SAHEL (Arrahmah.id) -- Kelompok militan Islamic State Sahel Province (ISSP) mengklaim telah menewaskan lebih dari 80 tentara Niger dalam salah satu operasi terbesarnya tahun ini di wilayah barat Niger, menandai eskalasi baru konflik bersenjata di kawasan Sahel yang semakin tidak stabil. Klaim itu disebarkan melalui kanal propaganda pendukung ISSP, namun hingga kini belum ada konfirmasi resmi independen dari pemerintah Niger mengenai jumlah korban yang disebutkan kelompok tersebut.
Dilansir MEMRI Jihad and Terrorism Threat Monitor (24/6/2026), ISSP mengaku melancarkan dua serangan simultan terhadap posisi militer Niger di wilayah barat negara itu, kawasan yang selama beberapa tahun terakhir menjadi episentrum kekerasan jihad di perbatasan Niger, Mali, dan Burkina Faso. Dalam narasi yang disebarkan kelompok tersebut, para militan ISSP menyerang basis militer Niger dan menimbulkan korban besar di pihak tentara, termasuk lebih dari 80 personel yang diklaim tewas. Klaim itu beredar di tengah meningkatnya aktivitas kelompok jihad baik yang berafiliasi dengan Islamic State (ISIS) maupun Al-Qaeda di Niger sepanjang 2026.
Hingga berita ini ditulis, otoritas Niger belum mengeluarkan pernyataan resmi yang membenarkan angka korban sebagaimana diklaim ISSP. Namun serangan besar terhadap instalasi militer Niger bukan hal baru tahun ini. Pada Januari 2026, kelompok ISSP juga mengklaim serangan besar ke Bandara Internasional Diori Hamani dan pangkalan udara di Niamey, sementara pada Juni kelompok rival yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, Jama’at Nusrat al-Islam wal Muslimin (JNIM), menyerang bandara yang sama dan menewaskan sedikitnya 11 personel keamanan menurut pemerintah Niger. Rangkaian insiden itu menunjukkan bahwa fasilitas militer dan infrastruktur strategis Niger kini menjadi sasaran utama kelompok-kelompok jihad di Sahel.
Dalam pernyataannya yang dikutip MEMRI, ISSP mengklaim para anggotanya menyerbu posisi militer Niger dan menewaskan lebih dari 80 tentara dalam operasi yang disebut berlangsung serentak.
Associated Press dalam laporan terbarunya menyebut Niger kini menjadi salah satu titik paling rawan di kawasan karena kelompok-kelompok bersenjata mulai memperluas sasaran dari daerah pedesaan ke pusat-pusat strategis, termasuk bandara, pangkalan militer, dan jalur logistik.
Secara geografis, wilayah barat Niger—khususnya kawasan Tillaberi dan zona tiga perbatasan dengan Mali serta Burkina Faso—memang telah lama menjadi basis operasi kelompok-kelompok jihad. Laporan berbagai lembaga pemantau konflik menunjukkan daerah itu menjadi arena serangan rutin terhadap tentara, aparat lokal, dan warga sipil, dengan metode serangan yang semakin kompleks, mulai dari penyergapan konvoi, penggunaan ranjau improvisasi, hingga penyerbuan ke pangkalan militer. Situasi tersebut makin menyulitkan pemerintah militer Niger yang sejak kudeta 2023 berjanji memulihkan keamanan namun masih menghadapi gelombang kekerasan yang terus meningkat.
Meski belum ada verifikasi final atas klaim 80 tentara tewas, laporan ini tetap menjadi alarm serius bagi stabilitas Niger dan kawasan Sahel secara lebih luas. Jika angka korban itu benar, serangan tersebut akan menjadi salah satu operasi paling mematikan terhadap militer Niger tahun ini. Namun bahkan tanpa konfirmasi penuh, klaim ISSP sudah menunjukkan satu hal yang jelas: kelompok jihad di Sahel masih memiliki kapasitas untuk melancarkan serangan berskala besar dan terus menantang kontrol negara di salah satu kawasan paling rapuh di Afrika. (hanoum/arrahmah.id)
