Memuat...

Menjaga Jiwa Generasi di Tengah Krisis Nilai

Oleh Novi WidiastutiPegiat Literasi
Sabtu, 14 Maret 2026 / 25 Ramadan 1447 18:46
Menjaga Jiwa Generasi di Tengah Krisis Nilai
Ilustrasi. (indonesiana.id)

Krisis kesehatan mental pada remaja sering kali tidak muncul tiba-tiba dalam bentuk tragedi besar. Ia biasanya berawal dari perubahan kecil yang kerap luput dari perhatian, biasanya ditandai kondisi dimana seorang anak mulai kehilangan semangat belajar, remaja yang semakin mudah cemas dan menarik diri dari pergaulan, atau murid yang diam-diam merasa dirinya tidak cukup baik dibandingkan teman-temannya.

Perlahan kegelisahan itu menumpuk menjadi tekanan batin, rasa putus asa, hingga depresi yang tak tertangani. Pada sebagian kasus yang paling tragis, tekanan tersebut bahkan berujung pada keinginan mengakhiri hidup. Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik kehidupan generasi muda hari ini, tersimpan persoalan kesehatan jiwa yang semakin serius.

Situasi ini mendorong pemerintah mengambil langkah kebijakan. Negara menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Kesehatan Jiwa Anak yang ditandatangani oleh sembilan kementerian dan lembaga, di antaranya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, serta Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak tidak bisa dipandang sebagai masalah kecil. Ia menyentuh banyak dimensi kehidupan: keluarga, pendidikan, ruang digital, hingga lingkungan sosial yang lebih luas.

Data yang disampaikan Kementerian Kesehatan melalui platform healing119.id bersama laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Terdapat empat faktor utama yang memicu anak memiliki keinginan mengakhiri hidup. Konflik keluarga menempati posisi tertinggi dengan kisaran 24 hingga 46 persen. Faktor berikutnya adalah masalah psikologis dengan angka 8 hingga 26 persen, disusul perundungan atau bullying sebesar 14 hingga 18 persen, serta tekanan akademik yang berada pada kisaran 7 hingga 16 persen.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan mental anak tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan situasi keluarga, lingkungan pendidikan, serta tekanan sosial yang semakin kompleks.

 

Kapitalisme dan Rapuhnya Jiwa Generasi

Anak-anak hari ini tumbuh dalam ruang kehidupan yang sarat tuntutan. Sejak usia dini mereka dihadapkan pada berbagai standar keberhasilan: harus berprestasi di sekolah, mampu menyesuaikan diri dengan dinamika pergaulan, sekaligus mengikuti arus informasi yang tak pernah berhenti dari dunia digital.

Setiap hari mereka disuguhi gambaran tentang bagaimana seharusnya hidup yang “ideal”: sukses, populer, berprestasi, dan terlihat sempurna. Tanpa disadari, standar-standar itu membentuk tekanan psikologis yang terus mengiringi perjalanan tumbuh mereka.

Karena itu, persoalan kesehatan jiwa anak tidak cukup dipahami sebagai problem psikologis individual semata. Ia juga mencerminkan kondisi sosial yang lebih luas, yakni sistem kehidupan yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap makna hidup, kesuksesan, dan kegagalan.

Dalam masyarakat modern yang dipengaruhi paradigma sekuler dan orientasi material, keberhasilan manusia sering kali direduksi menjadi angka, status, dan capaian ekonomi.

Perubahan nilai ini merembes ke hampir seluruh ruang kehidupan. Dalam keluarga, tekanan ekonomi dan ritme hidup yang cepat membuat waktu interaksi emosional antara orang tua dan anak semakin terbatas. Orang tua sibuk memenuhi tuntutan ekonomi, sementara anak-anak sering tumbuh dalam ruang komunikasi yang semakin sempit.

Di sekolah, pendidikan masih menempatkan kompetisi akademik sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Nilai rapor, ranking, dan prestasi formal menjadi indikator utama yang menentukan rasa percaya diri seorang anak.

