AMMAN (Arrahmah.id) -- Harga minyak dunia kembali meningkat setelah serangkaian serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi dan kapal-kapal di kawasan Timur Tengah memperbesar kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global. Kenaikan harga tersebut tidak hanya dipicu oleh serangan milisi Syiah Houtsi dari Yaman, tetapi juga oleh kerusakan pada jaringan pipa minyak utama Arab Saudi yang menurut pejabat Saudi diserang menggunakan pesawat nirawak dari Irak.
Dilansir Time (14/9/2026), harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan internasional, sempat naik lebih dari 3 persen menjadi sekitar 107,82 dolar AS per barel pada Senin (14/9). Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat meningkat sekitar 3,2 persen menjadi 103,22 dolar AS per barel.
Salah satu faktor utama yang mengkhawatirkan pasar adalah penutupan sementara Pipa Timur–Barat atau East-West Pipeline milik Arab Saudi. Jalur sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu berfungsi mengalihkan pengiriman minyak dari kawasan timur Saudi menuju pelabuhan di Laut Merah, sehingga mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Gangguan terhadap pipa tersebut berpotensi memengaruhi hingga sekitar 4 persen pasokan minyak global apabila tidak segera dipulihkan.
Laporan Reuters menyebutkan serangan terhadap fasilitas pipa tersebut diduga berasal dari Irak, sedangkan milisi Houtsi yang didukung Iran melancarkan serangan terpisah terhadap wilayah dan fasilitas militer Saudi.
Kekhawatiran pasar semakin besar setelah milisi Houtsi memperluas pengaruhnya di sekitar Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memperlambat pengiriman minyak, meningkatkan biaya asuransi dan angkutan kapal, serta memaksa perusahaan energi mencari rute alternatif yang lebih mahal.
Analis komoditas Tony Sycamore dari IG memperingatkan bahwa harga minyak dapat terus bergerak naik apabila perundingan mengenai keamanan jalur pelayaran tidak menghasilkan kesepakatan dan pipa Timur–Barat tidak segera kembali beroperasi. Ia menilai harga minyak berpotensi mendekati kembali level tertinggi sebelumnya apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
Kenaikan harga minyak juga berisiko meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara karena minyak merupakan bahan baku penting bagi transportasi, pembangkit energi, industri, dan distribusi barang. Apabila gangguan berlangsung berkepanjangan, dampaknya dapat merembet pada harga bahan bakar, biaya logistik, serta harga kebutuhan pokok. (hanoum/arrahmah.id)
