Memuat...

NASIHAT UNTUK PRESIDEN: Singkirkan Pejabat Jahat dan Pengkhianat

Oleh Ustadz Irfan S AwwasKatib Aam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Majelis Mujahidin
Jumat, 21 Agustus 2026 / 9 Rabiulawal 1448 16:49
NASIHAT UNTUK PRESIDEN: Singkirkan Pejabat Jahat dan Pengkhianat
Ilustrasi: Presiden berada di persimpangan antara kepentingan pejabat dan kepentingan rakyat, dengan pilihan untuk menolak korupsi, menegakkan keadilan, serta menjaga amanah kekuasaan demi masa depan bangsa.

Bismillahirrahmanirrahim

Dalam momentum peringatan kemerdekaan, dengarlah suara rakyat.

Kemerdekaan bukan sekadar seremoni tahunan, parade kehormatan, pidato kebangsaan, dan pengibaran bendera. Kemerdekaan harus hadir dalam kehidupan rakyat: dalam keadilan, kesejahteraan, keamanan, harga kebutuhan yang terjangkau, hukum yang tidak tajam ke bawah dan tumpul ke atas, serta pemerintahan yang benar-benar bekerja untuk kepentingan bangsa.

Karena itu, kami menyampaikan NASIHAT kepada Presiden:

Dengarlah suara rakyat, bukan hanya suara para pembisik kekuasaan.

Jangan biarkan istana dan pusat pemerintahan menjadi ruang yang semakin jauh dari penderitaan rakyat. Jangan hanya mendengar laporan yang indah, angka-angka yang dipoles, dan pujian dari orang-orang yang berkepentingan mempertahankan kedudukan.

Turunlah saksikan kenyataan.

Lihatlah beban rakyat.
Dengarlah keluhan mereka.
Rasakan kegelisahan mereka.
Saksikan bagaimana sebagian rakyat masih berjuang keras untuk hidup layak, sementara sebagian pejabat sibuk menjaga kekuasaan, memperbesar pengaruh, dan memperkaya kelompoknya.

JANGAN TAKUT KEPADA ANCAMAN POLITIK

Presiden tidak boleh memerintah dalam ketakutan.

Tak perlu takut terhadap ancaman lawan politik. Kekuasaan yang dipimpin dengan keberanian untuk menegakkan kebenaran akan memperoleh kekuatan dari kepercayaan rakyat.

Tak perlu tersandera oleh politik masa lalu. Kesalahan masa lalu tidak boleh terus-menerus menjadi rantai yang menghalangi lahirnya kebijakan yang benar dan adil.

Dan yang lebih penting:

Jangan sampai negara tersandera oleh balas budi politik.

Jabatan publik bukan hadiah. Kementerian bukan alat pembayaran utang politik. BUMN bukan ladang pembagian pengaruh. Anggaran negara bukan milik kelompok pendukung kekuasaan.

Orang yang pernah berjasa dalam kemenangan politik tidak otomatis berhak menguasai masa depan bangsa.

Sebab setelah kemenangan diraih, Presiden bukan lagi milik kelompok, partai, oligarki, atau lingkaran tertentu.

Presiden adalah pemimpin seluruh rakyat.

SINGKIRKAN PEJABAT JAHAT DAN PENGKHIANAT

Keberanian terbesar seorang Presiden bukan hanya menghadapi lawan dari luar.

Keberanian terbesar adalah membersihkan orang-orang yang merusak dari dalam.

Singkirkan pejabat yang menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri.
Singkirkan pejabat yang memperdagangkan pengaruh.

Singkirkan pejabat yang mengkhianati amanat rakyat.
Singkirkan pejabat yang menutupi kejahatan dengan pencitraan.

Singkirkan pejabat yang hanya pandai menjilat ke atas tetapi zalim kepada rakyat.

Singkirkan pejabat yang menjadikan negara sebagai alat kepentingan kelompok dan jaringan kekuasaan.

Pengkhianatan terhadap rakyat tidak selalu dilakukan dengan senjata.

Pengkhianatan dapat dilakukan melalui kebijakan yang sengaja menguntungkan segelintir orang.

Pengkhianatan dapat dilakukan dengan membiarkan korupsi.

Pengkhianatan dapat dilakukan dengan menyembunyikan fakta.

Pengkhianatan dapat dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bangsa demi kepentingan pribadi dan kelompok.

Jangan pertahankan pejabat yang telah kehilangan amanah hanya karena kedekatan politik.

Lebih baik kehilangan seorang pejabat daripada kehilangan kepercayaan rakyat.

KEKUASAAN ADALAH AMANAH UNTUK MENEGAKKAN KEBAIKAN

Allah Ta'ala memberikan prinsip yang sangat jelas tentang bagaimana kekuasaan harus dijalankan:

«اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ

“Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj [22]: 41)»

Ayat ini mengajarkan bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir.

Kekuasaan adalah amanah.

Kekuasaan harus melahirkan ketaatan kepada Allah, keadilan sosial, kepedulian terhadap rakyat, keberanian menegakkan yang ma'ruf, dan ketegasan mencegah kemungkaran.

Jika kemungkaran dibiarkan karena pelakunya memiliki kekuasaan, maka kekuasaan telah kehilangan ruh amanahnya.

Jika kejahatan pejabat ditoleransi karena kedekatan politik, maka hukum telah dikalahkan oleh kepentingan.

Jika rakyat harus menanggung akibat kesalahan elite, sementara para pengkhianat negara tetap duduk nyaman dalam jabatan, maka kemerdekaan kehilangan maknanya.

KEMERDEKAAN HARUS MEMBEBASKAN RAKYAT DARI PENINDASAN

Kemerdekaan yang sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan asing.