Sementara itu, media digital memperkuat tekanan tersebut. Platform media sosial terus memproduksi citra kehidupan yang menonjolkan popularitas, kemewahan, dan kesuksesan material.

Generasi muda akhirnya hidup dalam ruang perbandingan tanpa akhir membandingkan prestasi, penampilan, bahkan kehidupan pribadi mereka dengan gambaran ideal yang sering kali tidak realistis.

Dalam situasi seperti ini, banyak anak tumbuh dengan ekspektasi yang tinggi, tetapi tanpa fondasi makna hidup yang cukup kuat. Mereka diajarkan bagaimana meraih prestasi, tetapi tidak selalu diajarkan bagaimana memaknai kegagalan.

Mereka didorong untuk bersaing, tetapi tidak selalu dibekali ketahanan batin untuk menghadapi tekanan yang datang dari persaingan itu sendiri.

Di sinilah krisis kesehatan jiwa anak menemukan konteks sistemiknya. Ia bukan sekadar persoalan individu yang lemah menghadapi masalah, melainkan refleksi dari struktur sosial yang membentuk cara masyarakat memandang kehidupan.

Sistem kapitalisme modern dengan orientasi materialistiknya secara tidak langsung melahirkan lingkungan yang sangat kompetitif, menempatkan keberhasilan pada standar yang sempit, sekaligus menggeser nilai-nilai spiritual yang dahulu menjadi sumber ketahanan batin manusia.

Ketika nilai kehidupan semakin diukur oleh materi dan pencapaian duniawi, generasi muda berisiko kehilangan pijakan makna yang lebih dalam tentang kehidupan itu sendiri. Dan ketika makna itu hilang, tekanan hidup yang sebenarnya wajar dapat berubah menjadi beban yang terasa terlalu berat untuk dipikul.

 

Negara sebagai Penjaga Jiwa Umat: Peran Strategis dalam Sistem Islam

Di sinilah umat Islam perlu membangun kesadaran yang lebih mendalam. Sistem yang melahirkan kerusakan nilai dan tekanan sosial tersebut tidak bisa dibiarkan terus membentuk kehidupan generasi masa depan.

Sistem sekuler liberal kapitalistik harus dipandang sebagai persoalan bersama umat, karena ia menjauhkan kehidupan dari tuntunan wahyu sekaligus melemahkan fondasi moral masyarakat.

Perjuangan dakwah karena itu tidak boleh berhenti pada pembinaan individu semata. Ia harus diarahkan pada perubahan yang lebih mendasar, yakni menghadirkan kembali sistem Islam sebagai sistem kehidupan yang mengatur masyarakat secara menyeluruh.

Islam tidak hanya menawarkan nasihat moral bagi individu, tetapi juga memberikan kerangka pengaturan kehidupan yang terintegrasi antara nilai spiritual dan tata kelola sosial.

Dalam sistem Islam, negara memiliki posisi yang sangat penting. Negara dipandang sebagai ra'in wa junnah, pemelihara sekaligus pelindung rakyat. Artinya negara tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi bertanggung jawab menjaga masyarakat dari kerusakan nilai yang merusak kehidupan.

Negara melindungi keluarga, menjaga lingkungan sosial, serta memastikan bahwa sistem kehidupan yang berjalan tidak merusak moral dan kesehatan jiwa masyarakat.

Tanggung jawab ini tercermin dalam cara negara mengelola berbagai sektor kehidupan secara terintegrasi.

  1. Politik: Negara sebagai Pelindung Nilai dan Ketahanan Sosial

Dalam sistem Islam, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi sarana mengurus urusan umat berdasarkan syariat. Negara berkewajiban menjaga kehidupan publik agar tidak dikuasai nilai-nilai yang merusak akhlak dan kesehatan mental masyarakat.

Negara memastikan bahwa kebijakan publik, regulasi media, serta ruang sosial tidak dipenuhi oleh konten yang merusak moral, memicu perbandingan sosial yang tidak sehat, atau mendorong gaya hidup materialistik. Dengan demikian, lingkungan sosial yang terbentuk adalah lingkungan yang kondusif bagi ketenangan jiwa generasi muda.

