Memuat...

MUI Tegur Konsep SKNC 2026 Pekalongan: Jangan Sampai Maulid Bernuansa Satanic

Ameera
Senin, 14 September 2026 / 3 Rabiulakhir 1448 14:31
MUI Tegur Konsep SKNC 2026 Pekalongan: Jangan Sampai Maulid Bernuansa Satanic
MUI Tegur Konsep SKNC 2026 Pekalongan: Jangan Sampai Maulid Bernuansa Satanic

PEKALONGAN (Arrahmah.id) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyoroti gelaran Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Pekalongan, Jawa Tengah, yang menuai kontroversi setelah menampilkan pertunjukan bernuansa mistik dan visual horor yang dinilai menyerupai ritual satanic.

SKNC 2026 sebelumnya digagas sebagai bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus khitanan massal ke-61.

Namun, sejumlah potongan video pertunjukan yang beredar di media sosial memicu perhatian dan keresahan masyarakat.

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menilai sejumlah atraksi dalam karnaval tersebut tidak sesuai dengan esensi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, kegembiraan dalam memperingati kelahiran Rasulullah seharusnya diwujudkan melalui kegiatan yang mendidik, menyejukkan, serta mencerminkan akhlak mulia Nabi.

"Karnaval yang sifatnya mendidik tentu boleh, tetapi ketika itu menjadi animisme atau sesuatu yang menakutkan, tentu sangat bertentangan dengan haflah Maulid Nabi," kata Kiyai Cholil.

Ia menjelaskan, peringatan Maulid Nabi semestinya diisi dengan kegiatan syiar yang dapat memperkuat keimanan, seperti membaca shalawat, Alquran, menyampaikan nasihat keagamaan, serta mengenang keteladanan Rasulullah SAW.

Menurut Kiai Cholil, menghadirkan simbol-simbol yang diasosiasikan dengan iblis, unsur ketakutan, maupun praktik yang mendekati animisme justru berpotensi mengaburkan makna spiritual Maulid Nabi.

"Bergembira dengan Maulid Nabi itu dengan mengikuti sunnah beliau, seperti halnya membaca shalawat dan membaca Alquran," ujarnya.

Soroti Simbol Satanic

Dalam video SKNC 2026 yang beredar di media sosial, tampak sejumlah talent mengenakan kostum menyerupai sosok iblis. Dalam pertunjukan tersebut juga terlihat properti berupa kitab dengan simbol mata satu, obor, serta simbol pentagram terbalik yang kerap diasosiasikan dengan satanisme.

Kiyai Cholil menilai konsep pertunjukan yang menonjolkan visualisasi horor tersebut berpotensi menghilangkan substansi spiritual perayaan Maulid Nabi.

Momen yang seharusnya menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan dan keteladanan Rasulullah, menurut dia, justru dapat terdistorsi apabila lebih banyak diisi dengan tontonan yang menghadirkan kesan menyeramkan dan simbol-simbol yang tidak sejalan dengan nilai keislaman.

Penyembelihan Kambing Jadi Sorotan

Selain penggunaan simbol dan kostum bernuansa mistik, aksi penyembelihan seekor kambing dalam rangkaian pertunjukan juga menjadi salah satu bagian yang paling banyak mendapat perhatian publik.

Dalam video yang beredar, kambing tersebut disembelih di tengah pertunjukan hingga bagian kepalanya terlepas dan darah terlihat berceceran di lantai arena.

Kiai Cholil menilai penyembelihan hewan dengan cara yang dipertontonkan sebagai bagian dari atraksi horor tidak sesuai dengan tuntunan syariat dan prinsip perlakuan baik terhadap hewan.

Ia mengingatkan agar ekspresi seni dan budaya dalam kegiatan keislaman tidak bergeser menjadi pertunjukan yang menampilkan sosok setan ataupun tindakan terhadap hewan yang dinilai tidak beradab.

"Jangan menyimpang. Dalam konteks bagaimana memperagakan seni Islam, tentang keguyuban, jangan menyimpang menjadi setan-setan, menyembelih hewan dengan cara tidak baik, lehernya dipotong dan seterusnya," kata Kiai Cholil.

"Itu bukan ajaran Rasulullah," tegasnya.

MUI Dorong Maulid Diisi Kegiatan yang Menyejukkan

Lebih lanjut, Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah tersebut mengimbau panitia penyelenggara dan masyarakat untuk mengembalikan tradisi peringatan Maulid Nabi pada kegiatan-kegiatan yang sejalan dengan tuntunan para ulama terdahulu.

Ia merujuk pada tradisi yang dirumuskan oleh Imam As-Suyuthi, yakni mengisi Maulid dengan kegiatan yang mendekatkan umat kepada Allah SWT dan memperkuat hubungan antarsesama.

Menurut Kiai Cholil, sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan antara lain pembacaan ayat-ayat suci Alquran, lantunan shalawat, penyampaian mauidhoh hasanah atau nasihat-nasihat yang baik, pembacaan kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW, serta penyediaan makanan sebagai bentuk rasa syukur dan sedekah.

Ketua Badan Pengurus DSN MUI itu juga berharap panitia penyelenggara kegiatan keagamaan di berbagai daerah dapat lebih selektif dan bijaksana dalam mengemas seni dan budaya yang dibawa ke dalam kegiatan Islami.

Menurutnya, kreativitas dalam seni tetap dapat dikembangkan selama tidak menghilangkan nilai dan tujuan utama dari kegiatan keagamaan.

Kiai Cholil menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya tetap menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, meneladani akhlak Rasulullah, serta memperkuat silaturahim dan persaudaraan umat.

"Jangan menyimpang," pungkas  Kiai Cholil.

(ameera/arrahmah.id)