Kita sebagai bangsa yang penduduk Muslimnya terbesar di dunia harus menampilkan akhlak yang mulia. Akhlak adalah cerminan nilai-nilai agama Islam yang diserap dalam diri seorang Muslim.
Dalam teori etika atau moralitas manusia secara umum terdapat empat sumber utama:
- Pertama, etika bersumber dari kearifan budaya.
- Kedua, etika bersumber dari intuisi dan perasaan.
- Ketiga, etika bersumber dari kenikmatan dan kemanfaatan (pragmatisme) serta kesempatan (oportunisme).
- Keempat, etika bersumber dari akal.
Itulah kesimpulan tren etika dalam pengalaman umat manusia di luar umat Islam. Adapun bagi umat Islam, sumber akhlak adalah wahyu.
Akar Kerusakan Akhlak
Pokok kerusakan akhlak dalam pengalaman manusia sejak awal sejarahnya ada tiga:
- Pertama: Sombong. Inilah karakter yang dimiliki oleh Iblis.
- Kedua: Tamak. Sifat inilah yang menyebabkan Nabi Adam ‘alaihis salam bersama istrinya Hawa dikeluarkan dari surga setelah melanggar larangan Allah karena keinginan yang berlebihan.
- Ketiga: Dengki. Karakter buruk inilah yang menyebabkan Qabil membunuh saudaranya sendiri, Habil.
Pokok-Pokok Akhlak Menurut Para Ulama
Menarik untuk memperhatikan kesimpulan Ibnu Hazm dalam kitab Al-Akhlak was Siyar (hal. 59) tentang pokok akhlak manusia.
Empat pokok akhlak baik:
- Keadilan
- Ilmu dan pemahaman
- Keberanian
- Kedermawanan
Lawan dari akhlak tersebut:
- Kezaliman
- Kebodohan
- Pengecut
- Pelit (kikir)
Sementara itu Ibnul Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin (2/308) menyebutkan empat pokok akhlak mulia:
- Sabar
- ‘Iffah (menjaga kehormatan diri)
- Keberanian
- Keadilan
Adapun Imam Sufyan Ats-Tsauri menyebutkan tiga prinsip sederhana:
- Berbuatlah yang terbaik.
- Jangan mengganggu orang lain.
- Senantiasa tersenyum.
Akhlak Ulama
Imam Al-Ajurri dalam kitab Akhlaqul ‘Ulama menjelaskan bahwa seorang ulama harus memiliki akhlak yang tinggi:
- Jika bertemu ulama yang lebih tinggi ilmunya, ia belajar darinya.
- Jika bertemu ulama yang ilmunya setara, ia berdialog dengannya.
- Jika bertemu orang yang ilmunya di bawahnya, ia mengajarkannya.
Begitu pula teladan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq رضي الله عنه:
“Jika engkau bertemu orang tua, katakan dalam dirimu bahwa ia lebih mulia karena lebih dahulu dalam iman dan amal. Jika engkau bertemu anak muda, katakan bahwa ia lebih mulia karena dosanya lebih sedikit dibandingkan dirimu.”(Aina Nahnu min Akhlaqis Salaf, hal. 17)
Luasnya Cakupan Akhlak
Akhlak dalam Islam mencakup banyak aspek kehidupan:
Akhlak kepada Allah: mencintai-Nya, berharap hanya kepada-Nya, takut hanya kepada-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, dan bertawakal kepada-Nya.
Akhlak kepada Rasulullah ﷺ: mencintainya, mencintai keluarganya, mengikuti sunnahnya, serta meneladani akhlaknya.
Akhlak kepada Al-Qur’an: membacanya, mentadabburinya, mengamalkannya, mengajarkannya, dan menjadikannya pedoman hidup.
Akhlak kepada makhluk: kepada orang tua, keluarga, tetangga, kaum Muslimin, bahkan kepada non-Muslim, hewan, tumbuhan, dan seluruh alam semesta.
Hidup ini pada hakikatnya hanya ada dua: kebaikan dan keburukan. Akhlak mulia selalu bersentuhan dengan kebaikan, sedangkan akhlak buruk selalu berkaitan dengan keburukan.
Alangkah indahnya jika kehidupan kita dihiasi dengan karakter mulia seperti itu. Dari madrasah puasa akan lahir generasi yang berakhlak mulia, insyaAllah.
Hadits tentang Keutamaan Akhlak
« إنَّ من أحبِّكم إليَّ وأقربكم منِّي مجلسًا يومَ القيامةِ أحاسنَكُم أخلاقًا ، وإنَّ أبغضَكم إليَّ وأبعدَكم منِّي مجلسًا يومَ القيامةِ : الثَّرثارونَ ، والمتشدِّقونَ ، والمتفَيهِقون »
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari Kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci serta paling jauh dariku pada hari Kiamat adalah orang-orang yang banyak bicara, suka mengganggu, dan sombong.”
(HR. At-Tirmidzi)
Wallahul Musta’an.
(*/arrahmah.id)
