Memuat...

Lebanon Menuduh "Israel" Membakar Hutan dan Lahan Pertanian di Wilayah Selatan

Hanin Mazaya
Rabu, 26 Agustus 2026 / 14 Rabiulawal 1448 18:51
Lebanon Menuduh "Israel" Membakar Hutan dan Lahan Pertanian di Wilayah Selatan
(Foto: AFP)

BEIRUT (Arrahmah.id) - Di tengah gelombang panas ekstrem yang memicu kebakaran hutan di seluruh dunia musim panas ini, para pejabat dan warga Lebanon menuduh militer "Israel" secara sistematis memicu kebakaran yang telah menghanguskan hamparan luas hutan dan lahan pertanian di wilayah selatan negara itu.

Di desa Shaqra, Haidar Qoteish (36 tahun) mengatakan ia telah menyaksikan api melalap ladang dan kebun buah di kampung halamannya, Hula—yang berjarak hanya lima kilometer namun berada di bawah kendali militer Israel.

"Mereka membakar segalanya. Anda bisa melihat ladang-ladang itu kini hangus menghitam," ujar ayah empat anak tersebut kepada AFP melalui telepon.

"Lahan yang tidak mereka bakar, mereka ratakan dengan buldoser," katanya. "Ini kerugian besar, dan tidak ada yang bisa kami lakukan."

Dewan Nasional untuk Penelitian Ilmiah (CNRS) Lebanon menyatakan bahwa aktivitas militer "Israel" telah menyebabkan kebakaran pada lahan seluas 160 kilometer persegi—separuhnya merupakan lahan pertanian—sejak permusuhan antara Israel dan Hizbullah meletus pada Oktober 2023.

Gelombang pertempuran terbaru memuncak pada bulan Maret ketika kelompok militan yang didukung Iran tersebut menyeret Lebanon ke dalam konflik Timur Tengah dengan menyerang "Israel", yang kemudian memicu serangan udara besar-besaran dan invasi darat oleh "Israel".

Seorang fotografer AFP bulan ini menyaksikan sejumlah kebakaran hebat di Lebanon selatan, sebagian besar terjadi di dalam wilayah yang secara sepihak dinyatakan Israel sebagai "zona keamanan"; zona ini membentang sekitar 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon di sepanjang perbatasan.

Kebijakan 'bumi hangus'

Meskipun permusuhan sempat mereda sejak Juni dan tercapai kesepakatan antara "Israel" dan Lebanon pada bulan tersebut, "Israel" masih terus membombardir wilayah selatan dan menghancurkan desa-desa di perbatasan.

Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menuduh "Israel" menerapkan kebijakan "bumi hangus" di wilayah selatan.

Militer "Israel" mengatakan kepada biro AFP di Yerusalem bahwa mereka "menyadari potensi dampak lingkungan dari operasi mereka," yang menurut mereka "dilakukan dengan langkah-langkah pencegahan untuk meminimalkan dampak buruk terhadap warga sipil dan lingkungan."

Hussein Fakih, kepala badan pertahanan sipil untuk wilayah Nabatieh, mengatakan bahwa sejak Juli, timnya telah mengamati kebakaran baik di dalam maupun di dekat area tempat pasukan "Israel" ditempatkan.

Ia mengatakan kepada AFP bahwa kebakaran tersebut dipicu oleh "bom dan pesawat nirawak" (drone) "Israel", serta terkadang oleh peluru fosfor pembakar dan munisi tandan (cluster munitions).

Di Kfarshuba, wilayah yang berbatasan langsung dengan zona keamanan "Israel", Wali Kota Qassem Al-Qadri mengatakan bahwa serangan "Israel" bulan ini memicu kebakaran yang meluas ke area yang sebagian besar berupa hutan.

Ia menuturkan bahwa warga berupaya keras memadamkan api sendiri sembari menunggu izin dari militer "Israel" agar petugas pemadam kebakaran dapat mengakses lokasi tersebut, sesuai dengan mekanisme pemantauan gencatan senjata.

Mereka baru mendapatkan izin "pada keesokan harinya, saat api telah menghanguskan segalanya," ujar Fakih dari badan pertahanan sipil.

Warga Kfarshuba yang memiliki properti di dekat posisi militer "Israel" merasa takut untuk melakukan langkah-langkah pencegahan kebakaran, seperti membersihkan semak belukar, kata sang wali kota.

"Mereka berbicara tentang 'zona keamanan', namun kami tidak tahu di mana batas-batas (pastinya) berada," tambah Qadri.

"Kami merasa seolah-olah seluruh wilayah ini berada di bawah kendali 'Israel'."

'Ekosida'

Menteri Lingkungan Hidup Tamara Elzein mengecam apa yang disebutnya sebagai "ekosida" di wilayah selatan, seraya menuduh militer "Israel" sengaja membakar lahan Lebanon dalam skala luas.

Direktur CNRS, Chadi Abdallah, mengatakan kepada AFP bahwa kebakaran sebelumnya "terbatas pada jalur perbatasan" selama masa permusuhan tahun 2023-2024, namun cakupannya meluas sejak konflik kembali memanas tahun ini.

Ia menuduh militer "Israel" membakar lahan secara sistematis dan "berupaya menciptakan zona penyangga yang bebas dari permukiman, penduduk, maupun lingkungan alam."

"Selama perang sebelumnya, sekitar 8.500 hektare (85 kilometer persegi) lahan terbakar," kata Abdallah, sementara tahun ini, pihak "Israel" telah membakar sekitar 7.500 hektare, termasuk 350 hektare setelah kesepakatan bulan Juni.

Citra satelit CNRS memperlihatkan area yang dulunya hijau kini telah lenyap akibat kebakaran, serta akibat tindakan "Israel" yang meratakan lahan dengan buldoser dan mencabut vegetasi.

Kantor berita negara Lebanon, National News Agency, melaporkan bulan ini bahwa pasukan "Israel" telah mencabut 600 pohon zaitun di satu desa di wilayah selatan saja. Kelompok lingkungan hidup Lebanon, Green Southerners, menyatakan telah mencatat kerusakan luas pada hutan, kawasan pepohonan, dan lahan pertanian sejak tahun 2023.

Bulan ini, kelompok tersebut memperingatkan bahwa "cagar alam utama di Lebanon selatan juga telah mengalami kerusakan parah dan berulang."

Di Shaqra, Qoteish menyayangkan hilangnya kelestarian lingkungan tersebut.

"Rumah yang hancur mungkin bisa dibangun kembali dalam setahun, tetapi pepohonan tidak tumbuh kembali" secepat itu, ujarnya.  (haninmazaya/arrahmah.id)