Memuat...

Perang Narasi antara Washington dan Teheran.. Siapa yang Menulis Cerita, Dialah yang Menang Perang

Oleh Abd al-Azim Muhammad Abd al-RahimPenulis di Al Jazeera Arabic
Ahad, 3 Mei 2026 / 16 Zulkaidah 1447 18:43
Perang Narasi antara Washington dan Teheran.. Siapa yang Menulis Cerita, Dialah yang Menang Perang
Trump membanggakan keberhasilan blokade laut dan penghancuran ribuan target di Iran (AFP/Perancis)

(Arrahmah.id) - Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan mandeknya jalur diplomasi, sejumlah artikel opini dan laporan investigatif dari media Barat dan Israel menggambarkan potret kompleks perang antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam gambaran itu, kalkulasi militer bercampur dengan pertaruhan ekonomi global.

Meski sudut pandang para penulis berbeda-beda, mereka sepakat bahwa konfrontasi dengan Iran telah berubah menjadi ujian nyata atas batas pengaruh Amerika Serikat, serta kemampuan Washington untuk menerjemahkan keunggulan militernya menjadi keuntungan politik yang berkelanjutan.

Sejarah yang Terulang Kembali

Dalam analisis opini di The Wall Street Journal, kolumnis Holman Jenkins menilai bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi dilema strategis yang mirip dengan Presiden John F. Kennedy setelah kegagalan invasi Teluk Babi pada 1961.

Invasi tersebut terjadi pada 15–19 April 1961, ketika sekitar 1.400 pengasingan Kuba yang dilatih CIA melakukan pendaratan di Teluk Babi, dengan tujuan menggulingkan pemerintahan Fidel Castro. Namun operasi itu gagal total, dan sebagian besar pasukan tewas atau ditangkap.

Jenkins menyebut bahwa seperti Kennedy yang gagal menggulingkan Kuba, Trump kini menghadapi situasi ketika “rencana A” tidak berjalan sesuai harapan.

Pasar global, dari minyak hingga saham, kini bertaruh pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Hal ini menjadikan jalur tersebut bukan lagi sekadar alat tekanan Amerika, tetapi juga instrumen pengaruh di tangan Iran.

Jenkins juga memperingatkan bahwa strategi blokade maritim terhadap pelabuhan Iran berpotensi menjadi beban berat bagi militer AS, sekaligus memberi Teheran kemampuan mengatur ritme konflik.

Trump atau Netanyahu: Siapa yang Menyeret Siapa ke Dalam Perang? (Getty Images)

Siapa yang Mendorong Perang?

Media Israel Hayom menyajikan narasi berbeda mengenai latar belakang perang terhadap Iran. Media itu mengungkap pertemuan antara Trump dan Benjamin Netanyahu di Mar-a-Lago pada akhir 2025 dan awal 2026.

Laporan tersebut membantah bahwa Netanyahu memaksa Trump untuk berkonflik dengan Iran. Sebaliknya, keputusan AS disebut sebagai strategi independen Trump untuk melemahkan atau menggulingkan rezim Iran.

Laporan itu juga menyebut adanya perpecahan di internal pemerintahan AS. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mendukung pendekatan agresif, sementara Marco Rubio dan JD Vance memperingatkan risiko perang berkepanjangan jika tujuan “pergantian rezim” dijadikan target resmi.

Trump sendiri disebut terpengaruh oleh kegagalan negosiasi dengan Korea Utara, yang memperkuat keyakinannya untuk bertindak sebelum Iran memiliki senjata nuklir.

Selain itu, Iran dipandang sebagai bagian dari jaringan geopolitik yang melibatkan China dan Rusia, sehingga konflik ini memiliki dampak global.

Taruhan Washington dan Ketahanan Teheran


Daniel DePetris dari Center for Defense Priorities dalam The Telegraph menilai Iran berhasil menempatkan AS dalam posisi sulit melalui strategi asimetris.

Menurutnya, meskipun AS mengklaim menghancurkan ribuan target militer, Iran tetap mampu memberikan dampak ekonomi global dengan mengganggu jalur minyak hingga 95%.

Konflik ini disebut sebagai perang atrisi, di mana AS berusaha menekan ekonomi Iran, sementara Iran meningkatkan biaya politik dan ekonomi bagi Washington dan sekutunya.

DePetris juga menyebut bahwa perubahan besar di Iran tidak mengubah struktur kekuatan internalnya, yang tetap stabil dalam posisi strategis.

Dengan kondisi ini, Trump dihadapkan pada dua pilihan sulit: eskalasi militer besar atau kesepakatan damai yang belum menyelesaikan isu inti nuklir.

Jurnalis berkumpul di sekitar drone Shahed-136 buatan Iran yang dipamerkan di dalam Parlemen Inggris (Getty Images)

Pilihan yang Sempit dan Dampak Global

Thomas Friedman dalam The New York Times menilai dunia sedang berada di titik kritis yang dapat mengubah peta Timur Tengah secara keseluruhan.

Ia memperingatkan bahwa perang ini menunjukkan kesalahan dalam memahami dinamika perang modern yang kini bersifat asimetris dan berbasis teknologi.

Iran disebut telah menggunakan drone untuk menyerang infrastruktur digital, sementara kelompok bersenjata memproduksi rudal murah yang menandingi sistem pertahanan mahal.

Kesimpulan


Berbagai analisis tersebut menunjukkan perbedaan sudut pandang dalam membaca konflik AS–Iran. Namun semuanya sepakat bahwa perang ini telah melampaui dimensi militer semata.

Faktor ekonomi global, geopolitik, dan teknologi kini menjadi penentu utama arah konflik.

Pada akhirnya, setiap keputusan yang diambil Washington akan membawa dampak yang jauh melampaui Timur Tengah, hingga mempengaruhi tatanan dunia internasional.

(Samirmusa/arrahmah.id)