kepemimpinan kelompok tersebut sepenuhnya berpindah ke Jalur Gaza.

Ketika eskalasi konflik kembali meningkat pada musim panas 2006, Deif mengawasi persiapan operasi pertukaran tahanan yang lebih kompleks.

Dalam operasi tersebut, kelompok pejuang Palestina menyerbu sebuah pos militer 'Israel' melalui perbatasan dan berhasil menyandera tentara Gilad Shalit. Ia kemudian dibawa ke wilayah pedalaman Gaza.

'Israel' berulang kali berupaya membebaskan Shalit dan menemukan lokasi penahanannya dengan menggunakan teknologi serta perangkat pengawasan militer. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Shalit ditahan selama lebih dari lima tahun dalam kerahasiaan ketat oleh sebuah sel khusus. Selama periode itu, Jalur Gaza menghadapi sejumlah serangan militer 'Israel' yang juga bertujuan menembus jaringan penyanderaan tersebut.

Dalam rekaman eksklusif dokumenter itu, Deif terlihat bersama wakilnya, Marwan Issa, mengikuti tahap akhir perundingan dan penyusunan daftar tahanan Palestina yang akan dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran.

Rekaman tersebut memperlihatkan keterlibatan langsung para pimpinan militer dalam memantau penyusunan dan pengesahan daftar tahanan, sebelum jadwal pelaksanaan ditentukan dan kesepakatan diumumkan.

Rangkaian upaya tersebut mencapai puncaknya pada musim gugur 2011 melalui kesepakatan pertukaran tahanan. Dalam kesepakatan itu, sebanyak 1.027 tahanan Palestina dibebaskan dari penjara 'Israel' dengan imbalan pembebasan Gilad Shalit.

Dokumenter tersebut menggambarkan bagaimana penyanderaan tentara 'Israel' berkembang menjadi strategi yang terencana dalam operasi Brigade Al-Qassam. Strategi itu berawal dari diskusi Deif selama berada di penjara pada 1989, kemudian berkembang melalui berbagai operasi hingga menjadi bagian penting dalam perencanaan militer dan perundingan pertukaran tahanan. (zarahamala/arrahmah.id)