TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Seorang kadet dalam program pelatihan penerbangan militer 'Israel' dilaporkan meninggal akibat bunuh diri pada Senin (10/8/2026) pagi di sebuah pangkalan militer di 'Israel' bagian selatan. Kasus tersebut menambah daftar kematian akibat bunuh diri di lingkungan militer 'Israel', di tengah sorotan terhadap kondisi psikologis personel yang menjalani dinas selama periode konflik berkepanjangan.
Dilansir Middle East Eye (10/8), dua prajurit perempuan yang bertugas sebagai tentara reguler dan seorang prajurit cadangan juga meninggal akibat bunuh diri pada bulan sebelumnya. Berdasarkan penelusuran Haaretz, sedikitnya 18 tentara 'Israel' telah meninggal akibat bunuh diri sejak awal 2026, dengan angka tersebut hanya mencakup kasus yang dilaporkan secara resmi.
Kematian terbaru terjadi di sebuah pangkalan militer di 'Israel' selatan, tempat kadet tersebut mengikuti kursus pelatihan penerbangan. Identitas kadet dan rincian mengenai keadaan yang menyebabkan kematiannya tidak diungkapkan dalam laporan yang tersedia. Pihak militer 'Israel' juga belum memberikan keterangan publik yang menjelaskan penyebab spesifik kematian tersebut.
Kasus ini menjadi perhatian karena terjadi setelah sejumlah laporan mengenai meningkatnya tekanan psikologis di kalangan personel militer 'Israel'. Data yang pernah dilaporkan media 'Israel' menunjukkan adanya kenaikan kasus bunuh diri dibandingkan periode sebelumnya.
Pada 2025, misalnya, laporan media 'Israel' yang dikutip sejumlah media regional menyebut 18 tentara meninggal akibat bunuh diri hingga pertengahan tahun, dibandingkan sembilan kasus pada periode yang sama pada 2024.
Juru bicara militer 'Israel', Brigadir Jenderal Efi Defrin, sebelumnya menolak memberikan angka lengkap mengenai kasus bunuh diri personel militer ketika ditanya mengenai persoalan tersebut. Dalam pernyataannya, Defrin mengatakan, “Setiap prajurit sangat berharga bagi kami. Kami mempublikasikan ketika memungkinkan untuk dipublikasikan—dan apa yang memungkinkan untuk dipublikasikan.”
Selain kasus bunuh diri, organisasi kesehatan mental 'Israel' ERAN sebelumnya melaporkan peningkatan permintaan bantuan dari tentara. Menurut laporan Haaretz, ribuan tentara telah menghubungi layanan tersebut, dengan sebagian panggilan berkaitan dengan tekanan psikologis berat, kecemasan, trauma, kesedihan, dan rasa kesepian. Direktur profesional ERAN, Dr. Shiri Daniels, mengatakan banyak tentara mengalami kesulitan untuk mencari dukungan kesehatan mental. (hanoum/arrahmah.id)
