SHABWA (Arrahmah.id) -- Serangan tiga rudal balistik yang dilancarkan kelompok Houthi menghantam kamp pelatihan pasukan keamanan pemerintah Yaman di Provinsi Shabwa, menewaskan 73 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya. Serangan pada Senin (19/10/2026) itu menyasar Kamp Al-Alam, dekat Kota Ataq, ketika para rekrut sedang mengikuti latihan. Sebanyak 14 orang lainnya dilaporkan masih hilang, menurut Gubernur Shabwa Awad bin al-Wazir.
Kantor media Pemerintah Provinsi Shabwa menyebut fasilitas yang diserang merupakan Pusat Pelatihan Martir Ahmed al-Sulaimani, tempat calon anggota pasukan keamanan internal dan kepolisian menjalani pelatihan. Jumlah korban awalnya tercatat 53 orang tewas dan lebih dari 200 terluka. Namun, setelah tim penyelidik memperbarui hasil pendataan pada Selasa, angka kematian meningkat menjadi 73 orang.
Gubernur Awad bin al-Wazir menyampaikan angka terbaru tersebut setelah menggelar pertemuan untuk mengevaluasi kondisi korban luka dan orang-orang yang belum ditemukan. Ia mengecam serangan itu dan meminta pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban. Sejumlah korban luka dengan kondisi serius dilaporkan dipindahkan ke rumah sakit di Hadramaut dan Aden karena fasilitas kesehatan di Shabwa kewalahan menangani korban.
Menurut laporan BBC (21/10/2026), serangan tersebut terjadi ketika para rekrut sedang bersiap menjalani latihan pagi. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah korban tergeletak di area kamp setelah ledakan. Seorang korban selamat mengatakan tiga rudal menghantam lokasi tersebut, memicu ledakan dan menyebarkan serpihan yang melukai orang-orang di sekitarnya.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan kelompoknya memang melancarkan serangan tersebut. Namun, ia mengklaim sasaran operasi adalah konsentrasi pasukan yang disebutnya sebagai “musuh Saudi” di Kamp Al-Alam, yang menurut Houthi dikelola oleh perwira Arab Saudi. Kelompok itu belum memberikan penjelasan terperinci mengenai jumlah korban yang dilaporkan pemerintah Yaman. Otoritas Arab Saudi juga belum memberikan tanggapan langsung mengenai klaim bahwa perwiranya mengelola kamp tersebut.
Sebaliknya, pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan bahwa fasilitas itu digunakan untuk melatih personel keamanan internal, bukan sebagai lokasi operasi tempur Saudi. Kepala Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman, Rashad al-Alimi, mengecam serangan tersebut dan menjanjikan respons tegas. Menteri Informasi Yaman, Moammar al-Eryani, bahkan menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang karena, menurut pemerintah, kamp tersebut bukan sasaran militer yang sah. Penetapan hukum atas dugaan kejahatan perang tetap memerlukan pemeriksaan terhadap fakta dan ketentuan hukum humaniter internasional.
Serangan di Shabwa berlangsung ketika perang Yaman kembali memanas setelah ketegangan meningkat pada September 2026. Pasukan yang didukung Arab Saudi melancarkan operasi untuk merebut wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk kawasan strategis di pesisir Laut Merah dekat Selat Bab al-Mandab. Houthi merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap fasilitas militer, bandara, serta infrastruktur energi di Yaman dan Arab Saudi.
Peningkatan pertempuran juga memperburuk situasi kemanusiaan di Yaman. Di Taiz, kota yang dikuasai pemerintah dan dikepung pasukan Houthi di sejumlah jalur utama, organisasi kemanusiaan memperingatkan kekurangan air bersih, pangan, bahan bakar, dan obat-obatan. Konflik yang dimulai pada 2014 ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa telah menyebabkan krisis kemanusiaan berkepanjangan, sementara upaya perdamaian belum menghasilkan penyelesaian politik yang bertahan lama.
Serangan di Kamp Al-Alam menjadi salah satu insiden paling mematikan sejak konflik kembali meningkat. Jumlah korban yang tinggi, banyaknya personel muda yang sedang menjalani pelatihan, serta belum jelasnya kemungkinan pembalasan meningkatkan risiko eskalasi lebih lanjut. Hingga berita ini disusun, 73 orang dilaporkan tewas, lebih dari 200 terluka, dan 14 lainnya masih hilang. Pemerintah Yaman menuntut pertanggungjawaban atas serangan itu, sedangkan Houthi mempertahankan klaim bahwa operasi mereka menargetkan pasukan yang terkait dengan Arab Saudi. (hanoum/arrahmah.id)
