Memuat...

Terbongkar! Mossad Gagal Picu Revolusi di Iran

Samir Musa
Kamis, 26 Maret 2026 / 7 Syawal 1447 07:09
Terbongkar! Mossad Gagal Picu Revolusi di Iran
Mossad menjadikan demonstrasi di Iran sebagai bukti untuk meyakinkan Netanyahu dan Trump bahwa sistem pemerintahan bisa digulingkan dari dalam setelah pembunuhan para pemimpin (aljazeera)

Upaya menjatuhkan Iran dari dalam berubah jadi kesalahan strategis mahal meski didukung AS dan “Israel”

(Arrahmah.id) — Sebuah laporan dari media Italia mengungkap kegagalan rencana intelijen kompleks yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Iran dari dalam, setelah harapan akan “ledakan internal” ternyata tidak pernah terwujud.

Dalam laporan yang dipublikasikan situs Inside Over, penulis Roberto Vivaldelli menjelaskan bahwa rencana yang didukung Mossad itu pada akhirnya berubah menjadi kesalahan strategis yang mahal, meskipun mendapat dukungan politik dan intelijen dari Amerika Serikat dan “Israel”.

Dukungan terhadap gelombang protes di Iran bahkan tidak sepenuhnya tersembunyi. Akun resmi Mossad berbahasa Persia diketahui secara terbuka mendorong masyarakat Iran untuk turun ke jalan selama berbulan-bulan. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan pejabat Amerika sebelumnya, termasuk mantan Direktur CIA Mike Pompeo, yang mengakui adanya koordinasi antara Washington dan Tel Aviv dalam mendukung oposisi Iran.

Namun, investigasi yang dilakukan The New York Times—berdasarkan wawancara dengan lebih dari 12 pejabat aktif dan mantan dari Amerika Serikat dan “Israel”—mengungkap bahwa rencana tersebut jauh lebih besar dari sekadar propaganda. Mossad disebut menyusun operasi terintegrasi untuk mengganti rezim Iran dalam kerangka strategi perang.

Serangan Israel terhadap markas Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei merupakan tahap awal dari rencana Mossad untuk menggerakkan rakyat di jalanan (Getty).

Rencana Besar yang Gagal

Menurut laporan tersebut, rencana dimulai pada pertengahan Januari ketika kepala Mossad, David Barnea, mengajukan proposal kepada Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu.

Rencana itu bertujuan memanfaatkan hari-hari pertama konflik untuk memicu pemberontakan internal di Iran, yang diharapkan dapat menggulingkan sistem pemerintahan berbasis ulama.

Proposal ini juga diajukan kepada pejabat tinggi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington, dan mendapat persetujuan, meskipun sejumlah kalangan intelijen—baik di AS maupun “Israel”—sebenarnya meragukan keberhasilannya.

Strategi tersebut mencakup pembunuhan tokoh-tokoh penting Iran di awal perang, disertai serangan udara dan operasi intelijen untuk memicu pemberontakan massal.

Namun sejak awal, penilaian intelijen Amerika menyatakan bahwa kemungkinan runtuhnya pemerintah Iran secara total tergolong kecil. Meski demikian, Trump tetap menyerukan kepada rakyat Iran untuk “mengambil kembali negara mereka”.

Setelah tiga pekan, hasilnya jelas: pemberontakan yang diharapkan tidak pernah terjadi.

Evaluasi bersama menunjukkan bahwa meski mengalami tekanan, pemerintah Iran tetap bertahan, sementara masyarakat berada dalam kendali ketat aparat keamanan.

Trump (kanan) dan Netanyahu menyetujui rencana Mossad meski ada penilaian intelijen Amerika yang tidak mendukung (Le Figaro).

Ilusi yang Menyesatkan

Menurut laporan itu, kesalahan utama terletak pada keyakinan bahwa “Israel” dan Amerika mampu menjatuhkan Iran dari dalam.

Sebaliknya, Teheran justru merespons dengan serangan balasan di berbagai front, menargetkan pangkalan militer, kapal, dan fasilitas energi di kawasan.

Kekecewaan pun melanda Netanyahu, yang dilaporkan marah karena operasi tidak membuahkan hasil cepat, sementara ada kemungkinan Trump menghentikan perang sebelum tujuan tercapai.

Opsi Kurdi yang Gagal

Laporan tersebut juga menyoroti apa yang disebut sebagai “opsi Kurdi”, yakni rencana untuk mempersenjatai kelompok Kurdi Iran dari wilayah Irak guna membuka front baru melawan Teheran.

Namun rencana itu gagal setelah Trump menolak keterlibatan Kurdi secara langsung, dengan alasan tidak ingin memperluas konflik. Selain itu, Turki juga memberikan peringatan keras terhadap setiap upaya mendukung kelompok Kurdi.

Menariknya, mantan kepala Mossad Yossi Cohen sebelumnya justru menilai bahwa memicu pemberontakan di Iran adalah hal yang tidak realistis, bahkan sempat mengurangi alokasi sumber daya untuk tujuan tersebut. Namun pendekatan itu berubah di era Barnea.

Peran Media Barat

Jurnalis Max Blumenthal menilai bahwa media Barat turut memainkan peran dalam membentuk narasi yang mendukung rencana tersebut.

Ia menyebut media seperti The New York Times dan The Guardian telah membantu melegitimasi narasi “protes rakyat”, dengan membesar-besarkan angka korban dan mengaburkan fakta bahwa sebagian korban justru jatuh akibat aksi kelompok bersenjata yang didukung pihak luar.

“Kini, setelah perang tidak berjalan sesuai harapan, barulah sebagian fakta mulai terungkap,” demikian kesimpulan laporan tersebut.

(Samirmusa/arrahmah.id)