(Arrahmah.id) - Pernyataan Perdana Menteri "Israel", Benjamin Netanyahu, terkait doktrin keamanan "Israel" yang berlandaskan pada “inisiatif dan serangan pre-emptive (pendahuluan)” memicu gelombang kontroversi luas. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks pidato politik yang memuat isyarat religius dan justifikasi ideologis atas pendekatan tersebut, sehingga kembali membuka perdebatan mengenai karakter strategi keamanan "Israel" serta batas-batas etika dan politiknya.
https://www.youtube.com/live/yRD8ff3yj3c?si=HioSrKSMRFKSJXGK
Dalam pidato yang disampaikan pada sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh kantor berita Yahudi di kota Yerusalem, Netanyahu mengatakan bahwa "Israel" telah “mengubah doktrin keamanannya”. Ia menambahkan:
“Kami mengambil inisiatif, menyerang, mengejutkan, dan menyerang musuh-musuh yang berusaha menghancurkan kami dan yang ingin membunuh kami. Kami menyerang mereka sebelum mereka memiliki kesempatan untuk melakukannya.”
Netanyahu juga mengutip ungkapan dalam bahasa Ibrani:
“Ha-ba lehorgekha hashkem lehorgo”“Jika seseorang datang untuk membunuhmu, maka bangkitlah lebih awal dan bunuh dia terlebih dahulu.”
Ungkapan ini ia gunakan sebagai dasar pemikiran yang, menurutnya, membenarkan pendekatan serangan pendahuluan dalam doktrin keamanan "Israel".
Ia juga merujuk pada teks dari Talmud Babilonia yang mengandung makna serupa, seraya menegaskan bahwa pendekatan ini—menurutnya—merupakan respons rasional terhadap ancaman eksistensial yang dihadapi "Israel", dan bukan penyimpangan dari tradisi keagamaan atau intelektual.
Pernyataan Netanyahu ini muncul dalam konteks meningkatnya retorika politik dan keamanan, yang mencerminkan sikap semakin keras dalam mengadopsi opsi serangan pre-emptive, di tengah ketegangan regional yang terus berlangsung dan meningkatnya konflik di berbagai front.
Pernyataan tersebut juga memicu reaksi luas di media sosial, dengan gelombang kritik tajam dan kecaman terhadap isinya, serta penolakan keras terhadap pembenaran yang disampaikan dalam pidato tersebut. Hal ini terjadi di tengah suasana kemarahan dan kecaman luas terhadap isi pernyataan itu.
Halaman “Voice of the Rabbis” di platform X menulis bahwa Netanyahu “tidak beriman kepada Tuhan, Taurat-Nya, maupun ajaran Talmud”, serta menyebut apa yang disebut sebagai “perlawanan” sebagai—menurut mereka—“formula gagal dari ideologi Zionis yang membawa konflik tanpa akhir”. Mereka juga menyerukan penghentian apa yang mereka sebut sebagai “pemanfaatan orang Yahudi di seluruh dunia sebagai perisai politik”.
Sementara itu, seorang rabi Yahudi Amerika yang dikenal menentang Zionisme, Yaakov Shapira, mengatakan bahwa masalahnya terletak pada klaim "Israel" yang “menyatakan dan melembagakan dirinya secara hukum sebagai negara yang mewakili seluruh Yahudi dunia”. Ia menambahkan bahwa klaim tersebut “ilusi, menjijikkan, tidak bermoral, dan harus ditolak”.
Di sisi lain, sejumlah aktivis menilai bahwa pernyataan Netanyahu mengungkap sisi tertentu dari karakter wacana politik "Israel" dan tujuan-tujuan regionalnya, serta mencerminkan—menurut mereka—ambisi yang melampaui batas wilayah Palestina.
Sebagian lainnya bahkan menyebut Netanyahu sebagai “penjahat perang” dan “terobsesi dengan genosida”, serta menilai bahwa pernyataannya mencerminkan pendekatan ekstrem dalam mengelola konflik.
Para blogger juga berpendapat bahwa pernyataan tersebut bukan sekadar ungkapan biasa, melainkan mencerminkan—menurut mereka—inti dari doktrin keamanan dan militer "Israel" yang berlandaskan konsep serangan pendahuluan, yang selama ini terus dipromosikan Netanyahu dalam berbagai pidato politiknya.
Sumber: Aljazeera
(Samirmusa/arrahmah.id)
