TEXAS (Arrahmah.id) — Gubernur Texas, Greg Abbott, meningkatkan penolakannya terhadap fasilitas wudu bagi umat Islam di dua bandara terbesar di negara bagian tersebut. Langkah politikus Partai Republik itu menuai kecaman dari pakar hukum, tokoh Muslim, hingga pejabat pemerintahan setempat.
Dilansir dari The Washington Post, Sabtu (22/8/2026), Abbott meminta Departemen Kehakiman Amerika Serikat melakukan penyelidikan resmi terhadap fasilitas wudu di Bandara Internasional Dallas-Fort Worth dan Bandara Internasional George Bush di Houston.
Abbott menilai fasilitas tersebut bersifat “diskriminatif” karena menurutnya hanya diperuntukkan bagi umat Islam, bukan sebagai ruang ibadah yang dapat digunakan seluruh pemeluk agama.
Dalam pernyataannya, Abbott menyebut fasilitas wudu di kedua bandara itu bukan tempat ibadah multireligius yang dilengkapi untuk semua orang, melainkan fasilitas yang dibangun khusus untuk melayani kebutuhan umat Islam.
Abbott sebelumnya juga meminta Departemen Transportasi AS menahan dana hibah untuk kedua bandara hingga fasilitas tersebut ditutup. Setelah itu, pengelola Bandara Dallas-Fort Worth memutuskan tidak melanjutkan rencana pembangunan fasilitas wudu tambahan.
Pakar Hukum Bantah Tuduhan Diskriminasi
Sejumlah pakar hukum konstitusi dan tokoh Muslim menolak tuduhan bahwa keberadaan fasilitas wudu merupakan bentuk diskriminasi terhadap non-Muslim.
Profesor hukum Universitas Texas di Austin, Stephen T. Collis, mengatakan pernyataan Abbott merupakan bagian dari pola yang lebih luas yang menurutnya menunjukkan adanya upaya menjadikan Texas sebagai tempat yang tidak ramah bagi umat Islam.
Pakar hukum konstitusi Asma Uddin juga menjelaskan bahwa prinsip netralitas agama dalam hukum Amerika Serikat tidak berarti pemerintah harus memperlakukan setiap agama secara persis sama dalam setiap keadaan.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh melakukan pemaksaan, memberikan perlakuan istimewa, atau melakukan pengecualian berdasarkan identitas agama.
Para ahli juga membandingkan fasilitas wudu dengan berbagai layanan publik yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan kelompok tertentu. Contohnya adalah penyediaan makanan halal atau kosher di bandara, maupun jam kunjungan khusus di museum dan taman yang dibuat lebih ramah bagi penyandang autisme dengan mengurangi kebisingan dan rangsangan sensorik.
Dinilai Bermotif Politik
Kebijakan Abbott muncul ketika dirinya berupaya memenangkan masa jabatan keempat sebagai gubernur Texas. Sejumlah pengamat menilai isu fasilitas wudu tidak dapat dipisahkan dari meningkatnya persaingan politik dan menguatnya retorika anti-Islam di kalangan sebagian politisi Partai Republik.
Imam Omar Suleiman, pendiri Yaqeen Institute dan tokoh Muslim yang berbasis di Dallas, menilai persoalan tersebut berkaitan erat dengan politik dan meningkatnya polarisasi.
Menurut Suleiman, fasilitas wudu di bandara dibuat untuk memudahkan umat Islam menjalankan ibadah sekaligus menghindari kesulitan yang dapat muncul ketika berwudu di toilet umum.
Ia menilai upaya Abbott justru berpotensi menghilangkan kemudahan yang dibutuhkan para pelancong Muslim.
Abbott sebelumnya juga menjadi sorotan ketika mendukung undang-undang negara bagian yang mewajibkan sekolah negeri menampilkan Sepuluh Perintah Allah di setiap ruang kelas, tetapi menolak fasilitas wudu di bandara.
Ketika ditanya mengenai perbedaan sikap tersebut dalam wawancara dengan Fox News, Abbott mengatakan bahwa Sepuluh Perintah Allah merupakan bagian dari sejarah dan identitas Texas, sementara agama lain, menurutnya, tidak memiliki penerapan historis yang sama dalam sejarah negara bagian tersebut.
Pada tahun sebelumnya, Abbott juga menetapkan Council on American-Islamic Relations (CAIR) sebagai organisasi teroris asing. Ia turut memimpin upaya Partai Republik Texas untuk menghambat rencana pengembangan kawasan properti dan perumahan terpadu milik sebuah pusat Islam di sekitar Dallas.
Jumlah Muslim di Texas Terus Bertambah
Persoalan fasilitas wudu tersebut berlangsung di tengah meningkatnya keberadaan komunitas Muslim di Texas.
Menurut data yang dikutip The Washington Post, jumlah Muslim di Amerika Serikat telah mencapai lebih dari 4,6 juta orang, dengan sekitar 313 ribu di antaranya berada di Texas.
Wilayah Houston memiliki salah satu konsentrasi komunitas Muslim terbesar di Texas, dengan lebih dari 200 masjid dan kompleks Islam. Jumlah Muslim di Dallas juga disebut meningkat hingga dua kali lipat dalam satu dekade.
Wakil Presiden Muslim Public Affairs Council, Harris Tarin, mengatakan sikap permusuhan terhadap umat Islam kini dinilai lebih terbuka dan meluas dibandingkan periode setelah serangan 11 September 2001.
Wali Kota Houston Bela Fasilitas Wudu
Wali Kota Houston John Whitmire turut membela keberadaan fasilitas wudu di Bandara Internasional George Bush.
Whitmire menjelaskan bahwa sekitar 22 persen penumpang internasional di Terminal D, tempat fasilitas wudu berada, menggunakan maskapai dari negara-negara mayoritas Muslim.
Menurutnya, fasilitas tersebut dibangun berdasarkan permintaan para penumpang dan merupakan kebutuhan praktis di sebuah bandara internasional.
Sejumlah penumpang dan pekerja bandara juga mempertanyakan alasan munculnya polemik tersebut.
Ubaid Mian, seorang pengelola sejumlah restoran di Bandara Houston yang rutin menggunakan fasilitas wudu, mengatakan Texas merupakan wilayah dengan masyarakat yang beragam.
“Keragaman seharusnya dihargai dan dihormati. Tidak ada yang dirugikan dengan menyediakan fasilitas ini,” ujarnya.
Persoalan fasilitas wudu itu menjadi bagian terbaru dari serangkaian kebijakan dan tindakan politik di Texas yang dinilai menyasar lembaga-lembaga Islam. Sebelumnya, terdapat upaya untuk mencabut status hukum sejumlah organisasi hak sipil dan menghalangi sekolah Islam memperoleh program voucher pendidikan, meski sebagian langkah tersebut kemudian mendapat intervensi pengadilan.
(Samirmusa/arrahmah id)
