Memuat...

Iran Klaim Temukan Rudal AS yang Tak Meledak, Potensi Ancaman Rekayasa Balik Teknologi Militer

Zarah Amala
Senin, 27 April 2026 / 10 Zulkaidah 1447 11:00
Iran Klaim Temukan Rudal AS yang Tak Meledak, Potensi Ancaman Rekayasa Balik Teknologi Militer
Sebuah saluran televisi Iran melaporkan keberhasilan penjinakan bom penghancur bunker buatan Amerika, model GBU-57 (Shutterstock).

TEHERAN (Arrahmah.id) - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini merambah ke ranah perang teknologi yang lebih dalam. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui saluran media Press TV mengumumkan penemuan sejumlah besar amunisi Amerika Serikat yang tidak meledak di berbagai wilayah Iran, termasuk provinsi Hormozgan dan Zanjan.

Menurut laporan Press TV yang mengutip unit intelijen IRGC, lebih dari 15 rudal berat Amerika yang telah diamankan dan diserahkan ke unit riset teknis untuk proses rekayasa balik (reverse engineering). Salah satu temuan yang paling signifikan adalah bom tipe GBU-57 (Massive Ordnance Penetrator), senjata pemecah bunker canggih yang kini telah berada di tangan otoritas Iran.

Pasukan IRGC juga mengklaim telah mengumpulkan lebih dari 9.500 bom kecil (sub-amunisi) yang tersebar di wilayah provinsi Zanjan.

Analis militer dan mantan pejabat intelijen AS (CIA) menyatakan kekhawatiran mendalam bahwa Iran tidak bekerja sendirian. Terdapat kekhawatiran serius bahwa Iran mungkin membagikan temuan ini kepada Rusia atau Cina untuk mendapatkan dukungan teknis.

Proses rekayasa balik ini menargetkan teknologi paling sensitif, seperti mempelajari bagaimana rudal seperti Tomahawk dan JASSM (rudal jelajah udara-ke-darat) menavigasi target, membedah komponen pesawat nirawak (drone) canggih seperti Reaper untuk memahami cara kerja sistem pengintaian dan deteksi mereka, atau mempelajari teknologi untuk mengatasi sistem pertahanan udara dan melakukan tindakan balasan (seperti teknik pengacauan sinyal).

Laporan pertahanan dari The Guardian menyoroti bahwa kampanye militer yang dipimpin oleh administrasi Donald Trump sejak 28 Februari lalu belum mencapai tujuan strategisnya untuk melumpuhkan Iran.

Data intelijen memperkirakan bahwa meskipun telah menerima serangan udara masif, Iran masih memiliki sekitar setengah dari cadangan rudal dan drone-nya, yang cukup untuk mengancam navigasi di Selat Hormuz.

Analis Fawaz Gerges menyebut perang ini sebagai kesalahan strategis karena alih-alih melemah, Teheran justru keluar dari konfrontasi dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi. Iran kini memiliki kemampuan untuk memutus jalur energi global di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab sebagai alat tawar politik yang jauh lebih efektif daripada isu program nuklir mereka.

Penemuan amunisi ini menegaskan bahwa konflik yang dimulai sejak 28 Februari lalu, yang telah menelan lebih dari 3.000 jiwa sebelum gencatan senjata 8 April, telah mengubah Iran menjadi laboratorium militer yang berbahaya, di mana teknologi Barat yang jatuh ke tangan mereka bisa berbalik menjadi ancaman bagi keunggulan militer AS di masa depan. (zarahamala/arrahmah.id)