JAKARTA (Arrahmah.id) - Keterbatasan penglihatan tidak menjadi penghalang bagi Saifuddin HM Abd Muin Saideng untuk menunaikan ibadah haji.
Jemaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan itu akhirnya berangkat ke Tanah Suci setelah menabung selama lebih dari dua dekade.
Saifuddin tergabung dalam Kloter 17 Embarkasi Makassar dan kini berada di Asrama Haji Sudiang sebelum diberangkatkan.
Meski mengalami keterbatasan fisik sejak remaja, ia tetap menjalani aktivitas sehari-hari, termasuk menjadi imam masjid di kampung halamannya.
“Saya imam masjid di kampung. Saya bisa hafal jalan ke masjid saat masih bisa melihat dulu,” ujar Saifuddin, Sabtu (2/5/2026).
Perjalanan menuju ibadah haji bukanlah hal mudah. Dengan penghasilan yang terbatas, Saifuddin harus menyisihkan uang sedikit demi sedikit dari hasil berjualan bahan campuran serta honor sebagai imam masjid.
“Lebih dari 20 tahun menabung. Jualan bahan campuran, honor imam Rp200 ribu,” tuturnya.
Ia mengaku telah mendaftar haji sejak tahun 2014 dan bersyukur akhirnya mendapat kesempatan berangkat tahun ini. “Tahun 2014 sudah mendaftar. Alhamdulillah,” katanya.
Meski tidak lagi bisa melihat, Saifuddin tetap berusaha mandiri. Dalam perjalanan hajinya, ia didampingi anggota keluarga yang akan membantu selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
“Alhamdulillah ada keluarga, tapi saya masih kuat jalan,” ungkapnya.
Saifuddin mulai kehilangan penglihatan sejak duduk di bangku SMP. Awalnya, ia merasakan sakit pada mata hingga bengkak sebelum penglihatannya perlahan menghilang.
“Awalnya seperti tertusuk jarum, kemudian bengkak. Sudah pernah berobat ke dokter mata di Makassar, tapi penglihatan berangsur hilang,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Sinjai, Kamriati Anis, menyampaikan bahwa Saifuddin termasuk jemaah difabel yang mendapatkan perhatian khusus.
“Di Kabupaten Sinjai memang ada jemaah tunanetra. Pendampingannya lebih kepada bantuan keluarga,” ujarnya.
Menurut Kamriati, Saifuddin tidak menggunakan alat bantu khusus seperti kursi roda dan masih mampu berjalan sendiri. Namun, pihaknya telah mengingatkan petugas dan ketua kloter agar memberikan perhatian lebih selama pelaksanaan ibadah haji.
“Kami sudah titip kepada ketua kloter agar memberikan bantuan dan perhatian khusus kepada beliau,” katanya.
Kisah Saifuddin menjadi inspirasi bahwa keterbatasan fisik bukan halangan untuk mewujudkan niat suci, selama diiringi dengan kesabaran, usaha, dan keikhlasan.
(ameera/arrahmah.id)
