Memuat...

Ulama dan Tokoh Perjuangan Poso KH Muhammad Adnan Arsal Wafat

Ameera
Sabtu, 28 Maret 2026 / 9 Syawal 1447 05:53
Ulama dan Tokoh Perjuangan Poso KH Muhammad Adnan Arsal Wafat
Ulama dan Tokoh Perjuangan Poso KH Muhammad Adnan Arsal Wafat

POSO (Arrahmah.id) - Kabar duka menyelimuti masyarakat Sulawesi Tengah. Ulama sekaligus tokoh perjuangan Poso, KH Muhammad Adnan Arsal, wafat pada Jumat, 27 Maret 2026.

Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta masyarakat luas yang mengenalnya sebagai sosok sederhana, tegas, dan penuh komitmen terhadap umat.

Almarhum dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam masa konflik Poso. Dalam periode kelam tersebut, ia turut berperan sebagai panglima lapangan bersama Habib Soleh bin Abubakar Alaydrus, dalam upaya menjaga dan membela masyarakat Muslim di tengah konflik komunal yang melanda wilayah itu.

Meski dikenal dalam medan perjuangan, perjalanan hidup KH Muhammad Adnan Arsal tidak berhenti pada konflik.

Sebelum masa itu, ia adalah seorang pendidik yang mengabdikan hidupnya untuk pengajian, membina santri, dan membimbing masyarakat dalam aspek spiritual.

Namun ketika konflik pecah dan masyarakat kehilangan arah, ia tampil sebagai sosok yang diandalkan, memikul tanggung jawab besar yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.

Salah satu kisah yang dikenang adalah keberaniannya memimpin evakuasi warga di tengah ancaman serangan.

Dalam gelapnya hutan, ia memandu perempuan, anak-anak, dan lansia keluar dari zona bahaya tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Peristiwa itu menjadi titik penting yang menanamkan kesadaran dalam dirinya bahwa menjaga nyawa manusia jauh lebih mulia daripada sekadar memenangkan pertempuran.

Kesadaran tersebut semakin menguat setelah sebuah pertemuan yang menggugah hati. Seusai bentrokan, ia bertemu seorang pria tua dari pihak lawan yang hanya menyampaikan satu kalimat sederhana namun mendalam: “Kalau perang ini selesai, siapa yang bisa mengembalikan anak saya?” Kalimat itu menjadi titik balik yang mengubah arah perjuangannya.

Sejak saat itu, KH Muhammad Adnan Arsal mulai aktif mendorong upaya perdamaian. Ia berani mengambil risiko, bahkan menghadapi kemungkinan dicap pengkhianat oleh kelompoknya sendiri.

Dalam berbagai pertemuan damai, ia menyerukan pentingnya menghentikan konflik demi masa depan generasi berikutnya.

“Kalau kita tidak berhenti hari ini, anak-anak kita yang akan melanjutkan perang ini,” ujarnya dalam salah satu forum dialog, kalimat yang kemudian dikenal mampu melunakkan ketegangan dan membuka jalan rekonsiliasi.

Pasca konflik, almarhum tidak memilih panggung politik. Ia justru kembali ke akar pengabdiannya sebagai pendidik dan pembina umat.

Ia aktif membangun lembaga pendidikan, menanamkan nilai toleransi kepada generasi muda, serta menjadi jembatan rekonsiliasi di tengah masyarakat yang pernah terbelah.

Selain itu, ia juga terus berdakwah, mengajak umat kepada persatuan, keteguhan iman, dan menjaga nilai-nilai keislaman di tengah berbagai ujian sosial. Pengalaman hidupnya menjadi pelajaran berharga tentang mahalnya harga sebuah perdamaian.

Sejumlah tokoh masyarakat menyampaikan belasungkawa atas wafatnya beliau.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa beliau, menerima amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar salah satu tokoh masyarakat setempat.

Kepergian KH Muhammad Adnan Arsal menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi masyarakat Poso, tetapi juga bagi umat Islam yang mengenal dedikasi dan perjuangannya.

إنا لله وإنا إليه راجعونا

للهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه واسكنه فسيح جناته

(ameera/arrahmah.id)