Memuat...

Thomas Friedman: Menghancurkan Iran Tidak Akan Menyelesaikan Krisis Timur Tengah

Samir Musa
Sabtu, 21 Maret 2026 / 2 Syawal 1447 18:38
Thomas Friedman: Menghancurkan Iran Tidak Akan Menyelesaikan Krisis Timur Tengah
Penulis Amerika Thomas Friedman menilai bahwa opsi militer saja tidak cukup untuk menyelesaikan krisis di Timur Tengah secara tuntas (Reuters).

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Penulis opini Amerika Thomas Friedman menyatakan keraguannya bahwa konflik di Timur Tengah akan mereda hanya dengan menghancurkan Iran melalui perang yang melibatkan United States dan “Israel”. Menurutnya, pengalaman panjang menunjukkan bahwa tidak ada solusi final dalam konflik di kawasan tersebut.

Dalam artikel opininya di The New York Times, Friedman menegaskan bahwa ungkapan “sekali dan untuk selamanya” merupakan salah satu ilusi paling berbahaya dalam memahami dinamika Timur Tengah, karena setiap konflik cenderung melahirkan konflik baru, meskipun berbagai pihak mengklaim mampu mengakhirinya secara permanen.

Ia kemudian menguraikan tiga prinsip utama yang menurutnya menjadi dasar dalam membaca konflik di kawasan tersebut sejak akhir 1970-an.

Pertama: Tidak Ada Solusi Final

Friedman menilai bahwa pendekatan militer semata tidak akan mampu menghapus ancaman secara permanen. Ia menegaskan bahwa penyelesaian yang benar harus menggabungkan kekuatan militer dan langkah politik yang kompleks, meskipun hal itu menuntut kompromi yang tidak mudah.

Sebagai contoh, ia menyinggung kebijakan “Israel” yang selama ini melakukan operasi pembunuhan terhadap pimpinan Hamas sejak era 1990-an, termasuk tokoh seperti Ahmed Yassin dan Abdul Aziz al-Rantisi. Namun, menurutnya, langkah tersebut tidak mampu mengakhiri keberadaan Hamas yang kini tetap eksis dengan kepemimpinan generasi baru.

Friedman mempertanyakan apakah strategi serupa dapat berhasil jika diterapkan terhadap Iran, mengingat jarak geografis yang jauh serta kompleksitas politik yang lebih besar.

Ia juga menyoroti bahwa di dalam Iran sendiri belum terdapat oposisi yang memiliki kepemimpinan solid dan program yang terorganisir, sementara masyarakatnya berada dalam tekanan internal sekaligus ancaman eksternal.

Kedua: Jangan Merendahkan Martabat Musuh

Menurut Friedman, salah satu kesalahan strategis dalam konflik adalah merendahkan lawan hingga mereka merasa tidak memiliki lagi sesuatu untuk dipertahankan. Dalam kondisi tersebut, konflik justru cenderung menjadi lebih destruktif dan sulit dikendalikan.

Ia mengkritik kebijakan permukiman yang dijalankan “Israel” di wilayah West Bank, yang dinilainya menghambat peluang solusi dua negara dan berpotensi mengarahkan Israel pada pilihan sulit di masa depan.

Selain itu, ia memperingatkan bahwa pendekatan militer yang terlalu agresif terhadap Lebanon dan Iran—termasuk penghancuran infrastruktur dan tekanan ekonomi—justru dapat memicu perlawanan yang lebih luas serta memperdalam instabilitas regional.

Terkait Lebanon, Friedman menyebut bahwa satu-satunya cara realistis untuk melemahkan Hezbollah adalah melalui proses politik internal yang melibatkan pemerintah dan institusi negara, bukan semata tekanan militer dari luar. Namun, upaya tersebut akan sulit tercapai apabila konflik terus diperluas.

Ketiga: Ketika Kekuatan Tidak Lagi Menentukan

Friedman juga menyoroti bahwa dalam realitas modern, kekuatan militer besar tidak selalu menjamin kemenangan strategis. Ia menilai bahwa aktor yang lebih lemah secara konvensional tetap mampu memberikan dampak besar melalui strategi asimetris.

Ia mencontohkan bagaimana Iran dapat mengganggu stabilitas global, termasuk melalui ancaman terhadap jalur energi di kawasan strategis seperti Selat Hormuz, yang dapat memicu lonjakan harga energi dunia.

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa perang modern tidak lagi ditentukan semata oleh kekuatan militer konvensional, melainkan juga oleh kemampuan mempengaruhi sistem global dengan biaya yang relatif kecil.

Penutup: Politik Lebih Efektif daripada Perang

Friedman menegaskan bahwa konflik yang berlangsung di Timur Tengah tidak akan berakhir hanya dengan eliminasi para pemimpin atau penghancuran kekuatan militer pihak lawan.

Ia menilai bahwa solusi yang lebih realistis adalah menciptakan ruang bagi proses politik yang sehat di Gaza, Lebanon, dan Iran, sehingga para pemimpin politik terpaksa mempertimbangkan aspirasi rakyat mereka.

Dalam pandangannya, hanya melalui jalur politik, bukan dominasi militer, stabilitas jangka panjang dapat tercapai di kawasan yang selama ini terus dilanda konflik berkepanjangan.

(Samirmusa/arrahmah.id)