Memuat...

Lawan Trauma Perang, Keluarga Al-Najjar Gelar Nikah Massal 50 Pasangan di Khan Yunis

Zarah Amala
Sabtu, 23 Mei 2026 / 7 Zulhijah 1447 10:45
Lawan Trauma Perang, Keluarga Al-Najjar Gelar Nikah Massal 50 Pasangan di Khan Yunis
50 pasangan pengantin dari keluarga besar Al-Najjar melangsungkan pernikahan massal di Khan Yunis (Foto: tangkapan video)

KHAN YUNIS (Arrahmah.id) - Di tengah situasi darurat dan sisa-sisa kehancuran perang yang melanda Jalur Gaza, sebuah pemandangan langka berupa suka cita pernikahan muncul di area pengungsian Al-Mawasi, Khan Yunis. Sebanyak 50 pasangan pengantin dari klan (keluarga besar) Al-Najjar melangsungkan pernikahan massal sebagai simbol keteguhan hati dan pesan perlawanan psikologis untuk terus melanjutkan kehidupan.

Kepala Keluarga Besar Al-Najjar, Mohammad Al-Najjar, mengungkapkan bahwa inisiatif ini bukan sekadar perayaan sosial biasa, melainkan pesan tegas kepada dunia luar bahwa bangsa Palestina adalah masyarakat yang mencintai kehidupan. Penegasan ini muncul setelah keluarga besar tersebut dilaporkan kehilangan 200 anggotanya akibat rangkaian operasi militer 'Israel' di wilayah kantong tersebut.

Al-Najjar menambahkan bahwa blokade, pengusiran massal, serta krisis pangan tidak akan mampu mencabut akar eksistensi warga Palestina dari tanah mereka. Melalui pernikahan massal ini, mereka berkomitmen untuk terus membangun institusi keluarga baru dan melahirkan generasi penerus yang akan menjaga tanah air mereka.

"Ini adalah pernikahan massal pertama yang diinisiasi oleh keluarga besar Al-Najjar dan dipastikan bukan yang terakhir. Kami berharap langkah ini menjadi role model (contoh) yang diikuti oleh keluarga-keluarga besar lainnya di Gaza untuk menghadirkan secercah kebahagiaan di hati warga yang telah kelelahan akibat perang panjang," ujar Mohammad Al-Najjar kepada Al Jazeera Mubasher.

Meskipun dihadapkan pada krisis ekonomi yang mencekik akibat perang, agenda pernikahan massal ini berhasil terealisasi berkat tingginya asas gotong royong dan solidaritas finansial antar-anggota keluarga besar. Seluruh elemen klan Al-Najjar bersatu padu mengumpulkan sumber daya yang tersisa untuk membantu para pemuda memulai lembaran hidup baru.

Di tengah hilangnya tempat tinggal akibat hancurnya infrastruktur kota, pihak keluarga bergotong royong mendirikan tenda-tenda penampungan khusus sebagai tempat tinggal sementara bagi para pasangan baru.

Pihak otoritas keluarga secara sadar memutuskan untuk tidak menetapkan mahar (mas kawin) yang tinggi. Kebijakan ini didasarkan pada prinsip kemudahan pernikahan dalam syariat Islam dan norma sosial, agar tidak membebani para pemuda di masa krisis.

Warga di wilayah pengungsian Gaza saat ini dilaporkan masih harus berjuang menghadapi kelangkaan air bersih, bahan bakar, serta fasilitas medis yang parah. Kendati demikian, upaya kolektif untuk mencari ruang kebahagiaan dan memelihara sendi-sendi kehidupan sosial terus dilakukan oleh warga lokal guna menjaga kesehatan mental dan harapan di tengah bayang-bayang perang yang masih membayangi wilayah tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)