Memuat...

Khutbah Jum'at: Mengagumi Islam, Menolak Syari'at, dan Ironi Kemerdekaan di Tengah Penderitaan Rakyat

Oleh Ustadz Irfan S. Awwas
Jumat, 21 Agustus 2026 / 9 Rabiulawal 1448 09:44
Khutbah Jum'at: Mengagumi Islam, Menolak Syari'at, dan Ironi Kemerdekaan di Tengah Penderitaan Rakyat
Khutbah Jum'at: Mengagumi Islam, Menolak Syari'at, dan Ironi Kemerdekaan di Tengah Penderitaan Rakyat

(Arrahmah.id) - Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tuhan semesta alam. Dia yang telah menciptakan kita, memberi rezeki kepada kita, memelihara kehidupan kita, dan hanya kepada-Nya kita akan kembali.

Kita bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan kita bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan utusan-Nya.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti jalan beliau hingga hari kiamat.

Amma ba'du.

Maka, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya takwa. Sebab takwa bukan hanya ucapan di lisan. Takwa adalah ketaatan kepada Allah ketika kita berada sendirian maupun di hadapan manusia; ketika menguntungkan maupun ketika terasa berat; dalam urusan pribadi maupun urusan kehidupan bersama.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Bulan kemerdekaan selalu datang dengan gegap gempita. Bendera dikibarkan. Lagu-lagu perjuangan dinyanyikan. Upacara diselenggarakan. Kita mengenang pengorbanan para pahlawan yang telah berjuang agar bangsa ini terbebas dari penjajahan.

Semua itu tentu patut menjadi bahan renungan.

Namun, di tengah perayaan kemerdekaan, ada sebuah pertanyaan besar yang harus kita jawab dengan jujur:

Sudahkah kemerdekaan benar-benar menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat?

Sebab kemerdekaan tidak boleh berhenti hanya pada pergantian penguasa. Kemerdekaan tidak cukup hanya berarti penjajah asing telah pergi. Kemerdekaan harus terasa dalam kehidupan rakyat: ketika hukum melindungi yang lemah, ketika kekayaan negeri tidak hanya berputar di kalangan tertentu, ketika rakyat dapat hidup dengan layak, ketika amanah tidak diperjualbelikan, dan ketika penguasa merasa takut berbuat zalim kepada rakyat.

Tetapi realitas yang kita saksikan masih jauh dari cita-cita itu.

Di negeri yang kaya sumber daya, masih ada rakyat yang hidup dalam kesulitan. Di negeri yang tanahnya subur, masih ada keluarga yang berat memenuhi kebutuhan pokok. Di negeri yang kemerdekaannya diperjuangkan dengan darah dan air mata, masih terasa kesenjangan antara mereka yang berlimpah dengan mereka yang harus berjuang sekadar mempertahankan kehidupan.

Maka pertanyaannya: Apa arti kemerdekaan apabila rakyat masih mudah diperbudak oleh kesulitan ekonomi?

Apa arti kemerdekaan apabila hukum terasa tajam kepada yang lemah tetapi tumpul kepada yang kuat?

Apa arti kemerdekaan apabila kekayaan alam negeri lebih banyak menjadi sumber keuntungan segelintir orang daripada kesejahteraan rakyat?

Dan yang lebih mendasar lagi:

Apakah bangsa ini telah benar-benar merdeka, apabila kehidupan kita masih tunduk kepada hawa nafsu, keserakahan, dan kepentingan manusia? Inilah ironi bangsa ini:

1. Mengagumi Islam, tetapi Menolak Aturan Allah.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Banyak orang mengagumi Islam.
Mereka berbicara tentang keindahan Islam.

Mereka memuji akhlak Nabi.
Mereka mengagumi persaudaraan Islam.
Mereka berbicara tentang zakat, sedekah, wakaf, dan kepedulian sosial.

Mereka mengutip ayat tentang keadilan.
Mereka memuji sejarah peradaban Islam.

Tetapi ketika Islam berbicara tentang aturan kehidupan, sebagian orang mulai berkata: “Islam cukup di masjid.”

“Agama cukup menjadi urusan pribadi.”

“Jangan membawa syariat ke dalam kehidupan sosial dan kenegaraan.”

Di sinilah kontradiksinya.

Islam dipuji sebagai agama yang indah, tetapi aturan-Nya ditolak.

Al-Qur'an dikagumi sebagai kitab suci, tetapi petunjuknya dalam menegakkan keadilan dianggap tidak relevan.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dipuji sebagai manusia agung, tetapi tuntunan beliau dalam membangun masyarakat yang amanah, adil, dan bermartabat tidak sungguh-sungguh dijadikan pedoman.

