Memuat...

Ribuan Orang Turun ke Jalanan Tel Aviv, Desak Oposisi Lengserkan Netanyahu

Hanoum
Senin, 2 November 2026 / 23 Jumadilawal 1448 05:10
Ribuan Orang Turun ke Jalanan Tel Aviv, Desak Oposisi Lengserkan Netanyahu
Warga menyerukan pembentukan pemerintahan Yahudi-Arab selama protes setelah pemilihan umum Israel di Tel Aviv, Israel, Sabtu, 31 Oktober 2026. [Foto: AP Photo/David Goldman]

TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Ribuan orang berunjuk rasa di Lapangan Habima, Tel Aviv, pada Sabtu malam (31/10/2026) untuk mendesak oposisi 'Israel' membentuk pemerintahan koalisi Yahudi-Arab guna menyingkirkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Aksi itu digelar empat hari setelah pemilu 27 Oktober yang tidak menghasilkan mayoritas bagi blok mana pun.

Dilansir Al Jazeera (1/11), pengunjuk rasa mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa ini mungkin “kesempatan terakhir untuk perubahan nyata”, dan menyebut Netanyahu, perdana menteri terlama Israel, sebagai “manipulator besar”.

Koresponden Al Jazeera, Nour Odeh, mengatakan para peserta ingin pemimpin oposisi Gadi Eisenkot dan tokoh partai Yahudi lain mendengar aspirasi mereka. Aksi serupa direncanakan di Yerusalem, Beersheba, Haifa, dan Tayibe, dan diorganisasi antara lain oleh gerakan sosialis Yahudi-Arab Standing Together. Penyelenggara mengatakan suara Arab bernilai sama dengan suara Yahudi dan warga Arab harus menjadi mitra penuh dalam menentukan masa depan negara.

Hasil pemilu membuat partai Arab menjadi penentu. Blok Netanyahu meraih 53 kursi dan blok Eisenkot 48 dari 120 kursi Knesset, sehingga tidak ada pihak yang bisa membentuk pemerintahan sendiri. Tiga partai berbasis warga Arab meraih 19 kursi, kenaikan signifikan. Komisi Pemilihan Pusat mencatat hampir 840.000 orang memilih Ra’am dan Daftar Bersama, naik 64 persen dari pemilu 2022.

Koalisi dengan Eisenkot akan memberi mayoritas nyaman 67 kursi. Eisenkot sebelumnya menolak koalisi dengan partai Arab, tetapi TRT World melaporkan ia berjanji membentuk koalisi luas untuk mencegah pemilu ulang.

Aksi tandingan juga digelar. Pendukung Netanyahu meneriakkan tuntutan bahwa 'Israel' tidak boleh punya pemerintahan dengan “teroris”. Haaretz melaporkan sebagian pendukung Netanyahu mencoba menembus barikade polisi menuju aksi kiri, dan Times of Israel menyebut aktivis sayap kanan berencana berunjuk rasa di depan rumah Eisenkot.

Netanyahu menuduh partai Arab “mencuri” pemilu dan menerima dana Qatar, tuduhan yang ditolak Qatar sebagai kampanye disinformasi. (hanoum/arrahmah.id)