Memuat...

Mantan Pejabat Intelijen AS Bongkar: “Israel” Dalang Perang Iran, Ancaman Nuklir Hanya Dalih

Samir Musa
Kamis, 19 Maret 2026 / 30 Ramadan 1447 14:40
Mantan Pejabat Intelijen AS Bongkar: “Israel” Dalang Perang Iran, Ancaman Nuklir Hanya Dalih
Tucker Carlson (kanan) melakukan wawancara pertama dengan Kent setelah pengunduran dirinya dari jabatan Direktur Pusat Nasional Kontra-Terorisme Amerika Serikat (Reuters).

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Dalam penampilan pertamanya setelah mengundurkan diri, mantan Direktur Pusat Nasional Kontra-Terorisme Amerika Serikat, Joe Kent, melontarkan tudingan keras terhadap “Israel” dan lobi pendukungnya di Washington, yang menurutnya menjadi pendorong utama konfrontasi dengan Iran.

Dalam wawancara bersama jurnalis Amerika Tucker Carlson, Kent menegaskan bahwa ancaman nuklir Iran telah dilebih-lebihkan untuk membenarkan eskalasi militer.

Ia menyebut bahwa keputusan menuju konflik dengan Iran “didorong dari pihak ‘Israel’”, meskipun telah diketahui sebelumnya bahwa langkah tersebut akan memicu respons keras dan eskalasi luas dari Teheran.

Kent juga mengungkap bahwa “Israel” bertindak dengan asumsi bahwa Amerika Serikat pada akhirnya akan terseret ke dalam perang demi membela dan melindunginya.

Lebih jauh, ia mengaku bahwa dirinya bersama sejumlah pejabat lain yang menentang perang dilarang menyampaikan kekhawatiran mereka langsung kepada Presiden Donald Trump, meski tidak menjelaskan siapa yang menghalangi akses tersebut.

Kent merupakan mantan tentara yang bertugas selama 20 tahun, dan diangkat oleh Trump ke jabatan yang ia undurkan diri darinya pada Selasa lalu (Associated Press).

Tidak Ada Ancaman Nuklir

Kent secara tegas membantah bahwa Iran berada di ambang kepemilikan senjata nuklir.

Ia menegaskan bahwa tidak ada indikasi intelijen yang menunjukkan bahwa Teheran hampir mengembangkan bom nuklir, baik sebelum perang maupun sebelum serangan Amerika terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.

Menurutnya, Iran juga tetap berpegang pada fatwa tahun 2004 yang melarang pengembangan senjata nuklir.

Kent bahkan menilai bahwa pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tidak melemahkan rezim, melainkan justru memperkuat kelompok garis keras di dalamnya.

Ia menambahkan bahwa kepemimpinan Iran telah mengantisipasi skenario kehilangan pemimpin tertinggi tanpa mengguncang stabilitas sistem secara keseluruhan.

Bandingkan dengan Perang Irak

Dalam pernyataan pengunduran dirinya, Kent menegaskan bahwa Iran tidak pernah menjadi ancaman langsung bagi Amerika Serikat, dan perang ini merupakan hasil tekanan “Israel” serta lobi-lobi pro-“Israel” di Washington.

Ia memperingatkan bahwa keputusan tersebut berpotensi menjadi langkah “katastrofik” yang mengingatkan pada perang Irak.

“Mengirim tentara Amerika ke perang yang tidak melayani kepentingan rakyat adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan,” tegasnya.

Guncangan di Gedung Putih

Pengunduran diri Kent — yang disebut sebagai pejabat tertinggi yang mundur sejak perang dimulai — memicu kejutan di internal Gedung Putih, meski pihak pemerintah berupaya meremehkannya.

Presiden Trump menyatakan bahwa setelah membaca surat pengunduran diri tersebut, ia merasa bahwa kepergian Kent adalah “hal yang baik”.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyebut insiden tersebut sebagai “memalukan dan menggelikan”, sekaligus mencoba mengurangi peran Kent dalam lingkaran pengambilan keputusan.

Namun di sisi lain, Kent justru mendapatkan dukungan dari sejumlah tokoh politik yang menentang perang, di tengah meningkatnya kritik publik di Amerika terhadap keterlibatan militer di luar negeri.

Ketegangan Memuncak

Perkembangan ini terjadi saat perang memasuki pekan ketiga, dengan kekhawatiran meluas terhadap dampak regional dan ekonomi.

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz serta lonjakan harga minyak memperburuk situasi, sementara tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat terus meningkat.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda konflik akan mereda.

(Samirmusa/arrahmah.id)