WASHINGTON (Arrahmah.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menolak usulan Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu untuk mendorong rakyat Iran turun ke jalan melakukan demonstrasi terhadap pemerintah mereka.
Mengutip laporan Axios (26/3), dua pejabat Amerika dan satu sumber Israel mengungkap bahwa Netanyahu mengusulkan agar dirinya bersama Trump mengeluarkan seruan publik terkoordinasi kepada rakyat Iran untuk memicu aksi protes massal.
Namun dalam percakapan telepon di antara keduanya, Trump menilai langkah tersebut sangat berisiko. Seorang pejabat Amerika yang mengetahui isi pembicaraan itu mengatakan Trump mempertanyakan ide tersebut dengan tegas.
“Mengapa kita menyerukan orang-orang untuk turun ke jalan jika mereka akan dibunuh?” ujar Trump, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut.
Netanyahu dalam pembicaraan itu mengklaim bahwa kondisi internal Iran sedang kacau dan membuka peluang untuk mengguncang stabilitas pemerintahan. Ia meyakini bahwa tekanan dari jalanan bisa mempercepat perubahan situasi di dalam negeri Iran.
Meski demikian, Trump disebut khawatir bahwa seruan semacam itu justru akan berujung pada pertumpahan darah terhadap warga sipil.
Kedua pemimpin akhirnya sepakat untuk menunggu dan melihat apakah masyarakat Iran akan turun ke jalan secara spontan dalam perayaan Nowruz yang jatuh pada 21 Maret lalu.
Tidak Terjadi Demonstrasi
Namun hingga perayaan Nowruz berlalu, tidak terlihat adanya gelombang demonstrasi besar di Iran, meskipun sebelumnya terdapat berbagai seruan dari pihak "Israel" dan Amerika sejak pecahnya perang pada akhir Februari.
Dalam konteks tersebut, Netanyahu sebelumnya juga sempat menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran, menyerukan mereka untuk turun ke jalan dan “merayakan kebebasan”, sambil menyatakan bahwa "Israel" “mengawasi dari atas.”
Ia bahkan mengaitkan seruan tersebut dengan operasi militer yang diklaim menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Gholam Reza Soleimani dan Ali Larijani.
Sumber-sumber Israel menyebut bahwa pembunuhan terhadap komandan Basij tersebut dimaksudkan untuk memicu gelombang pemberontakan rakyat, mengingat perannya dalam menekan demonstrasi sebelumnya.
Meski demikian, harapan akan munculnya aksi massa besar tidak terwujud. Sementara itu, meskipun Trump di awal konflik sempat menyatakan bahwa rakyat Iran akan memiliki kesempatan menentukan masa depan mereka pasca-perang, pernyataan tersebut jarang kembali ia ulangi.
Di sisi lain, sejumlah pejabat Amerika menilai bahwa perubahan rezim di Iran bukanlah tujuan utama, melainkan sekadar “bonus tambahan” jika benar-benar terjadi.
(Samirmusa/arrahmah.id)
