YERUSALEM (Arrahmah.id) - Kompleks Masjidil Aqsha di Yerusalem Timur yang diduduki menjadi saksi insiden penerobosan yang disebut oleh Pemerintah Kegubernuran Yerusalem sebagai aksi yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya. Sebanyak sembilan pemukim 'Israel' berhasil memasuki halaman masjid dengan membawa sesajen yang dikenal sebagai sesaji roti. Otoritas setempat menyatakan insiden ini adalah yang pertama kalinya terjadi sejak pendudukan kota Yerusalem pada 1967.
Jurnalis lokal, Mohammad Samrin, melaporkan aksi penerobosan mendadak ini sempat memicu kepanikan di kalangan jemaah, terlebih karena para pemukim berhasil mencapai pelataran Kubah Batu (Dome of the Rock), wilayah yang sangat dekat dengan tempat shalat jemaah wanita.
Insiden tersebut terjadi di waktu shalat Ashar, salah satu waktu puncak jemaah pada Jumat (22/5/2026). Kondisi halaman masjid yang saat itu tengah dipadati oleh para jemaah, termasuk wanita dan anak-anak, langsung berubah menjadi tegang dan panik.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun, kelompok pemukim tersebut masuk secara tiba-tiba dan cepat melalui Gerbang Al-Ghawanimah yang terletak di sudut barat laut Masjidil Aqsha. Mereka memanfaatkan elemen kejutan sebelum para penjaga (sadin/guards) masjid sempat menghadang mereka.
Dua petugas penjaga Masjidil Aqsha dilaporkan terluka akibat diserang secara fisik saat mencoba menghentikan pergerakan para pemukim di dalam halaman kompleks.
Polisi 'Israel' akhirnya melakukan intervensi untuk mengeluarkan para pemukim tersebut dari area masjid. Laporan setempat menyebutkan bahwa mereka kemudian dibawa ke salah satu kantor polisi di dalam Kota Tua Yerusalem.
Dalam aksinya, para pemukim berhasil membawa masuk sesaji tanaman yang berkaitan dengan perayaan Yahudi "Hari Turunnya Taurat" (Shavuot). Sesaji tersebut berupa potongan-potongan roti yang diberi bercak darah untuk digunakan dalam ritual keagamaan mereka.
Jurnalis Mohammad Samrin menjelaskan bahwa insiden pada Jumat ini sangat berbeda dari pola penerobosan yang biasa terjadi selama ini. Penerobosan biasanya dilakukan secara resmi melalui Gerbang Al-Mughrabi di bawah pengawalan ketat polisi 'Israel', bukan menyelinap melalui Gerbang Al-Ghawanimah.
Secara aturan status quo, kelompok pemukim tidak diizinkan masuk ke kompleks Masjidil Aqsha pada Jumat dan Sabtu. Keberhasilan memasukkan atribut ritual berupa sesaji makanan ke dalam halaman masjid dinilai sebagai eskalasi pelanggaran yang sangat serius.
Penerobosan ini sendiri terjadi beberapa hari setelah adanya seruan masif dari kelompok-kelompok ekstremis Yahudi, yang dikenal sebagai organisasi Temple Mount organizations, yang mendesak para pengikutnya untuk mengintensifkan masuknya umat Yahudi ke kompleks Muslim tersebut.
Hingga saat ini, kondisi di dalam Masjidil Aqsha dilaporkan masih diselimuti ketegangan. Situasi diperparah oleh pembatasan ketat dan tindakan preventif yang diterapkan oleh kepolisian 'Israel' terhadap warga Palestina yang hendak beribadah, termasuk pemeriksaan fisik yang ketat, penahanan kartu identitas (KTP), serta pendirian barikade militer di berbagai gerbang masuk masjid. (zarahamala/arrahmah.id)