Rakyat juga harus bebas dari:

kesewenang-wenangan kekuasaan,
korupsi dan perampokan kekayaan negara,
monopoli dan keserakahan ekonomi, hukum yang tidak adil, politik balas budi, serta pejabat yang mengkhianati amanah.

Jangan biarkan rakyat merasa bahwa negara hanya kuat ketika menagih kewajiban, tetapi lemah ketika melindungi hak mereka.

Negara harus hadir bukan untuk melayani segelintir elite, melainkan untuk menjaga seluruh rakyat.

PRESIDEN HARUS MEMILIH: MEMELIHARA SISTEM ATAU MEMPERBAIKI BANGSA

Momentum kemerdekaan adalah saat yang tepat untuk mengambil keputusan besar.

Bukan sekadar mengganti wajah.
Tetapi membersihkan sistem.

Bukan sekadar mengganti menteri.
Tetapi menegakkan standar amanah.

Bukan sekadar membangun citra.
Tetapi mengembalikan kepercayaan rakyat.

Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang selalu sempurna.

Rakyat membutuhkan pemimpin yang berani mengakui masalah, berani memperbaiki kesalahan, dan berani mencopot siapa pun yang terbukti merusak amanah negara.

Jangan biarkan jabatan menjadi benteng perlindungan bagi orang jahat.

Jangan biarkan kedekatan politik menjadi kekebalan hukum.

Jangan biarkan masa lalu menjadi alasan untuk membiarkan pengkhianatan terus berlangsung.

SETIAP KEKUASAAN MENINGGALKAN JEJAK

Wahai Presiden,

Kepemimpinan bukan sekadar tentang masa jabatan. Setiap keputusan meninggalkan akibat. Setiap kebijakan melahirkan pengaruh. Setiap pejabat yang dipertahankan atau disingkirkan akan membawa konsekuensi bagi rakyat dan masa depan bangsa.

Allah Ta'ala berfirman:

«اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ

“Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan serta bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata.”(QS. Yasin [36]: 12)»

Ayat ini merupakan peringatan yang sangat dalam bagi setiap pemimpin.

Allah tidak hanya mencatat apa yang telah dilakukan, tetapi juga آثَارَهُمْ — jejak, pengaruh, dan akibat yang ditinggalkan oleh perbuatan manusia.

Bagi seorang Presiden, setiap kebijakan adalah jejak.

Setiap keputusan adalah jejak.

Setiap orang yang diangkat menjadi pejabat adalah jejak.

Setiap pejabat jahat yang dibiarkan mempertahankan kekuasaan juga menjadi jejak.

Jika seorang pemimpin menegakkan keadilan, membersihkan pemerintahan dari pengkhianatan, melindungi rakyat, dan menempatkan orang-orang amanah dalam kekuasaan, maka kebaikan itu dapat terus hidup dan menjadi amal yang jejaknya terus dicatat.

Namun jika seorang pemimpin membiarkan kejahatan, mempertahankan pejabat yang merusak amanah, melindungi pengkhianat karena kedekatan politik, atau membiarkan kepentingan segelintir elite mengalahkan kepentingan rakyat, maka akibat dari kebijakan itu pun akan terus meninggalkan jejak.

Jabatan akan berakhir.
Kekuasaan akan berpindah tangan.
Istana akan berganti penghuni.

Tetapi آثارهم—jejak yang ditinggalkan—akan terus berjalan.

Presiden boleh meninggalkan Istana, tetapi pengaruh dari kebijakan yang pernah diambil dapat tetap hidup dalam kehidupan rakyat.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Siapa yang setia kepada saya?”

Tetapi tanyakan:

“Siapa yang setia kepada amanah?”
“Siapa yang benar-benar membela rakyat?”
“Siapa yang membawa kebaikan bagi bangsa?”

Sebab kelak yang diperhitungkan bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi juga jejak dan akibat yang terus berlangsung karena keputusan yang pernah diambil.

SERUAN KEMERDEKAAN

Wahai Presiden,

Dengarlah suara rakyat.

Tegakkan keadilan tanpa memandang kawan atau lawan.

Buatlah kebijakan yang benar-benar membawa maslahat bagi rakyat.

Jangan takut kehilangan dukungan dari orang-orang yang hanya setia kepada kepentingannya sendiri.

Jangan tersandera oleh ancaman politik.

Jangan terikat oleh utang balas budi.

Jangan pertahankan pejabat yang merusak negara hanya karena mereka pernah berjasa dalam perjalanan politik.

Singkirkan pejabat jahat.
Bersihkan pengkhianat amanah.
Tegakkan hukum tanpa pandang bulu.
Dahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok.

Sebab kekuasaan tidak akan abadi.
Jabatan akan berakhir.
Nama akan tercatat dalam sejarah.
Jejak kebijakan akan tetap hidup.

Dan pada akhirnya, sebagaimana firman Allah:

«وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ

“Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”»

Maka gunakanlah kekuasaan untuk menegakkan keadilan.

Gunakanlah kekuasaan untuk melindungi rakyat.

Gunakanlah kekuasaan untuk memberantas kemungkaran.

Dan jadikan momentum kemerdekaan ini sebagai awal keberanian untuk memutus mata rantai pejabat jahat, politik pengkhianatan, dan kekuasaan yang hanya mengabdi kepada kepentingan segelintir manusia.

Sebab bangsa yang besar tidak dibangun oleh pejabat yang pandai menjaga jabatan, tetapi oleh pemimpin yang berani membersihkan kekuasaan.

Sebab kekuasaan akan berlalu, jabatan akan berakhir, tetapi آثارها—jejak dari keputusan dan kebijakan yang ditinggalkan—akan terus dicatat.

Yogyakarta, 21 Agustus 2026

IRFAN S. AWWAS

(*/arrahmah.id)

Editor: Samir Musa