Memuat...

Ultimatum 48 Jam Trump Picu Ketegangan: Iran Ancam Balas Hancurkan Infrastruktur Energi

Samir Musa
Ahad, 22 Maret 2026 / 3 Syawal 1447 20:14
Ultimatum 48 Jam Trump Picu Ketegangan: Iran Ancam Balas Hancurkan Infrastruktur Energi
Juru bicara Markas Khatam al-Anbiya yang berada di bawah Korps Garda Revolusi Iran, Ibrahim Zolfaghari (Kantor berita Tasnim).

TEHRAN (Arrahmah.id) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, atau menghadapi serangan terhadap fasilitas energi.

Menanggapi ancaman tersebut, militer Iran menyatakan siap membalas dengan menargetkan infrastruktur vital milik Amerika Serikat dan ‘Israel’ di kawasan jika serangan benar-benar dilakukan terhadap fasilitas energi Iran.

Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ibrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi Iran akan dibalas dengan langkah serupa di berbagai titik strategis.

“Jika infrastruktur bahan bakar dan energi di Iran diserang, maka seluruh infrastruktur energi, teknologi informasi, serta fasilitas desalinasi air milik Amerika dan ‘Israel’ di kawasan akan menjadi sasaran,” ujarnya.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicara Esmail Baghaei menegaskan bahwa Iran tidak akan diminta untuk bersikap menahan diri dalam kondisi diserang.

“Jangan berharap Iran akan menunjukkan sikap menahan diri setelah menjadi target serangan. Permintaan itu seharusnya ditujukan kepada para agresor,” katanya.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf juga memperingatkan bahwa jika fasilitas energi Iran menjadi target, maka dampaknya dapat meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah.

Ultimatum dari Trump sendiri disampaikan melalui platform Truth Social, dengan ancaman akan menghancurkan fasilitas energi Iran apabila Selat Hormuz tidak dibuka sepenuhnya dalam waktu 48 jam.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini telah memicu lonjakan biaya energi global serta meningkatkan kekhawatiran akan krisis ekonomi internasional.

Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan ‘Israel’ terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir, ditandai dengan saling serang dan ancaman militer di berbagai wilayah.

(Samirmusa/arrahmah.id)