Memuat...

Terbongkar! Dokumen Rahasia Mossad 1969, Skema Jual-Beli Warga Gaza ke Paraguay

Zarah Amala
Sabtu, 28 Maret 2026 / 9 Syawal 1447 14:27
Terbongkar! Dokumen Rahasia Mossad 1969, Skema Jual-Beli Warga Gaza ke Paraguay
Perang pemusnahan memaksa ratusan ribu warga Palestina mengungsi di dalam Jalur Gaza, menolak untuk pergi (Reuters).

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Sebuah investigasi besar yang dipimpin oleh Ben Reiff, wakil editor majalah +972, mengungkap dokumen rahasia mengenai operasi Mossad pada akhir 1960-an untuk mengusir 60.000 warga Palestina dari Jalur Gaza ke Paraguay, Amerika Selatan. Proyek yang kini disebut sebagai Plot Paraguay ini menggunakan tipu daya lowongan kerja palsu dan ancaman militer untuk mengosongkan populasi Gaza.

Investigasi yang didasarkan pada seri podcast Palestinians in Paraguay ini menunjukkan kemiripan yang mengkhawatirkan antara taktik masa lalu dengan kebijakan migrasi sukarela yang didorong oleh pejabat senior 'Israel' saat ini di tengah perang yang menghancurkan 90% infrastruktur Gaza.

Pada September 1969, puluhan pemuda Gaza diterbangkan dari 'Israel' dengan janji bekerja di Brasil melalui biro perjalanan bernama Batra. Mereka dijanjikan gaji US$3.000 per bulan dan jaminan reuni keluarga.

Bukannya ke Brasil, mereka justru dibuang di Asuncion, Paraguay, yang saat itu dipimpin diktator Alfredo Stroessner. Identitas mereka dicabut, diganti dengan kartu identitas palsu, dan ditinggalkan di pedesaan terpencil tanpa tempat tinggal atau kemampuan bahasa lokal.

Talal al-Dimasi, salah satu penyintas, mengungkapkan bahwa ia dipaksa memilih, ikut program tersebut atau seluruh keluarganya akan diusir secara paksa. "Itu adalah ancaman terang-terangan berkedok peluang ekonomi," ujarnya.

Dokumen dari arsip resmi 'Israel' (Mei 1969) mengungkap bahwa 'Israel' setuju membayar US$33 per orang kepada pemerintah Paraguay untuk setiap warga Palestina yang dideportasi. Israel bahkan memberikan uang muka sebesar US$350.000 untuk 10.000 orang pertama. Mengingat populasi Gaza saat itu hanya 400.000 jiwa, rencana ini bertujuan melenyapkan sebagian besar generasi muda Palestina di sana.

Rencana rahasia ini akhirnya terbongkar dan berhenti total setelah insiden pada 4 Mei 1970. Talal al-Dimasi dan Khalid Kassab menyerbu Kedutaan Besar 'Israel' di Asuncion untuk menghadapi Duta Besar Benjamin Weiser Varon. Insiden tersebut menewaskan sekretaris kedutaan, Edna Peer.

Meski awalnya dituduh sebagai pembunuhan politik oleh PLO, persidangan selama dua tahun justru mengungkap plot pengusiran rahasia ini kepada dunia. Al-Dimasi menyatakan, "Dengan tindakan itu, saya menyelamatkan 60.000 warga Palestina agar tetap tinggal di tanah air mereka."

Investigasi Ben Reiff menarik garis lurus antara Plot Paraguay dengan situasi pasca 7 Oktober 2023. Menteri Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir kini kembali menggunakan istilah migrasi sukarela dan berencana mendirikan kantor khusus migrasi. Kutipan PM Benjamin Netanyahu menyebutkan bahwa penghancuran rumah di Gaza akan memicu hasil yang jelas: migrasi ke luar negeri.

Investigasi mengungkap adanya penerbangan misterius 153 warga Gaza ke Johannesburg melalui Kenya pada November lalu. Operasi ini dilakukan oleh kelompok Al-Majd Europe milik pengusaha 'Israel'-Estonia dengan lisensi Kantor Migrasi Sukarela pemerintah 'Israel'.

Meskipun puluhan ribu telah syahid dan bangunan hancur lebur, investigasi menyimpulkan bahwa proyek pengusiran massal ini tetap menghadapi kegagalan total. Solidaritas warga Gaza dan ketahanan mereka di tanah air terbukti lebih kuat daripada skema rahasia yang telah dijalankan selama lebih dari setengah abad. (zarahamala/arrahmah.id)