Padahal Islam bukan sekadar simbol.
Islam bukan hanya identitas.
Islam bukan hanya ritual mingguan.
Islam adalah petunjuk Allah bagi kehidupan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُوْنَۗ وَمَنْ اَحْسَنُ مِنَ اللّٰهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ

Wahai Muhammad, apakah orang-orang yang menolak syari'at Allah menginginkan kamu menerapkan hukum jahiliyah bagi mereka? Siapakah yang hukumnya lebih baik daripada syari'at Allah bagi kaum yang beriman? (QS Al-Ma'idah (5) : 50)

Ayat ini menegaskan sebuah prinsip yang sangat mendasar:
Tidak ada hukum yang lebih sempurna daripada hukum Allah, karena tidak ada yang lebih mengetahui manusia daripada Penciptanya.

Manusia dapat membuat aturan, tetapi manusia memiliki kepentingan.

Manusia dapat merancang sistem, tetapi manusia memiliki keterbatasan.

Manusia dapat berbicara tentang keadilan, tetapi manusia juga dapat tergoda oleh kekuasaan, kekayaan, dan hawa nafsu.

Sedangkan Allah tidak memiliki kepentingan pribadi. Hukum-Nya tidak dibuat untuk menguntungkan kelompok tertentu. Syariat Allah datang untuk menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, kehormatan, dan harta manusia.

Karena itu, ketika manusia menolak petunjuk Allah dan menggantikannya dengan hawa nafsu, yang terjadi bukan kebebasan sejati.

Yang terjadi sering kali adalah perbudakan dalam bentuk baru.

2. kemerdekaan Hakiki adalah Bebas dari Perbudakan Manusia

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari bangsa asing. Sebab seseorang dapat hidup di negara merdeka, tetapi jiwanya masih diperbudak.

Diperbudak oleh hawa nafsunya.
Diperbudak oleh keserakahan.
Diperbudak oleh utang. Diperbudak oleh ketakutan kepada manusia.
Diperbudak oleh kekuasaan.
Diperbudak oleh sistem yang membiarkan yang kuat menguasai yang lemah.

Kemerdekaan hakiki adalah ketika manusia tidak lagi tunduk secara mutlak kepada manusia lain, tetapi tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Karena ketika manusia sama-sama tunduk kepada Allah, tidak ada manusia yang berhak menuhankan dirinya.

Tidak ada penguasa yang boleh merasa berada di atas hukum.

Tidak ada orang kaya yang boleh memperlakukan rakyat sebagai alat.

Tidak ada pejabat yang boleh menjadikan jabatan sebagai ladang memperkaya diri.

Tidak ada kelompok yang boleh memonopoli kekayaan bangsa untuk kepentingannya sendiri.

Di hadapan Allah, penguasa dan rakyat sama-sama hamba.
Yang membedakan hanyalah ketakwaan.
Karena itu, ketika ketundukan kepada Allah melemah, hawa nafsu manusia mengambil alih.

Dan ketika hawa nafsu mengambil alih, maka lahirlah kezaliman. Yang kuat ingin semakin kuat.

Yang kaya ingin semakin kaya.
Yang berkuasa ingin mempertahankan kekuasaan.
Yang memiliki akses ingin menutup pintu bagi orang lain.

Inilah sebabnya Al-Qur'an tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang keadilan, amanah, harta, perdagangan, kepemimpinan, hukum, dan tanggung jawab sosial.

3. Ketika Kekayaan hanya Berputar di Kalangan Tertentu

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Salah satu ukuran penting keadilan adalah bagaimana kekayaan dikelola dan didistribusikan.

Islam tidak memusuhi kekayaan.
Islam tidak melarang manusia menjadi kaya.

Tetapi Islam menolak kekayaan yang diperoleh dengan kezaliman dan menolak sistem yang menyebabkan kekayaan hanya berputar di kalangan tertentu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala mengingatkan:

«كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةًۢ بَيْنَ الْأَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْ»

Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Inilah prinsip ekonomi yang sangat besar.
Kekayaan tidak boleh hanya menjadi permainan elite.

Sumber daya negeri tidak boleh hanya menjadi jalan kemewahan segelintir orang.

Pembangunan tidak boleh hanya menghasilkan gedung-gedung megah sementara rakyat kecil semakin sulit memperoleh kehidupan yang layak.

Kemajuan tidak boleh hanya diukur dari angka-angka pertumbuhan, tetapi harus dirasakan oleh masyarakat.

