Memuat...

'Israel' Bom Bandara Abu al-Duhur di Suriah, AS Berupaya Cegah Bentrokan dengan Turki

Zarah Amala
Rabu, 19 Agustus 2026 / 7 Rabiulawal 1448 11:30
'Israel' Bom Bandara Abu al-Duhur di Suriah, AS Berupaya Cegah Bentrokan dengan Turki
Bandara Abu al-Duhur di Idlib (Al Jazeera - Arsip)

IDLIB (Arrahmah.id) - 'Israel' melancarkan delapan serangan udara terhadap Bandara Militer Abu al-Duhur di pedesaan timur Idlib, Suriah, pada Selasa dini hari (18/8/2026) Serangan tersebut merusak landasan pacu dan sejumlah infrastruktur bandara, tetapi tidak dilaporkan menimbulkan korban jiwa.

Serangan itu memicu reaksi dari pemerintah Suriah, Turki, Amerika Serikat, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di tengah meningkatnya ketegangan antara 'Israel', Suriah, dan Turki.

Pemerintah Suriah membantah klaim 'Israel' bahwa Damaskus telah menyepakati pengaturan keamanan tertentu dengan Tel Aviv. Seorang sumber diplomatik Kementerian Luar Negeri Suriah mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tidak ada kesepakatan yang mengharuskan Suriah mempertahankan kondisi keamanan seperti yang diklaim 'Israel'.

Pernyataan tersebut muncul setelah Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu mengatakan 'Israel' dan Suriah telah sepakat mempertahankan status quo dalam persoalan keamanan.

Netanyahu menuduh Suriah hampir melanggar kesepakatan itu dengan mengizinkan pasukan Turki ditempatkan di sebuah pangkalan udara dekat Aleppo. Ia menyebut pengerahan pasukan Turki sebagai ancaman terhadap keamanan 'Israel'.

'Israel' juga memperingatkan bahwa mereka tidak akan menerima ancaman apa pun terhadap keamanannya.

Namun, Kepresidenan Turki menolak pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai klaim palsu yang bertujuan membenarkan serangan udara ilegal terhadap kedaulatan Suriah.

Ankara menegaskan akan terus bekerja sama dengan pemerintah Suriah untuk memperkuat keamanan, stabilitas, dan kemakmuran negara tersebut.

Sumber diplomatik Suriah mengatakan 'Israel' telah diberi informasi bahwa tidak terdapat pasukan asing di Bandara Abu al-Duhur ketika serangan dilakukan.

Sumber tersebut juga menegaskan bahwa pemerintah Suriah tidak mungkin menyepakati perjanjian yang menghambat pembangunan institusi sipil dan militer atau membatasi peran Damaskus dalam menjaga stabilitas kawasan.

Sementara itu, Channel 12 Israel mengutip seorang pejabat 'Israel' yang mengatakan Tel Aviv tidak akan dengan mudah melepaskan keuntungan yang telah diperolehnya dari situasi tersebut.

Menurut pejabat itu, posisi 'Israel' dapat menjadi kartu tekanan strategis dalam perundingan dengan Suriah. 'Israel' disebut dapat memperoleh keuntungan politik sebagai imbalan atas penarikan pasukannya dari Suriah pada waktu yang dianggap tepat.

Di sisi lain, Utusan khusus AS untuk Suriah Tom Barrack mengatakan Washington sedang membentuk mekanisme untuk mencegah bentrokan antara 'Israel', Turki, dan Suriah. Ia mengatakan Turki tidak menerima pemberitahuan sebelumnya mengenai serangan 'Israel' sehingga berpotensi menyiapkan respons militer.

Axios melaporkan 'Israel' telah memberi tahu Washington sebelum serangan dan mengklaim operasi itu bertujuan mencegah pengerahan militer serta pengiriman senjata canggih oleh Turki.

PBB mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran yang mengkhawatirkan terhadap integritas wilayah dan wilayah udara Suriah. PBB menyerukan agar serangan udara 'Israel' dihentikan. (zarahamala/arrahmah.id)