  1. Pendidikan: Membentuk Kepribadian yang Kokoh

Sistem pendidikan dalam Islam tidak semata-mata berorientasi pada prestasi akademik atau kompetisi angka. Tujuan utamanya adalah membentuk kepribadian yang berlandaskan akidah Islam.

Anak dididik untuk memahami tujuan hidup, menyadari bahwa kehidupan memiliki ujian, serta menumbuhkan nilai sabar, syukur, dan tawakal. Pendidikan seperti ini membangun ketahanan mental yang kuat, sehingga anak tidak mudah rapuh ketika menghadapi kegagalan, tekanan sosial, ataupun tantangan hidup.

Sekolah bukan sekadar tempat mengejar prestasi, tetapi ruang pembentukan karakter dan makna hidup.

  1. Ekonomi: Menjamin Kesejahteraan Keluarga

Banyak tekanan mental anak berakar dari tekanan ekonomi keluarga. Dalam sistem kapitalisme, kesenjangan ekonomi dan tuntutan hidup sering memaksa orang tua bekerja dalam ritme yang melelahkan, sehingga interaksi emosional dengan anak menjadi terbatas.

Islam mengatur sistem ekonomi yang menjamin distribusi kekayaan secara adil, mencegah penumpukan harta pada segelintir orang, serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Dengan sistem ekonomi yang adil, keluarga memiliki stabilitas hidup yang lebih baik dan mampu menjalankan perannya sebagai tempat pendidikan dan perlindungan bagi anak.

Ketika tekanan ekonomi berkurang, ruang kasih sayang dan komunikasi dalam keluarga dapat tumbuh lebih kuat sebagai faktor penting bagi kesehatan mental anak.

  1. Kesehatan: Menjaga Jiwa dan Raga Secara Menyeluruh

Dalam sistem Islam, kesehatan dipandang secara holistik, mencakup kesehatan fisik sekaligus kesehatan jiwa. Negara menyediakan layanan kesehatan yang mudah diakses oleh seluruh masyarakat, termasuk layanan kesehatan mental.

Namun lebih dari itu, negara juga membangun lingkungan sosial yang sehat secara psikologis. Budaya kompetisi yang merusak, gaya hidup hedonistik, serta tekanan sosial yang tidak sehat diminimalkan melalui regulasi sosial yang berbasis nilai.

Dengan demikian, pencegahan krisis mental tidak hanya dilakukan di ruang klinis, tetapi juga melalui pembentukan lingkungan sosial yang mendukung ketenangan jiwa masyarakat.

Semua sektor tersebut terintegrasi dalam satu kerangka nilai yang sama, yakni syariat Islam. Integrasi inilah yang mampu melahirkan masyarakat yang tidak hanya sejahtera secara materi, tetapi juga memiliki ketenangan jiwa dan kekuatan moral. Generasi yang tumbuh dalam sistem seperti ini tidak hanya didorong untuk sukses secara duniawi, tetapi juga memiliki makna hidup yang jelas.

Karena itu, krisis kesehatan mental anak yang kita saksikan hari ini seharusnya menjadi momentum refleksi bagi umat. Ia mengingatkan bahwa membangun generasi yang sehat tidak cukup dengan program-program parsial. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistem kehidupan yang mampu menghadirkan nilai, makna, dan perlindungan bagi manusia.

Di sinilah peran kesadaran umat menjadi sangat penting. Umat Islam perlu menyadari bahwa Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga sistem kehidupan yang lengkap. Ketika sistem itu diterapkan secara menyeluruh, ia akan membentuk masyarakat yang kuat secara spiritual, stabil secara sosial, dan sehat secara mental.

Membangun kesadaran ini adalah bagian dari perjuangan dakwah yang panjang. Namun dari sanalah harapan lahirnya generasi yang kokoh dapat dimulai dari generasi yang tidak hanya cerdas dan berprestasi, tetapi juga memiliki jiwa yang tenang, kuat, dan memiliki arah hidup yang jelas di tengah tantangan zaman.

Wallahua'lam bis shawwab

 

Editor: Hanin Mazaya