Memuat...

AS Resmi Akhiri Operasi Militer di Suriah, Pangkalan Terakhir Diserahkan ke Damaskus

Zarah Amala
Jumat, 17 April 2026 / 29 Syawal 1447 08:10
AS Resmi Akhiri Operasi Militer di Suriah, Pangkalan Terakhir Diserahkan ke Damaskus
Penarikan pasukan AS dari pangkalan Qasrak mengakhiri kehadiran mereka di Suriah sebagai bagian dari koalisi internasional melawan ISIS (Getty)

DAMASKUS (Arrahmah.id) - Sebuah era baru dalam peta geopolitik Timur Tengah dimulai pada rilis resmi rilis resmi musim semi 2026. Amerika Serikat secara resmi menyelesaikan penarikan seluruh pasukan militernya dari Suriah, mengakhiri satu dekade kehadiran bersenjata yang telah mendefinisikan ulang keseimbangan kekuatan di wilayah tersebut.

Pangkalan militer Qasrak, yang terletak strategis di jalan tol internasional M4, menjadi titik terakhir yang dikosongkan pada Kamis (16/4/2026). Puluhan truk militer AS terlihat bergerak meninggalkan pangkalan menuju perbatasan Irak, menandai berakhirnya kendali Washington atas jalur penghubung vital antar-provinsi di Suriah Utara.

Kronologi Penarikan Akhir

Proses "pembersihan" kehadiran militer AS berlangsung sangat cepat sejak awal 2026. Februari 2026: Penyerahan pangkalan kuncian Al-Shaddadi di Timur Laut Suriah serta pangkalan strategis Al-Tanf di perbatasan segitiga Suriah-Yordania-Irak kepada pasukan pemerintah Suriah. Maret 2026: Pangkalan Rmeilan di Al-Hasakah diserahkan setelah fungsinya diubah dari basis tempur menjadi pusat logistik dan intelijen. April 2026: Pangkalan Qasrak resmi dikosongkan sebagai penutup misi militer.

Penarikan ini bukan sekadar manuver lapangan, melainkan penerapan praktis dari doktrin baru Washington yang disebut Nol Komitmen. Analis melihat langkah ini sebagai upaya Presiden Donald Trump untuk fokus pada kekuatan besar, mengalihkan sumber daya militer dan intelijen dari konflik regional Timur Tengah menuju persaingan strategis utama dengan Tiongkok dan Rusia. Menghilangkan beban finansial dan logistik dari kehadiran militer darat yang tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan vital bagi keamanan nasional AS. Mengganti kehadiran fisik dengan kemitraan keamanan dan fokus pada investasi sektor minyak dan gas sesuai prinsip America First.

Meski Washington mengeklaim kemenangan atas ISIS, penarikan ini meninggalkan celah keamanan yang mengkhawatirkan. Laporan PBB pada Februari 2026 mengonfirmasi bahwa sel-sel tidur ISIS mulai aktif kembali di berbagai kota besar, termasuk Damaskus.

Kekhawatiran utama muncul dari runtuhnya sistem pemantauan milisi. Integrasi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) ke dalam militer pemerintah Suriah dianggap berisiko merusak jaringan intelijen mendalam yang telah dibangun AS selama satu dekade dalam melacak sel-sel teroris yang kini bekerja lebih tertutup.

Langkah Washington untuk pergi didorong oleh kesepakatan integrasi antara pasukan SDF (mitra lokal AS sebelumnya) dengan pemerintah Suriah. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam konferensi keamanan di Munich, melakukan pertemuan diplomatik yang sebelumnya mustahil dengan pejabat Suriah, menandakan dukungan AS terhadap struktur keamanan baru ini untuk mengisi kekosongan kekuasaan.

Penarikan di musim semi 2026 ini menutup babak panjang keterlibatan AS di Suriah, meninggalkan ujian besar bagi pemerintah Damaskus dan aliansi lokal untuk membuktikan apakah mereka mampu menjaga stabilitas tanpa dukungan militer langsung dari Gedung Putih. (zarahamala/arrahmah.id)