Persoalan yang menimpa umat di negeri-negeri muslim sedikit banyak telah memalingkan perhatian kaum muslim terhadap saudaranya di Gaza, Palestina. Di mana selain kehilangan nyawa dan harta, militer Israel juga terus memperluas kendali dan wilayahnya hingga ratusan meter melampaui apa yang disebut "garis kuning". 65 persen dari wilayah Jalur Gaza telah mereka kuasai.
Hal ini terungkap dalam sebuah investigasi yang diterbitkan pada oleh harian Israel Haaretz, Rabu 22 Juli 2026. Perluasan ini sebagian besar tanggul tanah dan sistem parit yang membentang sejauh ratusan kilometer di dalam wilayah Gaza, yakni di selatan Khan Younis, Salah al-Din dan Rafah yang mencapai 1.300 meter dari garis kuning.
Haartz menyebutkan bahwa militer Israel secara bertahap telah menggeser penanda kuning ke arah Barat untuk memperluas wilayah. Bahkan mereka telah mendirikan setidaknya tiga pangkalan baru, yaitu di komplek pengungsi bagian tengah, di reruntuhan Bani Suhaila dan di dekat pantai perbatasan Mesir. (Republika, 23/7/2026)
Bahkan dilansir pada laman media yang berbeda, Kompas (22/7/2026) menyebutkan bahwa Israel diam-diam membangun tembok raksasa yang membelah separuh wilayah Jalur Gaza. Keberadaan penghalang ini terungkap melalui citra satelit yang menunjukan bahwa pembangunannya berlangsung dalam beberapa bulan terakhir. Tentu proyek ini semakin memperdalam pemisahan wilayah di Gaza yang dihuni lebih dari dua juta penduduk. Sejauh ini tembok yang dibangun Israel memanjang sejauh 23 kilometer dengan melintasi pemukiman yang telah hancur dibombardir.
Pencaplokan wilayah dan pembangunan tembok yang membelah Gaza menegaskan bahwa entitas Zionis Israel berambisi untuk menguasai seluruh wilayah Gaza hingga tak bersisa. Tentu hal ini adalah bentuk penjajahan yang kasat mata, bukan hanya kepentingan politik juga ada kepentingan agama mereka di sana. Untuk itu, Israel jelas tidak akan pernah memberikan kemerdekaan pada rakyat Palestina sekalipun dunia menentang. Dengan dukungan negara adidaya, yakni Amerika dan sekutunya, mereka begitu percaya diri mampu menguasai tanah haram milik kaum muslim tersebut.
Sementara itu, kaum muslim berada pada posisi lemah, terpecah belah dan tidak memahami politik Islam. Para pemimpinnya justru memberikan loyalitasnya kepada negara pendukung Zionis, hal ini tampak dari ditandatanganinya berbagai kesepakatan bilateral di berbagai bidang baik itu politik atau ekonomi, salah satu yang terbaru adalah Board Of Peace (BoP) yang mengusung program New Gaza.
Sejatinya BoP dan New Gaza hanyalah propaganda yang menipu, yang mustahil akan mewujudkan kemerdekaan Palestina. Itu hanya cara licik untuk membendung suara umat dalam memperjuangkan kebebasannya. Seolah perjanjian ini akan menjadi solusi dan jalan terbaik bagi rakyat di sana. Padahal, mempercayai penjajah akan memberi kemerdekaan adalah suatu kebodohan.
Seharusnya umat Islam tak boleh tertipu dengan propaganda negara kafir (BoP dan New Gaza). Kehadiran Indonesia dan negara muslim yang lainnya di BoP tidak berguna sama sekali, karena faktanya sejak hari penandatanganannya, genosida dan penghancuran tetap berlangsung.
Dalam Islam berdamai dengan entitas Zionis Israel haram, apalagi menjalin kerjasama dan menjadikannya teman setia, hal ini Allah tetapkan dalam Firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan orang yahudi dan nasrani sebagai teman setia(mu).........." (TQS al-Maidah ayat 51)
Tuntunan Islam untuk membebaskan Palestina dari penjajahan adalah melalui pelaksanaan jihad melawan entitas Zionis Israel dan hukumnya fardu kifayah atas seluruh umat Islam, tentu digerakkan oleh pemimpin muslim dengan kekuatan militernya. Namun faktanya sampai saat ini hal tersebut belum ada mengingat paham negara-bangsa (nation state) telah memecah umat dan yang ada hanya mementingkan negaranya masing-masing.
Kapitalis sekuler yang diterapkan di seluruh negeri-negeri muslim menjadikan para pemimpin yang terpilih memiliki penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) di mana arah pandangnya adalah keuntungan dan kenikmatan materi. Akhirnya mereka memilih mementingkan kepentingannya dengan mengkhianati rakyat dan agamanya.
Sebab lainnya karena ketiadaan Khilafah, yakni negara yang menerapkan Islam secara kafah juga kehadiran seorang khalifah sebagai pemimpinnya. Khalifah akan langsung memberi komando kepada kaum muslim terutama militernya untuk mengusir dan membebaskan Palestina dari genosida dan penjajahan. Tanpa hal itu, umat Islam tidak bisa menegakkan jihad dengan sempurna.
Maka dari itu menegakkan khilafah adalah wajib, sebagaimana kesepakatan para ulama terutama empat iman majhab, Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali bahwasanya mereka telah berijma hukum menegakkan khilafah/imamah adalah wajib bagi seluruh kaum.muslim. Serta kaidah fikh yang menyebutkan "ma'la yatimu al-wajibu illa bihi fahuwa wajib" (sesuatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya menjadi wajib). Untuk itu, harus ada kesadaran umat untuk fokus pada perjuangan penegakkan khilafah yang akan menjadi pelindung bagi seluruh umat, termasuk Palestina.
Persatuan umat di bawah kepemimpinan Khilafah adalah kunci kemenangan Palestina dan seluruh dunia Islam. Di bawah naungan Khilafah, umat Islam tidak akan mudah tertipu, dipecah belah dan dijajah. Mereka akan memiliki perisai yang akan melindungi dan menjadi benteng dari propoganda dan serangan musuh. Maka bukan hanya darah dan kehormatan kaum muslim saja yang akan terjaga, tetapi wilayahnya pun akan dipertahankan jangan sampai jatuh ke tangan orang kafir.
Wallahua'lam bis shawwab
