Memuat...

Karhutla Arjuno-Welirang Hanguskan 736,8 Hektare, Puluhan Titik Api Masih Aktif

Ameera
Rabu, 21 Oktober 2026 / 11 Jumadilawal 1448 22:06
Karhutla Arjuno-Welirang Hanguskan 736,8 Hektare, Puluhan Titik Api Masih Aktif
Karhutla Arjuno-Welirang Hanguskan 736,8 Hektare, Puluhan Titik Api Masih Aktif

PASURUAN (Arrahmah.id) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, telah menghanguskan 736,8 hektare lahan.

Hingga Rabu (21/10/2026) sore, api masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya dan luas area terdampak berpotensi bertambah.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengatakan angka tersebut merupakan data sementara karena kebakaran masih berlangsung.

“Area yang terbakar 736,8 hektare, data dapat berkembang,” kata Satriyo dalam laporannya.

Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Jumat (16/10/2026) di kawasan Gunung Ringgit, Desa Ledug, Kecamatan Prigen. Hingga kini, penyebab kebakaran masih belum diketahui dan proses penyelidikan masih berjalan.

Meski demikian, BPBD memastikan titik api masih berjarak sekitar 2–3 kilometer dari permukiman warga. Aktivitas masyarakat di sekitar lokasi juga belum terdampak secara langsung. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam kejadian tersebut.

“Jarak titik api dari permukiman warga sekitar 2-3 km dan aktivitas masyarakat sekitar tidak terdampak secara langsung,” tulis Satriyo.

Berdasarkan pantauan visual petugas, kepulan asap terlihat di kawasan Pecalukan atau Kop Kopan dan Bukit Limas. Pergerakan api terpantau mengarah ke Tretes sehingga tim gabungan melakukan penyekatan untuk mengantisipasi kemungkinan api mendekati perkampungan.

“Dilakukan penyekatan untuk antisipasi jika api mengarah ke perkampungan warga,” ujarnya.

Sementara itu, berdasarkan data satelit SiPongi, terdapat 53 titik panas di kawasan Arjuno-Welirang. Dari jumlah tersebut, satu titik masuk kategori tinggi, sedangkan 52 titik lainnya berada pada kategori sedang.

Puluhan Personel Dikerahkan

Untuk mengendalikan kebakaran, sedikitnya 64 personel gabungan dikerahkan melakukan pemadaman dari darat. UPT Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo juga memberangkatkan 40 personel melalui jalur Claket.

Personel tersebut dibagi menjadi dua tim. Satu tim bergerak menuju Bukit Lali Jiwo, sedangkan tim lainnya menuju Bukit Torong Bunder Sajen.

Namun, upaya pemadaman menghadapi kendala medan yang terjal dan sulit dijangkau. Sejumlah titik api berada di kawasan ketinggian atau punggungan gunung yang tidak dapat diakses kendaraan bermotor.

“Lokasi titik api sering kali berada di ketinggian atau punggungan gunung yang tidak dapat dijangkau oleh kendaraan bermotor. Tim gabungan harus berjalan kaki mendaki dan pemadaman hanya bisa dilakukan secara manual,” kata Satriyo.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Mojokerto juga melakukan pemantauan pergerakan api dari Pos Pendakian Bukit Cendono, Mojokerto. Koordinasi dengan pihak terkait di wilayah terdampak terus dilakukan untuk mendukung penanganan kebakaran.

Karhutla Juga Terjadi di Situbondo

Selain di kawasan Arjuno-Welirang, kebakaran hutan dan lahan juga masih terjadi di kawasan Tamankursi, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo. Kebakaran di wilayah tersebut terdeteksi sejak Kamis (15/10/2026).

Tim gabungan saat ini memantau titik api dari Pos Mata Air 2 hingga Blok Penyonsonan. Berdasarkan pengamatan visual, kepulan asap juga masih terlihat di kawasan puncak Gunung Argopuro.

Hingga laporan disampaikan, luas lahan yang terbakar di kawasan tersebut belum diketahui. Vegetasi yang terdampak meliputi rumput, semak, dan cemara gunung.

Medan yang terjal dan sulit dijangkau menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman secara manual.

“Titik api berada di daerah terjal dan sulit dijangkau sehingga penanganan pemadaman secara manual tidak bisa dilakukan,” ujar Satriyo.

BPBD Jawa Timur terus memantau perkembangan kebakaran di sejumlah wilayah tersebut. Kondisi medan, pergerakan api, serta kedekatan titik kebakaran dengan permukiman menjadi perhatian dalam upaya penanganan dan mitigasi risiko bagi masyarakat.

(ameera/arrahmah.id)