GAZA (Arrahmah.id) - Pemilik restoran di London, Inggris, Harman Singh Kapoor, menuai kecaman setelah mengunggah sejumlah video yang mendukung perang 'Israel' di Gaza dan mengejek penderitaan warga Palestina. Kini, ia mengeluhkan ancaman kebangkrutan akibat boikot pelanggan dan anjloknya penilaian restoran miliknya.
Dilansir Al Jazeera, Kamis (15/10/2026), Kapoor, pengusaha restoran keturunan India beragama Sikh, mengaku restorannya, Spice Dining, mengalami kemerosotan bisnis. Ia juga menuduh Google memanipulasi sistem ulasan pelanggan karena restoran tersebut disebut hanya bisa menerima penilaian satu bintang.
Kapoor turut meminta masyarakat untuk kembali mengunjungi restorannya. Namun, ia mengaku terus mengalami kerugian, sementara tagihan sewa tempat usaha terus menumpuk dan jumlah pelanggan merosot drastis.
Sebelumnya, Kapoor mengunggah sekitar 10 video yang berisi dukungan terhadap perang 'Israel' di Gaza, pernyataan provokatif terhadap warga Palestina, serta ejekan terhadap penderitaan mereka. Video-video itu memicu kemarahan warganet dan pendukung Palestina, yang kemudian menyerukan boikot terhadap restorannya.
Salah satu video keluhannya yang diunggah melalui platform X bahkan telah ditonton lebih dari 13 juta kali. Kapoor juga bersikeras tidak akan menjual daging halal, meskipun restorannya berada di kawasan London dengan populasi Muslim yang cukup besar.
Keluhan Kapoor justru menuai ribuan komentar bernada kritik dan sindiran. Sejumlah warganet menilai kesulitan yang dialami restorannya merupakan konsekuensi dari sikapnya yang mendukung perang 'Israel' di Gaza.
Dalam program Shabakat yang ditayangkan pada 15 Oktober 2026, Al Jazeera menampilkan sejumlah tanggapan warganet terhadap kasus tersebut.
Seorang aktivis bernama Danielle mengaku kecewa karena restoran lokal yang sebelumnya menjadi tempat favoritnya kini lebih banyak menyebarkan kebencian daripada memperhatikan kualitas makanan dan pengalaman pelanggan. Ia juga menyoroti perubahan citra restoran yang dinilai sengaja menonjolkan bahwa tempat itu menyajikan makanan nonhalal.
Warganet lain, Niazi, mengeluhkan buruknya kualitas makanan dan pelayanan. Sementara itu, pengguna bernama Idras menyebut restoran tersebut sebagai tempat yang kotor, berbau tidak sedap, dan tidak higienis.
Komentar serupa disampaikan Laiban, yang mengaku mengalami gangguan pencernaan setelah makan di restoran tersebut dan menyarankan orang lain untuk menghindarinya.
Al Jazeera juga menyebut laporan investigasi media independen Amerika Serikat, Drop Site, yang mengungkap dugaan kontrak senilai 45 juta dolar AS antara Google dan kantor Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu untuk keperluan kampanye iklan dan membantah narasi kelaparan di Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
