KABUL (Arrahmah.id) - Zabihullah Mujahid, juru bicara Imarah Islam, pada Rabu (2/9/2026) memaparkan kegiatan selama satu tahun dari empat lembaga pemerintah di bidang kebijakan luar negeri, pertahanan, pemberantasan narkotika, dan urusan penjara dalam sebuah pertemuan.
Ia menyebut pengakuan Rusia terhadap Imarah Islam, lebih dari 90 kunjungan luar negeri oleh pejabat pemerintah, serta beroperasinya misi diplomatik Afghanistan di luar negeri sebagai pencapaian utama dalam kebijakan luar negeri.
Ia menambahkan bahwa selama setahun terakhir, hubungan Afghanistan—khususnya di sektor ekonomi—telah berkembang dengan Rusia, Iran, India, dan Uzbekistan, lansir Tolo News (2/9).
Mujahid mengatakan: "Pada tahun 1447 Hijriah, tiga misi politik dan konsuler Imarah Islam Afghanistan mulai beroperasi di luar negeri; kedutaan besar Afghanistan di Kuwait dan Berlin, serta Konsulat Jenderal Afghanistan di Bonn, Jerman, mulai menjalankan tugasnya."
Di sektor pertahanan, hampir 2.900 senjata ringan dan berat serta lebih dari 2.500 butir amunisi ditemukan dan disita dalam operasi yang dilakukan oleh pasukan Kementerian Pertahanan.
Selama periode yang sama, lebih dari 20.000 orang direkrut ke dalam pusat pendidikan dan pelatihan angkatan darat, sementara hampir 20.000 orang lainnya menyelesaikan kursus pelatihan profesional dan khusus.
Juru bicara Imarah Islam tersebut melanjutkan: "Kementerian Pertahanan negara, dalam upaya memperkuat sektor pertahanan dan keamanan, telah meninjau struktur organisasinya, menyesuaikan struktur, kebijakan, serta prosedur agar sesuai dengan kebutuhan saat ini, serta membentuk dan memperkuat unit-unit khusus di sepanjang Garis Durand untuk mencegah ancaman keamanan dan penyelundupan."
Di sektor pemberantasan narkotika, lebih dari 46.000 operasi dilakukan untuk menindak budidaya, produksi, dan perdagangan narkotika, dan lebih dari 13.000 orang ditangkap terkait kejahatan narkoba.
Selain itu, lebih dari 500 fasilitas dan lokasi produksi narkoba dihancurkan, dan 33.000 pecandu narkoba diamankan. Zabihullah Mujahid menambahkan: “Pada tahun yang sama, melalui program kepolisian berbasis masyarakat, sebanyak 1.543 pertemuan konsultatif dan sosialisasi diadakan di seluruh negeri untuk meningkatkan kerja sama antara masyarakat dan kepolisian.”
Di sektor pemasyarakatan, lebih dari 28.000 narapidana mendapatkan akses pendidikan ilmu pengetahuan modern, sementara lebih dari 4.000 lainnya menerima pelatihan kejuruan. (haninmazaya/arrahmah.id)
