Memuat...

Puasa dan Pendidikan (1)

Oleh Ustadz Farid OkbahDa'i dan Ulama Nasional
Ahad, 8 Maret 2026 / 19 Ramadan 1447 14:23
Puasa dan Pendidikan (1)
Puasa dan Pendidikan (1)

(Arrahmah.id) - Pola perubahan manusia yang paling signifikan adalah lewat pendidikan. Ada teori wahyu dan banyak teori manusia; ada pola Barat, pola Timur, dan pola Islam. Sebanyak enam orang profesor pendidikan di Mesir mempelajari berbagai teori manusia, termasuk yang dianggap paling canggih yaitu Barat dan Israel.

Barat menggunakan teori sekularisme: agama dianggap wilayah pribadi, dan agama harus dipisahkan dari negara. Teori inilah yang digaungkan oleh Sutan Takdir Alisjahbana agar bangsa Indonesia mengikuti Barat dan meninggalkan semua budaya lokal dalam artikelnya tahun 1935 berjudul “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru.”

Gagasan ini juga diikuti oleh Soekarno yang mencontoh pola Turki. Pada tahun 1940 ia menulis artikel berjudul “Memudakan Islam”, yang kemudian dibantah oleh A. Hasan dan M. Natsir pada masa itu.

Berbeda dengan Israel yang mendasarkan teori pendidikannya pada tiga hal:

  • Pertama, kembali kepada ajaran agama Yahudi.
  • Kedua, mengajarkan berpikir bebas.
  • Ketiga, menguasai teknologi.

Menurut Prof. Naquib Al-Attas dari Malaysia, kelemahan pendidikan dunia Islam disebabkan oleh loss of adab yang berakibat pada confusion of knowledge.

Sedangkan menurut Prof. B.J. Habibie, pendidikan harus memadukan Imtaq (iman dan takwa) dengan penguasaan Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).

Pembukaan UUD 1945 juga menyatakan:

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”

Selain itu, Pasal 31 UUD 1945 menegaskan bahwa pendidikan nasional bertujuan meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Secara teoritis, tujuan pendidikan di Indonesia sangat mulia. Namun bagaimana kenyataannya? Korupsi merajalela, dekadensi moral mengkhawatirkan, integritas pribadi dan rumah tangga banyak yang rusak.

Bahkan kita sering melihat slogan di dinding sekolah:

“Cerdas, Terampil, Bertaqwa.”

Takwa justru diletakkan terakhir, sehingga tidak mengherankan jika hasilnya banyak yang tidak sesuai harapan.

Banyak pihak kemudian melakukan koreksi terhadap sistem pendidikan. Hal ini juga disuarakan oleh para pakar pendidikan di Lembaga Pengkajian MPR RI pada 24 Oktober 2017.

Mantan Menteri Pendidikan Prof. Dr. Anies Baswedan juga menyampaikan bahwa perbaikan pendidikan perlu dilakukan melalui tiga hal:

  • Pertama, pendidikan karakter.
  • Kedua, kompetensi.
  • Ketiga, literasi.

Sebagai umat Islam yang dibimbing oleh wahyu Al-Qur'an, kita memiliki contoh nyata keberhasilan pendidikan dari Rasulullah ﷺ. Beliau berhasil mendidik generasi terbaik, yaitu para sahabat, yang mampu mengubah dunia dan meruntuhkan dua kekuatan besar pada masa itu: Persia dan Romawi.

Mengapa kita tidak merujuk kepada pola ilahi tersebut? Terkadang kita terlalu kagum pada Barat dan Timur, padahal kita memiliki panduan yang sangat canggih tetapi justru kita tinggalkan.

Pada bulan Ramadhan ini, mari kita evaluasi kembali pola pendidikan kita agar sukses dunia dan akhirat. Secara undang-undang, bangsa Indonesia sudah memiliki pijakan yang baik, tinggal bagaimana implementasinya.

Mari kita pelajari bagaimana Allah سبحانه وتعالى mengajarkan Nabi ﷺ untuk mengubah manusia. Selama ini kita sering mengandalkan akal semata, padahal akal memiliki keterbatasan. Akibatnya kita terus melakukan trial and error.

Sementara konsep Al-Qur'an yang dipraktikkan oleh Nabi ﷺ telah melahirkan generasi gemilang yang mampu mengubah peradaban manusia menjadi lebih beradab dan sejahtera.

Al-Qur'an mengajarkan tiga hal penting:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ


“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang:
(1) membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya,
(2) menyucikan jiwa mereka,
(3) mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah),
meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. Al-Jumu’ah: 2)

Urutannya adalah:

  • (1) memperbaiki qalbu,
  • (2) membersihkan jiwa,
  • (3) mencerdaskan akal.

Pertama: Memperbaiki Qalbu

Jika qalbu baik dengan petunjuk Al-Qur'an, maka keinginan manusia akan menjadi benar.

فَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَجَاهِدْهُمْ بِهٖ جِهَادًا كَبِيْرًا

“Maka janganlah engkau taati orang-orang kafir, dan berjuanglah melawan mereka dengan Al-Qur'an dengan perjuangan yang besar.” (QS. Al-Furqan: 52)

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur'an ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Bukankah manusia melangkah selalu diawali oleh keinginannya? Jika keinginannya baik, maka akal dan perilakunya akan mengikuti ke arah yang baik. Sebaliknya jika keinginannya buruk, maka akal dan tindakannya akan menuju keburukan.

Nabi ﷺ bersabda:

« إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ »

“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”

Sebagian ulama bahkan menyebutkan bahwa niat menempati sepertiga ilmu agama. Niat ini dibangun di atas tauhid sehingga tunduk kepada syariat Allah.

ثُمَّ جَعَلْنٰكَ عَلٰى شَرِيْعَةٍ مِّنَ الْاَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَاۤءَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ


“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat dari agama itu, maka ikutilah syariat tersebut dan janganlah mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
(QS. Al-Jatsiyah: 18)

(Bersambung…)

Editor: Samir Musa