WASHINGTON (Arrahmah.id) — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran telah menyetujui untuk menyerahkan stok uranium yang diperkaya, sebuah langkah yang dinilainya sebagai sinyal kuat menuju kesepakatan damai setelah enam pekan konflik.
Dilansir Aljazeera, Trump menyampaikan pernyataan tersebut kepada wartawan di halaman Gedung Putih, Kamis (16/4/2026), dengan nada optimistis terhadap peluang tercapainya kesepakatan.
"Mereka setuju mengembalikan 'debu nuklir' kepada kami," ujar Trump, menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada uranium yang telah diperkaya.
"Ada peluang sangat besar kita akan mencapai kesepakatan. Iran hampir menyetujui segalanya," tambahnya.
Ia juga menilai adanya perubahan sikap dari para pemimpin di Teheran. "Ada pemimpin di Iran saat ini yang berpikir rasional. Mereka siap melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan," katanya.
Meski demikian, Trump tetap melontarkan tudingan keras terhadap pemerintah Iran, termasuk mengaitkannya dengan isu penindasan terhadap demonstran serta ancaman kepemilikan senjata nuklir.
"Kami tidak akan pernah mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir. Jika itu terjadi, dunia akan berada dalam bahaya besar," tegasnya.
Blokade Militer dan Ancaman Perang Kembali
Trump juga menyinggung situasi militer di kawasan, khususnya di Selat Hormuz, yang disebutnya berada di bawah pengawasan ketat Angkatan Laut AS.
"Angkatan laut kami melakukan pekerjaan luar biasa di Selat Hormuz. Blokade terhadap pelabuhan Iran berjalan kuat dan kami membuat kemajuan besar," ujarnya.
Namun, di balik optimisme tersebut, Trump tetap membuka kemungkinan kembalinya perang jika diplomasi gagal.
"Jika kami tidak mencapai kesepakatan dengan Iran, maka pertempuran akan dilanjutkan," katanya.
Ia menambahkan bahwa perpanjangan gencatan senjata masih mungkin dilakukan, meskipun berharap kesepakatan damai dapat segera tercapai tanpa perlu perpanjangan.
Rencana Pertemuan Bersejarah: Lebanon dan "Israel"
Dalam perkembangan lain, Trump mengumumkan rencana pertemuan politik besar yang melibatkan Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Pertemuan tersebut, menurut Trump, kemungkinan akan digelar di Gedung Putih dalam beberapa hari ke depan.
"Akan ada pertemuan antara Lebanon dan Israel, kemungkinan di Gedung Putih dalam empat atau lima hari ke depan. Ini akan menjadi pertemuan pertama dalam 40 tahun," ujarnya.
Ia juga mengklaim telah melakukan komunikasi intensif dengan kedua pemimpin tersebut, serta menyebut adanya kesepakatan gencatan senjata yang akan segera berlaku antara kedua pihak.
Trump menegaskan bahwa gencatan senjata tersebut mencakup Hizbullah, di tengah konflik berkepanjangan di Lebanon selatan.
Selain itu, Washington juga berjanji akan terus mendukung tentara Lebanon, serta membuka kemungkinan kunjungan resmi Trump ke Lebanon di masa mendatang.
"Kami akan terus mendukung tentara Lebanon, dan saya akan mengunjungi Lebanon pada waktu yang tepat," katanya.
Diketahui, sejak awal Maret lalu, agresi "Israel" terhadap Lebanon telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan lebih dari satu juta warga mengungsi, menurut data resmi pemerintah setempat.
Di tengah eskalasi yang belum sepenuhnya mereda, pernyataan Trump membuka dua kemungkinan sekaligus: jalan menuju perdamaian, atau justru babak baru konflik yang lebih luas.
(Samirmusa/arrahmah.id)
