BOGOTA (Arrahmah.id) — Mantan Presiden Kolombia Gustavo Petro melontarkan kecaman keras terhadap Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu. Ia menilai upaya membuka kembali hubungan dengan "Israel" di bawah pemerintahan Netanyahu sama dengan "bertepuk tangan atas genosida".
Dilansir dari Al Jazeera, Sabtu (23/8/2026), pernyataan tersebut disampaikan Petro melalui sebuah video yang dibagikan di akun media sosial resminya. Ia kembali menegaskan dukungannya terhadap perjuangan Palestina sekaligus memperingatkan dampak sikap diam masyarakat internasional terhadap tragedi di Jalur Gaza yang disebutnya sebagai "holokaus baru".
Petro Soroti Korban Anak-anak di Gaza
Petro menyebut besarnya jumlah korban di Gaza sebagai gambaran skala tragedi kemanusiaan yang terjadi. Ia mengklaim sekitar 75.000 orang telah terbunuh, termasuk 22.000 bayi dan anak-anak. Menurutnya, 60 persen korban merupakan perempuan dan anak-anak Palestina.
"Mereka hanya ingin hidup dan mereka memiliki hak untuk itu," ujar Petro.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Kolombia tidak seharusnya menerima tindakan yang menurutnya merupakan genosida.
"Tidak ada laki-laki atau perempuan terhormat di Kolombia yang dapat menerima tepuk tangan atas genosida," katanya.
Petro juga mengaitkan penderitaan rakyat Palestina dengan sejarah kekerasan di Kolombia. Ia mengingatkan bahwa negaranya mengalami kekerasan besar sejak 9 April 1948 yang menewaskan sekitar 700.000 orang.
Menurut Petro, pengalaman tersebut seharusnya membuat Kolombia memahami penderitaan rakyat Palestina. Ia juga memperingatkan bahwa impunitas dapat membuka jalan bagi terjadinya tragedi kemanusiaan baru.
Petro menolak tuduhan bahwa sikapnya merupakan bentuk antisemitisme. Ia mengatakan dirinya mengakui hak "Israel" untuk berdiri berdasarkan kesepakatan perdamaian bersejarah yang dimediasi Amerika Serikat.
Namun, ia menekankan bahwa batas-batas yang telah disepakati harus dihormati.
Di akhir pesannya, Petro menyerukan agar Palestina diberikan kedaulatan penuh. Menurutnya, rakyat Palestina berhak memiliki negara merdeka karena akar sejarah mereka di wilayah tersebut telah berlangsung sejak masa lampau.
Pemerintahan Baru Kolombia Pulihkan Hubungan
Pernyataan Petro muncul ketika pemerintahan baru Kolombia mulai membalikkan sejumlah kebijakan luar negeri yang diterapkan pemerintahannya.
Pada Jumat, pemerintah Kolombia memutuskan kembali mengekspor batu bara ke "Israel" setelah kebijakan tersebut dihentikan oleh pemerintahan Petro.
Keputusan itu diambil sekitar dua pekan setelah Presiden baru Abelardo de la Espriela dari kubu kanan keras mulai menjabat.
Selama kampanye, De la Espriela berjanji memperkuat hubungan dengan "Israel", yang selama ini menjadi salah satu mitra penting Kolombia dalam bidang keamanan dan perdagangan.
Tidak lama setelah dilantik pada 7 Agustus 2026, De la Espriela juga mengakui kedaulatan "Israel" atas Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki sejak 1967. Ia turut menyatakan rencana membuka kedutaan Kolombia di Yerusalem.
Menteri Luar Negeri "Israel" Gideon Sa'ar menyambut langkah tersebut. Ia menyebut Kolombia sebelumnya merupakan salah satu "sahabat terbesar Israel" dan mengatakan hubungan kedua negara akan kembali lebih kuat.
Sebaliknya, Petro memutuskan hubungan dengan "Israel" pada 2024 dan menghentikan ekspor batu bara ke negara tersebut sebagai bentuk protes terhadap apa yang ia sebut sebagai genosida di Jalur Gaza.
Sebelum penghentian ekspor, Kolombia merupakan pemasok utama batu bara bagi "Israel". Berdasarkan data Kedutaan Besar "Israel" di Bogota, nilai ekspor batu bara Kolombia ke Tel Aviv mencapai sekitar 450 juta dolar AS pada 2023.
Petro juga sebelumnya menuduh "Israel" dan Amerika Serikat melakukan intervensi dalam pemilihan presiden Kolombia yang menyebabkan dirinya kalah. Ia menyatakan akan segera mengungkap bukti atas tuduhan tersebut.
(Samirmusa/arrahmah.id)
