TEHERAN (Arrahmah.id) - Laporan terbaru dari The Wall Street Journal (WSJ) mengungkap adanya kontradiksi besar antara pernyataan Presiden Donald Trump dengan realitas di meja perundingan. Para mediator internasional menyatakan bahwa Iran tidak pernah meminta jeda serangan terhadap infrastruktur energinya, membantah klaim Trump sebelumnya yang menyebut Teheran memohon penghentian serangan selama 10 hari.
Sementara itu, situasi di lapangan semakin memanas. Kementerian Kesehatan 'Israel' melaporkan sebanyak 299 orang dilarikan ke rumah sakit dalam 24 jam terakhir, angka tertinggi sejak awal pecahnya perang pada 28 Februari lalu.
Trump mengklaim pembicaraan berjalan positif dan serangan ke sektor energi Iran ditunda atas permintaan Teheran. Namun, mediator menegaskan belum ada permintaan resmi dari Iran, dan Teheran pun belum menyerahkan jawaban final atas proposal 15 Poin yang diajukan AS.
Para mediator menilai peluang gencatan senjata masih sangat terbatas karena kedua belah pihak tetap bertahan pada posisi yang dianggap tidak masuk akal oleh pihak lawan (maksimalis).
Total cedera di pihak 'Israel' kini mencapai 5.772 orang sejak awal perang. Lonjakan drastis dalam sehari terakhir dipicu oleh serangan balasan rudal Iran serta operasi militer intensif dari Hizbullah di Lebanon yang merespons serangan udara 'Israel' awal Maret ini.
Meskipun Trump menjanjikan jeda serangan, infrastruktur energi Iran tetap menjadi titik paling sensitif dalam negosiasi karena dampaknya yang langsung dirasakan oleh pasar minyak dunia.
Ketidakcocokan informasi antara Gedung Putih dan para mediator menunjukkan adanya upaya diplomasi publik dari Trump untuk menciptakan kesan bahwa AS memegang kendali penuh. Namun, dengan rekor jumlah korban luka di Tel Aviv dan sekitarnya, tekanan domestik terhadap pemerintah 'Israel' dan AS kemungkinan besar akan meningkat untuk segera mengakhiri kebuntuan ini melalui tindakan militer yang lebih keras atau konsesi politik yang nyata. (zarahamala/arrahmah.id)
