Memuat...

Menuju Perang Besar? AS Susun 4 Opsi “Serangan Akhir” untuk Iran

Samir Musa
Kamis, 26 Maret 2026 / 7 Syawal 1447 20:01
Menuju Perang Besar? AS Susun 4 Opsi “Serangan Akhir” untuk Iran
Ledakan terjadi setelah serangan udara yang menargetkan sebuah fasilitas Iran di kota Haji Abad, Iran (Reuters).

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Upaya diplomatik untuk membuka jalur perundingan antara Amerika Serikat dan Iran terus berlangsung, di tengah laporan terbaru yang mengungkap persiapan militer besar-besaran yang disebut sebagai “serangan penentu” dalam konflik yang kian memanas.

Menurut laporan Axios (26/3) yang mengutip sejumlah pejabat, Pakistan, Mesir, dan Turki masih berupaya memediasi pertemuan antara Teheran dan Washington. Meski Iran menolak daftar tuntutan awal dari pihak Amerika, mereka belum sepenuhnya menutup pintu negosiasi.

Namun, kendala utama disebut terletak pada krisis kepercayaan, khususnya di kalangan Garda Revolusi Iran, meski para mediator disebut belum menyerah.

Di sisi lain, Pentagon dilaporkan tengah mengembangkan sejumlah opsi militer untuk melancarkan apa yang disebut sebagai “serangan penentu” terhadap Iran. Opsi tersebut mencakup penggunaan pasukan darat yang dikombinasikan dengan kampanye pengeboman skala besar.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa eskalasi militer besar dinilai semakin mungkin terjadi jika tidak ada kemajuan dalam perundingan, terutama jika Selat Hormuz tetap tertutup. Para pejabat AS meyakini bahwa demonstrasi kekuatan besar dapat meningkatkan posisi tawar Washington dalam negosiasi, atau memberi peluang bagi Presiden Donald Trump untuk mengklaim kemenangan.

Empat Opsi Militer

  • Menginvasi atau memblokade Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran.
  • Menguasai Pulau Larak yang memiliki instalasi radar dan pertahanan strategis.
  • Mengambil alih Pulau Abu Musa serta dua pulau kecil di sekitar pintu masuk Selat Hormuz.
  • Mencegat atau menyita kapal-kapal yang mengangkut minyak Iran di wilayah timur selat.

Selain itu, militer AS juga menyiapkan rencana operasi darat untuk mengamankan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi di fasilitas nuklir bawah tanah Iran. Alternatif lainnya adalah melancarkan serangan udara besar guna mencegah akses Iran terhadap material tersebut.

Meski demikian, Presiden Trump dilaporkan belum mengambil keputusan final, namun disebut siap untuk meningkatkan eskalasi jika diplomasi gagal mencapai hasil nyata.

Penguatan Militer dan Ancaman Balasan

Sebelumnya, Trump telah mengancam akan menyerang fasilitas energi dan infrastruktur vital Iran. Teheran merespons dengan peringatan akan melakukan “balasan luas di kawasan Teluk”.

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt,

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Trump siap “menghantam Iran lebih keras dari sebelumnya” jika tidak tercapai kesepakatan.

“Presiden tidak mengeluarkan ancaman secara sembarangan. Setiap kekerasan setelah titik ini akan menjadi akibat dari penolakan rezim Iran untuk mencapai kesepakatan,” ujarnya.

Seiring itu, Washington juga bersiap mengirim tambahan kekuatan militer ke Timur Tengah, termasuk skuadron jet tempur, ribuan pasukan, unit Marinir, serta elemen dari Divisi Lintas Udara ke-82.

Di pihak lain, pejabat Iran menegaskan ketidakpercayaan mereka terhadap dorongan negosiasi dari AS, yang dinilai bisa menjadi kedok untuk serangan mendadak.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, membantah adanya negosiasi apa pun dengan Washington (Al Jazeera).

Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa intelijen negaranya mendeteksi adanya persiapan operasi untuk menduduki salah satu pulau Iran yang didukung oleh “sebuah negara di kawasan”.

Ia memperingatkan bahwa setiap langkah semacam itu akan dibalas dengan “serangan tanpa batas terhadap infrastruktur vital” negara yang terlibat.

(Samirmusa/arrahmah.id)