Memuat...

Trump Lempar Tanggung Jawab, Sebut Pete Hegseth Sosok di Balik Serangan ke Iran

Zarah Amala
Rabu, 25 Maret 2026 / 6 Syawal 1447 09:56
Trump Lempar Tanggung Jawab, Sebut Pete Hegseth Sosok di Balik Serangan ke Iran
Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth saat rapat Kabinet pada 30 April 2025 (Jim Watson/AFP/Getty Images)

MEMPHIS (Arrahmah.id) - Dalam sebuah acara diskusi panel di Memphis, Tennessee, Senin (23/3/2026), Presiden Donald Trump secara terbuka menyebut Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebagai orang pertama yang mendukung peluncuran serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Trump mengklaim Hegseth mendesak tindakan militer dengan alasan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Pernyataan ini muncul di saat operasi militer telah memasuki pekan keempat, menewaskan 13 tentara AS sejauh ini, dan memicu lonjakan harga bahan bakar global akibat blokade Selat Hormuz. Trump menceritakan kembali momen sebelum Operasi Epic Fury dimulai. Ia mengeklaim bahwa saat berdiskusi dengan para petinggi militer, Hegseth langsung merespons dengan kata-kata, "Ayo lakukan karena Anda tidak bisa membiarkan mereka memiliki senjata nuklir."

Trump bersikeras bahwa utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner telah melakukan pembicaraan gencatan senjata yang sangat produktif dengan Teheran. Namun, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, langsung menepis klaim tersebut sebagai berita bohong (fake news) yang dirancang untuk memanipulasi pasar minyak.

Tak lama setelah bantahan tersebut, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal baru ke sasaran AS dan sekutu 'Israel' di seluruh Teluk, yang memicu sirine serangan udara di Tel Aviv.'Gedung Putih memberikan alasan bahwa Iran kembali mencoba membuat bom nuklir sebagai pembenaran serangan. Hal ini memicu pertanyaan, mengingat musim panas lalu Trump mengeklaim telah melenyapkan kemampuan nuklir Iran dalam Operasi Midnight Hammer.

Meskipun Trump mengatakan kepada wartawan bahwa respons agresif Iran terhadap negara-negara tetangga "tidak terduga," laporan Reuters menyebutkan bahwa presiden sebenarnya sudah diperingatkan sejak awal mengenai risiko eskalasi regional dan penutupan jalur minyak dunia.

Pete Hegseth kini menjadi wajah publik dari konflik ini. Di tengah retorika agresifnya di Pentagon mengenai "mematikan" (lethality) militer AS, ia kini memikul beban politik yang besar setelah Trump secara spesifik menunjuknya sebagai pendorong utama kebijakan perang ini.

Sementara itu, meskipun Ayatollah Ali Khamenei telah tewas pada hari pertama operasi, tujuan AS untuk menstabilkan kawasan tampak masih jauh dari kenyataan, dengan Iran yang justru menunjukkan ketahanan melalui serangan balasan yang terus berlanjut. (zarahamala/arrahmah.id)