Sebab sebuah bangsa dapat terlihat makmur dari statistik, tetapi rakyatnya belum tentu merasakan kesejahteraan.

Sebuah negara dapat memiliki proyek-proyek besar, tetapi keadilan belum tentu hadir.

Sebuah negeri dapat kaya sumber daya, tetapi rakyatnya tetap miskin apabila kekayaan itu tidak dikelola dengan amanah dan keadilan.

Di sinilah pentingnya syariat sebagai sistem nilai.
Islam mengajarkan zakat agar kekayaan memiliki fungsi sosial.

Islam mengajarkan larangan riba agar manusia tidak dijadikan objek penghisapan.
Islam melarang penipuan dan monopoli yang zalim.

Islam mewajibkan amanah bagi pemimpin.

Islam memerintahkan keadilan dalam hukum.

Islam melarang korupsi dan pengkhianatan terhadap amanah.

Maka sungguh aneh apabila Islam dipuji sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin, tetapi prinsip-prinsip keadilannya dianggap tidak boleh berbicara dalam urusan kehidupan bersama.

4. Penderitaan Rakyat Bukan Sekadar Masalah Ekonomi

Kaum Muslimin rahimakumullah,

Kita harus memahami bahwa penderitaan masyarakat tidak selalu lahir semata-mata karena kurangnya kekayaan.

Masalah terbesar adalah rusaknya amanah dalam mengelola kekayaan.

Korupsi bukan hanya kejahatan terhadap uang negara.
Korupsi adalah pengkhianatan terhadap rakyat.

Ketidakadilan bukan sekadar persoalan hukum.
Ketidakadilan adalah kerusakan moral.

Keserakahan bukan sekadar kelemahan ekonomi.
Keserakahan adalah penyakit jiwa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Kerusakan di darat dan di laut adalah akibat perilaku buruk manusia sendiri. Allah menimpakan adzab kepada manusia akibat dari sebagian keburukan yang mereka lakukan. Dengan adanya adzab itu semoga mereka mau bertaubat kepada Allah. (QS Ar-Rum (30) : 41)

Ayat ini harus menjadi bahan muhasabah.
Jangan-jangan kerusakan yang kita rasakan bukan karena Allah tidak memberikan nikmat kepada negeri ini.

Bukan karena negeri ini tidak memiliki potensi.
Bukan karena rakyat tidak bekerja keras.
Tetapi karena amanah tidak dijaga.

Karena keadilan diperjualbelikan.
Karena kekuasaan dipisahkan dari rasa takut kepada Allah.

Karena keserakahan dibiarkan tumbuh.
Karena manusia ingin menikmati hasil kemerdekaan, tetapi tidak mau memikul tanggung jawab moral dari kemerdekaan itu.

5. Jangan Hanya Mengagumi Islam, Tundukkan Kehidupan kepada Nilainya.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Inilah pesan yang harus kita renungkan:

Mengagumi Islam belum tentu berarti tunduk kepada Islam.

Seseorang dapat kagum kepada Al-Qur'an, tetapi belum tentu menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman.

Seseorang dapat menangis ketika mendengar kisah Nabi, tetapi belum tentu siap meneladani keberanian beliau dalam menegakkan kebenaran.

Seseorang dapat mencintai simbol Islam, tetapi belum tentu mencintai keadilan yang diperintahkan Islam.

Padahal Allah tidak hanya meminta kekaguman.
Allah meminta ketaatan.
Allah tidak hanya meminta pujian.
Allah meminta ketundukan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Wahai kaum mukmin, ikutilah syari'at Islam itu seluruhnya. Janganlah kalian mengikuti bujukan-bujukan setan. Sungguh setan itu adalah musuh kalian yang nyata-nyata merugikan kalian. (QS Al-Baqarah (2) : 208)

Islam harus melahirkan pribadi yang jujur.

Islam harus melahirkan keluarga yang sakinah.

Islam harus melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang.

Islam harus melahirkan pemimpin yang amanah.

Sebab cita-cita besar sebuah bangsa tidak akan berdiri di atas kebohongan.

Negara yang kuat tidak dibangun oleh slogan semata.

Negara yang makmur tidak cukup dibangun oleh proyek.

Peradaban yang besar tidak tegak hanya dengan kemajuan teknologi.

Semua itu membutuhkan manusia-manusia yang takut kepada Allah.

Individu yang shalih.
Keluarga yang sakinah.
Masyarakat yang marhamah.
Pemimpin yang amanah.

Inilah fondasi bagi negeri yang diberkahi.

