Memuat...

Masjid di Jerman Dirusak, Kepala Babi dan Darah Ditemukan di Pintu Masuk

Hanoum
Ahad, 3 Mei 2026 / 16 Zulkaidah 1447 04:44
Masjid di Jerman Dirusak, Kepala Babi dan Darah Ditemukan di Pintu Masuk
Masjid di JErman divandal dengan kepala babi dan darah. [Foto: X]

BERLIN (Arrahmah.id) -- Sebuah masjid di Jerman menjadi sasaran vandalisme bernuansa kebencian setelah pelaku tak dikenal meletakkan kepala babi dan melumuri area masjid dengan darah, dalam insiden yang terjadi pada Jumat (1/5/2026) dan memicu kecaman luas.

Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi di salah satu masjid yang dikelola komunitas DITIB, organisasi Islam besar di Jerman. Berdasarkan laporan A News dan Prizren Post (2/5), pelaku meninggalkan kepala babi di pintu masuk masjid serta menyiramkan darah hewan di area sekitar sebagai bentuk provokasi.

Insiden terjadi pada malam hari, dengan pelaku belum teridentifikasi hingga saat ini. Pihak kepolisian Jerman langsung melakukan penyelidikan dan mengamankan lokasi kejadian sebagai bagian dari proses forensik.

Seorang perwakilan komunitas masjid mengecam keras tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai serangan terhadap kebebasan beragama.

“Ini adalah tindakan kebencian yang jelas ditujukan kepada umat Muslim. Kami berharap pelaku segera ditangkap,” ujar perwakilan DITIB.

Secara konteks, penggunaan simbol kepala babi dan darah dalam vandalisme terhadap masjid memiliki makna provokatif, karena bertentangan dengan ajaran Islam yang melarang konsumsi babi. Tindakan semacam ini kerap dikategorikan sebagai bentuk islamofobia.

Kasus ini menambah daftar panjang insiden serupa di Eropa. Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa serangan terhadap tempat ibadah Muslim, termasuk vandalisme dan ancaman, meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring naiknya sentimen anti-imigran dan kelompok sayap kanan.

Hingga kini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut. Otoritas Jerman menegaskan komitmennya untuk mengusut kasus ini dan meningkatkan pengamanan di tempat-tempat ibadah guna mencegah kejadian serupa.

Insiden ini kembali memicu kekhawatiran mengenai meningkatnya kejahatan berbasis kebencian di Eropa, serta pentingnya perlindungan terhadap kebebasan beragama di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks. (hanoum/arrahmah.id)