WASHINGTON (Arrahmah.id) – Menteri Keuangan Arab Saudi, Mohammed Al-Jadaan, memperingatkan bahwa pemulihan aliran barang dan stabilitas ekonomi di kawasan tidak akan terjadi dalam waktu dekat, menyusul dampak besar dari perang yang melibatkan Iran.
Dalam pernyataan yang dikutip Aljazeera pada Kamis (17/4), Al-Jadaan menegaskan bahwa pemulihan normal rantai pasok dan distribusi barang kemungkinan baru akan terlihat pada akhir Juni mendatang, bahkan bisa memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.
“Tidak ada ruang untuk pemulihan ekonomi yang cepat dari dampak perang ini,” tegasnya dalam forum pertemuan musim semi International Monetary Fund (IMF) dan World Bank yang digelar di Washington, D.C.
Ia menjelaskan, meskipun pasar menunjukkan optimisme, kenyataannya sektor logistik—terutama perdagangan minyak dan industri asuransi—membutuhkan waktu untuk kembali stabil seperti sebelum konflik.
Lebih lanjut, Al-Jadaan menekankan bahwa setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang harus memiliki kredibilitas dan keberlanjutan agar dapat dipercaya oleh semua pihak, termasuk pelaku pasar global.
“Nasihat saya kepada rekan-rekan adalah: siapkan ekonomi dan masyarakat kalian untuk kemungkinan situasi ini berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan,” ujarnya.
Tekanan Perang dan Ketahanan Kawasan
Meski negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) turut menjadi sasaran serangan rudal dan drone selama konflik, Al-Jadaan menegaskan adanya tekad kuat dari negara-negara kawasan untuk tetap melanjutkan agenda reformasi dan rencana investasi jangka panjang.
Menurutnya, krisis ini tidak boleh mengalihkan fokus dari perubahan struktural yang telah dirancang demi masa depan ekonomi kawasan.
Pelajaran dari Infrastruktur Lama
Al-Jadaan juga menggarisbawahi bahwa ketahanan ekonomi tidak dibangun saat krisis terjadi, melainkan pada masa-masa stabil sebelumnya.
Ia mencontohkan proyek lama Arab Saudi berupa jaringan pipa minyak Timur-Barat yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur dengan pelabuhan ekspor di pesisir Laut Merah.
Dulu, proyek tersebut kerap dikritik karena dianggap tidak dimanfaatkan secara optimal. Namun kini, di tengah krisis, jalur pipa tersebut justru menjadi “urat nadi” bagi pasokan energi global.
“Dunia kini berterima kasih kepada Arab Saudi atas infrastruktur ini,” kata Al-Jadaan.
Ia menjelaskan bahwa kapasitas ekspor melalui jalur tersebut kini mencapai 5 juta barel per hari—naik drastis dari sebelumnya yang hanya dimanfaatkan sekitar 20 persen menjadi 100 persen sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu.
Peningkatan ini dinilai berperan penting dalam meredam gejolak pasar minyak global di tengah ketidakpastian yang melanda kawasan.
(Samirmusa/arrahmah.id)
