GAZA (Arrahmah.id) - Kementerian Pendidikan Palestina pada Rabu (21/10/2026) melaporkan bahwa kendaraan militer 'Israel' melepaskan tembakan ke arah Sekolah Putri Muradiya dan kawasan sekitarnya di Jabaliya, Gaza utara. Serangan itu melukai dua siswi.
Souad Qandil, siswi kelas enam, terkena tembakan di paha dan harus menjalani operasi. Sementara itu, Amna Khaled Ali Khader, siswi kelas empat, mengalami luka di bagian perut.
Kementerian tersebut juga melaporkan bahwa enam pelajar Palestina gugur dan sejumlah lainnya terluka akibat serangan 'Israel' di Jalur Gaza dalam dua hari terakhir.
Kementerian tidak memberikan informasi lebih lanjut mengenai kondisi kedua siswi tersebut maupun lokasi dan keadaan yang menyebabkan enam pelajar lainnya gugur.
Kementerian Pendidikan Palestina menyebut serangan itu sebagai bagian dari eskalasi serius dan berkelanjutan yang menyasar pelajar dan anak-anak Palestina.
Penembakan tersebut terjadi sekitar sebulan setelah kegiatan belajar tatap muka kembali dimulai pada 19 September, menyusul hampir tiga tahun tanpa pendidikan reguler selama genosida 'Israel' di Gaza.
Kementerian memperingatkan bahwa serangan berulang terhadap pelajar dan sekolah semakin merusak sistem pendidikan Gaza yang masih tersisa.
“Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk belajar, bukan arena yang dipenuhi ketakutan, luka-luka, dan kematian,” demikian pernyataan kementerian.
Kementerian menegaskan bahwa “menjadikan pelajar sebagai sasaran berarti merampas hak dasar mereka atas pendidikan”.
Berdasarkan data kementerian, tahun ajaran baru diperkirakan menjangkau sekitar 541.000 pelajar melalui kurang lebih 700 lokasi pembelajaran tatap muka, selain kegiatan belajar daring. Upaya tersebut berlangsung di tengah kehancuran besar-besaran bangunan sekolah di wilayah kantong Palestina itu.
Kementerian Pendidikan Palestina mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), organisasi internasional terkait, serta lembaga hak asasi manusia agar segera turun tangan untuk melindungi pelajar dan tenaga pendidikan.
Kementerian juga menuntut penghentian serangan terhadap sekolah dan kawasan di sekitarnya, serta pertanggungjawaban pihak-pihak yang terlibat.
Sejak Oktober 2023, serangan 'Israel' di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 lainnya, menurut angka yang dicantumkan dalam laporan tersebut.
Sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza juga dilaporkan hancur, termasuk fasilitas yang sangat dibutuhkan untuk memulihkan kegiatan pendidikan reguler. (zarahamala/arrahmah.id)
