WASHINGTON (Arrahmah.id) - Serangan 'Israel' di Gaza dan Suriah kembali menguji upaya Amerika Serikat untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Serangan tersebut berlangsung ketika pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mendorong jalur diplomasi untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Menurut The New York Times, 'Israel' melancarkan serangan mematikan terhadap sebuah kafe di Kota Gaza sehari setelah utusan AS Jared Kushner mengunjungi 'Israel' untuk mendorong rencana perdamaian Trump yang mengalami kebuntuan.
Rencana tersebut mencakup 15 poin, termasuk pelucutan senjata Hamas dan dimulainya pembangunan kembali Gaza.
Trump sebelumnya mengatakan Board of Peace telah mencapai kesepakatan dengan Hamas mengenai pelucutan senjata, sementara 'Israel' diwajibkan memenuhi komitmennya berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada Oktober lalu.
Namun, Netanyahu disebut menolak kesepakatan mengenai pelucutan senjata Hamas dan masih terdapat perbedaan mengenai tahapan pelaksanaannya. AS menginginkan pelucutan senjata Hamas berlangsung bertahap bersamaan dengan penarikan pasukan 'Israel', sedangkan 'Israel' menuntut pelucutan senjata dilakukan terlebih dahulu.
Di Suriah, 'Israel' juga menyerang Bandara Militer Abu al-Duhur di pedesaan timur Idlib. Menurut Axios, 'Israel' memberi tahu Gedung Putih sebelum serangan dan mengklaim operasi itu bertujuan mencegah Turki mengirim sistem senjata canggih serta memperkuat kehadiran militernya di pangkalan tersebut.
Turki membantah klaim itu dan mengatakan tidak ada pasukan Turki di pangkalan tersebut. Ankara menuduh 'Israel' mencari alasan untuk menyerang negara-negara tetangga dan mengganggu stabilitas kawasan.
Serangan 'Israel' yang terdiri dari delapan kali serangan udara itu merusak landasan pacu bandara tanpa menimbulkan korban jiwa.
Utusan khusus AS untuk Suriah, Tom Barrack, menyatakan keprihatinan mendalam dan menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi yang tidak perlu yang tidak membantu stabilitas regional.
Barrack mengatakan pemerintah Suriah tidak mengambil sikap agresif terhadap 'Israel' dan berulang kali menunjukkan keinginan untuk meredakan ketegangan. Washington juga terus mendorong dialog diplomatik antara 'Israel' dan Suriah.
Axios menilai serangan di Suriah memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara Trump dan Netanyahu.
Trump menganggap pendekatannya terhadap pemerintahan Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa sebagai salah satu pencapaian kebijakan luar negerinya. Di sisi lain, hubungan Trump dengan Netanyahu disebut semakin tegang dalam beberapa bulan terakhir.
Meski serangan 'Israel' memicu kekecewaan di Gedung Putih, Axios menilai pemerintahan Trump jarang bersedia menetapkan garis merah yang tegas terhadap Netanyahu.
Pejabat Amerika mengatakan pemerintah Suriah tidak melakukan tindakan agresif terhadap 'Israel' dan selama berbulan-bulan berusaha mencapai kesepakatan keamanan baru untuk mengurangi ketegangan di perbatasan.
Namun, meski kecewa terhadap serangan 'Israel', pemerintahan Trump justru meminta Suriah menahan diri. Washington menilai penyelesaian persoalan tersebut akan lebih mudah dilakukan setelah pemilu 'Israel' yang dijadwalkan pada Oktober mendatang. (zarahamala/arrahmah.id)
