WASHINGTON (Arrahmah.id) — Sebagian kelompok kanan baru Amerika Serikat, khususnya kalangan aktivis dan influencer yang aktif melalui platform digital, mulai menunjukkan perubahan mencolok dalam memandang Islam. Dikutip dari majalah Inggris New Statesman (22/8/2026), perubahan tersebut terlihat dari munculnya sejumlah tokoh yang kini memandang Islam sebagai simbol kekuatan, disiplin, identitas, keluarga, dan keteguhan nilai yang mereka anggap telah hilang dari masyarakat Barat.
Jika sebelumnya Islam dalam wacana konservatif Amerika, terutama di kalangan neokonservatif, kerap diposisikan sebagai salah satu ancaman utama bagi peradaban Barat, kini sebagian influencer justru melihatnya dengan cara yang berbeda.
Penulis Travis Alexander dalam artikelnya mencoba menjelaskan perubahan tersebut melalui sikap sejumlah tokoh seperti Tucker Carlson, Andrew Tate, Sneako, dan Bronze Age Pervert.
Menurut Alexander, perubahan itu bukan berarti mereka mengalami pergeseran pemikiran yang terorganisasi menuju Islam. Fenomena tersebut lebih mencerminkan krisis yang lebih dalam di tubuh kanan baru Amerika, yakni keyakinan bahwa peradaban Barat telah menjadi lemah, kehilangan makna, serta meninggalkan unsur kekuatan, disiplin, dan tujuan yang dahulu dianggap membentuk identitasnya.

Perubahan sikap Tucker Carlson
Salah satu contoh paling menonjol adalah jurnalis Amerika Tucker Carlson.
Carlson sebelumnya dikenal menggunakan retorika keras terhadap Islam. Namun, belakangan ia mengakui bahwa pandangan tersebut berlebihan.
Carlson mengaku pernah meyakini bahwa Islam dan umat Islam merupakan masalah serta menganggap mereka ingin membunuh orang Amerika. Namun, ia kemudian menyatakan bahwa pandangan tersebut tidak benar dan mengakui bahwa dirinya dahulu bersikap “histeris”.
Pada konferensi America First pada 2025, Carlson bahkan menyebut kritik terhadap Muslim Amerika sebagai sesuatu yang “menjijikkan”.
Carlson juga mulai berbicara positif mengenai sejumlah aspek masyarakat Muslim dan memuji syariat Islam sebagai sumber kejelasan moral dalam menghadapi apa yang ia pandang sebagai kemerosotan moral di Barat.
Ia turut mengkritik kelompok konservatif yang menyerang Muslim Amerika dan menunjukkan perhatian yang semakin besar terhadap kawasan Teluk.
Islam sebagai simbol peradaban alternatif
Alexander menilai perubahan tersebut memperlihatkan pergeseran yang lebih luas di kalangan kanan baru.
Bagi sebagian tokoh kanan yang aktif di platform digital, Islam tidak lagi semata-mata dipandang sebagai agama dari perspektif akidah. Islam justru dijadikan simbol sebuah peradaban yang mereka bayangkan masih mempertahankan kekuatan, disiplin, keluarga, otoritas, dan identitas.
Sebaliknya, mereka memandang Barat telah tenggelam dalam individualisme, liberalisme, pluralisme, serta apa yang mereka sebut sebagai kemerosotan.
Pandangan tersebut terlihat lebih jelas pada Andrew Tate, yang telah memeluk Islam dan menjadikannya bagian dari citra publiknya di internet.
Menurut Alexander, Tate tidak banyak menekankan dimensi spiritual dan ajaran keagamaan Islam. Ia lebih sering menyoroti apa yang dipandangnya sebagai disiplin, ketegasan, hierarki, serta peran tradisional laki-laki dan perempuan.
Tate bahkan pernah menyebut Islam sebagai agama terakhir dan satu-satunya agama yang prinsip-prinsip dasarnya masih dihormati oleh para pengikutnya.
