YERUSALEM (Arrahmah.id) — Sejumlah pihak dalam aparat keamanan "Israel" memperingatkan bahwa serangan terbuka yang dilancarkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz terhadap Turki berpotensi menyeret hubungan kedua negara ke dalam eskalasi yang tidak perlu.
Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya retorika keras pemerintah "Israel" terhadap Ankara, menjelang pemilihan Knesset yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.
Ketegangan antara "Israel" dan Turki meningkat setelah serangan udara "Israel" pada Selasa lalu yang menargetkan Bandara Militer Abu Al-Duhur di Idlib, Suriah utara. Bandara tersebut berjarak sekitar 70 kilometer dari perbatasan Turki. "Israel" berdalih serangan dilakukan karena terdapat pasukan Turki di lokasi tersebut.
Namun, Turki membantah tuduhan itu dan menegaskan tidak ada keberadaan militer Turki di Bandara Abu Al-Duhur ketika serangan berlangsung. Ankara juga menegaskan bahwa kerja samanya dengan pemerintah Suriah tetap sah dan bertujuan memperkuat kemampuan pemerintah serta menjaga keamanan dan stabilitas Suriah.
Menurut Channel 12 "Israel" yang dilansir dari pers "Israel" dan Anadolu Agency, Jumat (22/8/2026), peringatan tersebut muncul setelah serangkaian pernyataan keras Netanyahu dan Katz terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Ankara.
Sejumlah pihak dalam aparat keamanan "Israel" disebut tidak menginginkan perselisihan dengan Turki berkembang menjadi konfrontasi terbuka yang lebih luas. Mereka juga menilai bahwa isu Turki semakin dimanfaatkan Netanyahu dan Partai Likud dalam retorika serta kampanye politik menjelang pemilu.

Perbedaan Sikap Militer dan Aparat Keamanan
Channel 12 melaporkan bahwa militer "Israel" mendorong pelaksanaan serangan terhadap Bandara Abu Al-Duhur. Namun, sejumlah pejabat dalam aparat keamanan menginginkan agar operasi tersebut tetap dilakukan secara diam-diam atau "di bawah radar", tanpa sorotan publik maupun pernyataan resmi.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah serangan berkembang menjadi konfrontasi langsung dengan Ankara.
Para pejabat keamanan juga disebut tidak menyambut baik pernyataan keras yang dikeluarkan Netanyahu dan Katz setelah serangan. Mereka khawatir pernyataan tersebut justru memanaskan situasi dan semakin memperburuk hubungan dengan Turki tanpa adanya kebutuhan keamanan yang mendesak.
Dalam beberapa hari terakhir, para pemimpin politik "Israel" semakin meningkatkan serangan verbal terhadap Ankara.
Pada Kamis, Katz menyerang Erdogan dengan menuduhnya "menyeret Turki ke dalam petualangan berbahaya di Suriah".
Netanyahu juga meningkatkan retorikanya terhadap Ankara dengan menyebut Erdogan sebagai "diktator antisemit".
Pernyataan tersebut mendapat keberatan dari kalangan keamanan "Israel". Mereka menilai retorika semacam itu dapat memperburuk situasi dan hubungan bilateral. Sebaliknya, mereka menginginkan agar langkah menghadapi aktivitas Turki di Suriah dilakukan secara "tenang tanpa konfrontasi terbuka".
Turki Tuduh Pemerintah Netanyahu Menciptakan Ancaman Baru
Menanggapi meningkatnya retorika pemerintah Netanyahu, Departemen Komunikasi Kepresidenan Turki pada Jumat menyatakan bahwa upaya pemerintah Netanyahu menggambarkan Turki sebagai ancaman baru merupakan bentuk populisme keamanan yang tidak bertanggung jawab.
Ankara menilai kebijakan tersebut juga berkaitan dengan meningkatnya tensi politik menjelang pemilu "Israel".
Turki menyebut pernyataan pemerintah Netanyahu terhadap Erdogan mencerminkan apa yang disebutnya sebagai ketidakberdayaan pemerintah "Israel". Ankara juga menilai retorika tersebut digunakan untuk memperoleh keuntungan politik dalam pemilu mendatang.
Pada hari yang sama, Menteri Kehakiman Turki Akın Gürlek mengumumkan bahwa kementeriannya telah meminta Kementerian Dalam Negeri mengambil langkah yang diperlukan untuk menerbitkan red notice terhadap Netanyahu.
Permintaan tersebut berkaitan dengan kasus yang menuduh Netanyahu melakukan genosida.
Kantor Perdana Menteri "Israel" kemudian merespons dengan menyatakan bahwa "Israel" tidak menyukai "kemunafikan Turki". Kantor Netanyahu juga menegaskan bahwa "Israel" akan terus mengambil tindakan terhadap apa yang disebutnya sebagai upaya Turki mengganggu stabilitas kawasan serta setiap ancaman terhadap keamanannya.
Retorika pemerintah Netanyahu yang menargetkan Turki semakin meningkat menjelang pemilu yang dijadwalkan pada 27 Oktober. Pada saat yang sama, Netanyahu menghadapi berbagai tantangan politik domestik, termasuk perpecahan di dalam Partai Likud dan koalisi sayap kanannya terkait persaingan politik menjelang pemilu.
(Samirmusa/arrahmah.id)