  1. Kemerdekaan Harus Melahirkan Negeri yang Baik dan Mendapat Ampunan

Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkan negeri yang ideal dengan firman-Nya:

«بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ»

“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba': 15)

Inilah yang seharusnya menjadi arah perjalanan bangsa.

Bukan sekadar negeri yang kaya, tetapi negeri yang baik.

Bukan sekadar negara yang kuat, tetapi negara yang adil.

Bukan sekadar pembangunan yang tinggi, tetapi pembangunan yang membawa kemaslahatan.

Bukan sekadar pemimpin yang cerdas, tetapi pemimpin yang amanah.

Bukan sekadar rakyat yang produktif, tetapi rakyat yang memiliki akhlak dan ketakwaan.

Karena kemerdekaan tanpa keadilan dapat berubah menjadi kebebasan bagi yang kuat untuk menindas yang lemah.

Kekuasaan tanpa iman dapat berubah menjadi alat kesewenang-wenangan.

Kekayaan tanpa akhlak dapat berubah menjadi sumber keserakahan.

Dan hukum tanpa keadilan hanya akan melahirkan ketakutan, bukan ketenteraman.

Maka, kemerdekaan sejati harus mengantarkan bangsa kepada ketaatan kepada Allah, bukan kepada semakin bebasnya manusia mengikuti hawa nafsu.

Baarakallahu li wa lakum fil Qur'anil ‘azhim, wa nafa'ani wa iyyakum bima fihi minal ayati wadz-dzikril hakim.

Wa taqabbala minni wa minkum tilawatahu, innahu huwas-sami'ul ‘alim.

A'udzu billahi minasy-syaithanir-rajim.

KHUTBAH KEDUA

Alhamdulillahi hamdan katsiran kama amara. Wa asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarika lah, irghaman liman jahada bihi wa kafara. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh, sayyidul basyari wa syafi'ul umami yaumal mahsyari.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala nabiyyina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man tabi'ahum bi ihsanin ila yaumid-din.

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di penghujung khutbah ini, mari kita kembali merenungkan makna kemerdekaan.

Kemerdekaan adalah amanah.

Amanah dari Allah.

Amanah yang diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa.

Amanah yang tidak boleh diwariskan dalam keadaan rusak kepada generasi berikutnya.

Karena itu, ada beberapa hal yang harus kita lakukan.

Pertama, perkuat kepedulian sosial.

Jangan biarkan kemerdekaan hanya dirasakan oleh mereka yang kuat.

Bantulah saudara-saudara kita yang kesulitan.

Perhatikan tetangga yang membutuhkan.

Jangan biarkan kesenjangan membuat kita kehilangan rasa kemanusiaan.

Sebab orang beriman tidak boleh hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Kedua, tegakkan amanah dalam setiap posisi.

Jika kita menjadi pemimpin, jangan khianati rakyat.

Jika kita menjadi pegawai, jangan khianati pekerjaan.

Jika kita menjadi pedagang, jangan menipu.

Jika kita menjadi orang kaya, jangan sombong dan menutup mata terhadap penderitaan.

Jika kita memiliki ilmu, gunakan untuk kemaslahatan.

Setiap amanah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Ketiga, jangan hanya mencintai Islam sebagai simbol.

Mari kita cintai keadilan Islam.

Mari kita cintai amanah Islam.

Mari kita cintai kejujuran Islam.

Mari kita cintai kepedulian sosial Islam.

Dan mari kita berusaha menundukkan seluruh kehidupan kita kepada nilai-nilai yang diridhai Allah.

Sebab bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak slogan.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak kejujuran.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara.

Bangsa ini membutuhkan pemimpin yang takut kepada Allah.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan pertumbuhan ekonomi.

Bangsa ini membutuhkan keadilan.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan kemerdekaan secara politik.

Bangsa ini membutuhkan kemerdekaan jiwa: merdeka dari keserakahan, dari korupsi, dari kezaliman, dari pengkhianatan amanah, dan dari penghambaan kepada hawa nafsu.

Semoga Allah memperbaiki keadaan bangsa kita.

Semoga Allah menyelamatkan negeri ini dari kezaliman.

Semoga Allah mengangkat pemimpin-pemimpin yang amanah.

Semoga Allah memberikan keberanian kepada rakyat untuk menegakkan kebenaran.

Dan semoga kemerdekaan negeri ini benar-benar mengantarkan kita menuju negeri yang adil, makmur, bermartabat, dan mendapat keberkahan Allah.

Yogyakarta, 21 Agustus 2026

Editor: Ameera