Menghadapi kekacauan liberalisme modern
Dalam pandangan Tate, menurut Alexander, Islam menjadi alat untuk menghadapi apa yang ia anggap sebagai kekacauan masyarakat liberal modern.
Ia memandang masyarakat Barat semakin siap menerima segala sesuatu, sedangkan Islam dalam persepsinya menawarkan batas-batas yang jelas dan tidak boleh dilanggar.
Namun, Alexander menilai pandangan tersebut bersifat selektif. Para influencer tersebut, menurutnya, mengambil sisi Islam yang sesuai dengan narasi mereka mengenai maskulinitas, kekuatan, dan ketegasan, sementara mengabaikan aspek keagamaan dan spiritual yang menjadi bagian mendasar dari Islam.
Sosok lain yang disebut adalah Sneako. Ketertarikannya terhadap Islam berkembang di tengah dunia influencer muda, khususnya melalui pengaruh Andrew Tate.
Alexander menilai Islam dalam konten Sneako terkadang berubah menjadi bagian dari gaya hidup dan citra media sosial, seperti melalui unggahan dari masjid atau pembacaan Al-Qur’an yang berdampingan dengan konten olahraga, kedisiplinan, dan pengembangan diri.

Islam sebagai gambaran peradaban yang tidak melemah
Sementara itu, Bronze Age Pervert, yang tidak memeluk Islam, merepresentasikan sisi yang lebih filosofis dari fenomena tersebut.
Ia kerap menggambarkan Barat sebagai masyarakat yang lemah, terlalu nyaman, dan kehilangan makna. Dalam pandangannya, sejumlah masyarakat Muslim menjadi contoh peradaban yang belum menyerah kepada individualisme, kelemahan, maupun apa yang disebut Alexander sebagai “kelembutan”.
Dari sini Alexander menyimpulkan bahwa sebagian tokoh tersebut tidak selalu memandang Islam sebagai agama. Mereka lebih sering menjadikannya sebagai gambaran atau simbol dari sesuatu yang mereka yakini telah hilang dari Barat: keteraturan, disiplin, identitas kolektif, tujuan hidup, dan keyakinan terhadap sistem nilai yang tetap.
“Islam tanpa Islam”
Meski demikian, Alexander melihat adanya kontradiksi besar.
Para influencer tersebut, menurutnya, ingin memperoleh citra disiplin dan kekuatan yang mereka asosiasikan dengan Islam tanpa sepenuhnya menerima dimensi keagamaan dan moral Islam.
Karena itu, ia menggambarkan fenomena tersebut sebagai semacam “Islam tanpa Islam”—mengambil gambaran tentang kekuatan, disiplin, dan ketegasan yang mereka lihat dalam Islam tanpa tunduk sepenuhnya kepada ajaran serta konsekuensi keagamaannya.
Pada akhirnya, paradoks terbesar menurut Alexander adalah perubahan sikap sebagian kanan baru Amerika terhadap Islam.
Kelompok kanan yang sebelumnya melihat Islam sebagai musuh utama Barat kini justru menjadikan Islam sebagai salah satu model untuk menghadapi Barat yang mereka anggap mengalami keruntuhan dari dalam.
Jika kaum neokonservatif sebelumnya memandang Islam sebagai ancaman eksternal terhadap peradaban Barat, sebagian aktivis kanan baru justru melihat Islam sebagai salah satu model peradaban yang masih mampu melawan apa yang mereka anggap sebagai kemerosotan Barat.
Dengan demikian, Alexander tidak menilai bahwa kelompok tersebut telah “menjadi Islamis”. Sebaliknya, mereka menggunakan gambaran tertentu tentang Islam untuk mencari sesuatu yang mereka yakini telah hilang dari Barat: keteraturan, kekuatan identitas, dan makna.
(Samirmusa/arrahmah.id)
