BAMAKO (Arrahmah.id) -- Kelompok militan Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) menyerukan warga Mali untuk melawan pemerintah militer yang berkuasa dan mendirikan sistem pemerintahan berbasis syariat Islam, dalam pernyataan terbaru yang dirilis di tengah eskalasi konflik di negara Afrika Barat tersebut.
Dilansir Hindustan Times dan Caliber.az (1/5/2026), JNIM juga menyebut pemerintah Mali sebagai “rezim diktator” dan mengajak masyarakat untuk bangkit melawan kekuasaan militer.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara kelompok, Abu Hudheifah al-Bambari, yang menegaskan bahwa tujuan mereka adalah mengganti sistem pemerintahan saat ini dengan hukum Islam.
“Kami menyerukan rakyat Mali untuk bangkit melawan rezim diktator dan menegakkan syariat Islam sebagai dasar pemerintahan,” ujar Abu Hudheifah al-Bambari dalam pernyataan yang dikutip Hindustan Times.
Seruan ini muncul di tengah meningkatnya aktivitas militan di Mali, termasuk serangan terhadap instalasi militer dan upaya pengepungan ibu kota Bamako dalam beberapa pekan terakhir. Konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade itu kini memasuki fase baru dengan tekanan yang semakin besar terhadap pemerintah militer.
Secara konteks, Mali saat ini dipimpin oleh junta militer di bawah Assimi Goïta, yang mengambil alih kekuasaan melalui kudeta dan masih menghadapi tantangan keamanan dari berbagai kelompok bersenjata di wilayah utara dan tengah.
Sejumlah analis menilai seruan JNIM ini merupakan bagian dari strategi propaganda untuk memperluas dukungan lokal, sekaligus melemahkan legitimasi pemerintah di mata masyarakat.
Hingga kini, pemerintah Mali belum memberikan tanggapan resmi terhadap pernyataan tersebut. Namun, otoritas sebelumnya menegaskan akan terus melakukan operasi militer untuk menumpas kelompok bersenjata dan menjaga stabilitas negara.
Seruan ini meningkatkan kekhawatiran internasional akan potensi eskalasi konflik dan dampaknya terhadap keamanan regional di kawasan Sahel, yang selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas kelompok ekstremis di Afrika. (hanoum/arrahmah.id)
