Memuat...

Tak Ingin Perang dengan Turki, Netanyahu Sebut Erdogan Merasa Ottoman

Hanoum
Kamis, 22 Oktober 2026 / 12 Jumadilawal 1448 05:58
Tak Ingin Perang dengan Turki, Netanyahu Sebut Erdogan Merasa Ottoman
Foto ilustrasi. [Foto: X]

TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan tidak menginginkan konfrontasi militer dengan Turki, tetapi menuduh Presiden Recep Tayyip Erdogan berusaha memperluas pengaruh Ankara dan menghidupkan kembali kejayaan Kesultanan Utsmaniyah. Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam wawancara dengan Channel 14 Israel yang ditayangkan pada Selasa (20/10/2026), di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara terkait pengaruh regional, terutama di Suriah.

“Saya tidak ingin konfrontasi dengan Turki. Turki menginginkan konfrontasi dengan kami,” kata Netanyahu dalam wawancara tersebut. Ia menuding Erdogan mengeluarkan pernyataan yang mengancam keberadaan 'Israel' dan mengklaim Yerusalem sebagai wilayah Turki. Netanyahu juga menyebut Erdogan seolah-olah ingin mengembalikan kekuasaan Utsmaniyah atas Yerusalem. Tuduhan tersebut merupakan penilaian Netanyahu dan belum disertai bukti bahwa Turki secara resmi merencanakan penguasaan kota tersebut.

Netanyahu memperingatkan bahwa 'Israel' tidak akan tunduk pada apa yang disebutnya sebagai “poros Sunni ekstrem” yang dipimpin Turki. Ia menegaskan bahwa Israel memiliki kemampuan militer untuk menghadapi ancaman, termasuk pesawat tempur F-35 dan F-16 serta personel militer yang terlatih. Namun, ketika ditanya apakah doktrin keamanan baru 'Israel' memungkinkan serangan pendahuluan terhadap Turki, Netanyahu menolak mengungkapkan rencana operasional militer. Ia mengatakan 'Israel' sebelumnya telah mengambil tindakan pencegahan terhadap pihak-pihak yang dinilai berpotensi mengancam keamanannya.

Pernyataan itu muncul sehari setelah Erdogan menuduh 'Israel' berusaha mengacaukan stabilitas Suriah. Dalam pidatonya di Ankara pada Senin (19/10/2026), Presiden Turki tersebut mengatakan bahwa kabar baik datang dari Suriah, tetapi Israel berupaya mengganggu perkembangan di negara itu. Erdogan juga memperingatkan bahwa kawasan tersebut semakin dikepung konflik dan menyebut tindakan 'Israel' sebagai salah satu sumber ketidakstabilan regional.

Perselisihan kedua pemimpin terutama berkaitan dengan masa depan Suriah setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Turki mendukung pemerintahan baru Presiden Ahmad Asy-Syaraa dan memiliki kepentingan strategis dalam stabilitas serta rekonstruksi Suriah. Sebaliknya, 'Israel' berulang kali melakukan operasi militer di wilayah Suriah dan berupaya mempertahankan zona keamanan di bagian selatan negara itu. Perbedaan kepentingan tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa kedua negara dapat bersinggungan secara langsung meskipun tidak sedang berperang secara resmi.

Menurut laporan Le Monde pada Agustus 2026, ketegangan 'Israel'–Turki juga dipicu oleh persaingan pengaruh militer di Suriah, perbedaan sikap terhadap perang di Gaza, serta dukungan Ankara terhadap Hamas. Serangan 'Israel' terhadap lokasi yang dikaitkan dengan rencana kehadiran militer Turki di Suriah utara turut memperburuk hubungan. Turki, yang merupakan anggota NATO, memiliki kapasitas militer dan hubungan internasional yang membuat setiap konfrontasi langsung berpotensi membawa konsekuensi lebih luas daripada konflik bilateral biasa.

Meski retorika kedua pemimpin semakin keras, Netanyahu sebelumnya menyatakan berharap 'Israel' dan Turki tidak sampai terlibat bentrokan langsung. Ia juga mengatakan akan menyambut baik pemulihan hubungan kedua negara seperti pada masa lalu, meskipun meragukan kemungkinan tercapainya perbaikan selama Erdogan masih berkuasa. Hingga berita ini disusun, belum ada pengumuman mengenai rencana pertemuan langsung kedua pemimpin untuk meredakan ketegangan. (hanoum/arrahmah.id)