Memuat...

Washington Lirik Tokoh Ini Jadi “Mitra Negosiasi” dengan Iran di Tengah Perang

Samir Musa
Selasa, 24 Maret 2026 / 5 Syawal 1447 07:51
Washington Lirik Tokoh Ini Jadi “Mitra Negosiasi” dengan Iran di Tengah Perang
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, membantah adanya negosiasi apa pun dengan Washington (Al Jazeera).

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Pemerintahan Amerika Serikat mulai mengubah pendekatannya dalam menghadapi Iran, dari tekanan militer menuju upaya membuka jalur negosiasi melalui figur internal rezim.

Laporan situs politik Amerika, Politico, mengungkap bahwa sejumlah pejabat di Gedung Putih menyebut Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, sebagai salah satu kandidat kuat yang dipertimbangkan sebagai “mitra negosiasi” potensial.

Namun, langkah ini disebut masih dalam tahap pengujian dan belum menjadi keputusan final.

Menurut laporan tersebut, lingkaran dalam pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mengevaluasi sejumlah tokoh berpengaruh di Iran guna mencari sosok yang dinilai mampu membuka jalan menuju kesepakatan politik untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.

Ghalibaf disebut masuk dalam daftar “opsi menonjol”, meski bukan satu-satunya kandidat yang dipertimbangkan.

Pergeseran Strategi Washington

Pendekatan ini mencerminkan perubahan penting dalam strategi Washington.

Alih-alih mengandalkan oposisi luar negeri, seperti Reza Pahlavi, yang dinilai kurang memiliki pengaruh di dalam negeri, AS kini mencoba mencari jalan keluar melalui tokoh dari dalam sistem kekuasaan Iran itu sendiri.

Sejumlah pejabat menilai Ghalibaf sebagai figur yang relatif “pragmatis”, meskipun selama ini dikenal memiliki retorika keras terhadap Amerika.

Ia dinilai bisa menjadi pintu masuk untuk menguji kemungkinan terbukanya jalur diplomasi.

Penilaian ini juga tidak lepas dari situasi internal Iran yang mengalami guncangan besar, terutama setelah terbunuhnya sejumlah tokoh kunci, termasuk pemimpin tertinggi Ali Khamenei dalam serangan awal perang.

Mencari Jalan Keluar dari Krisis Global

Upaya Washington ini juga didorong oleh tekanan global yang semakin besar akibat perang.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah memicu gejolak pasar energi dunia, menyebabkan lonjakan harga minyak dan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan global.

Dalam konteks ini, Gedung Putih melihat bahwa mencapai kesepakatan politik dengan Iran dapat menjadi kunci untuk meredakan krisis energi internasional.

Namun, tidak semua pihak di dalam pemerintahan AS sepakat dengan pendekatan ini.

Sebagian kalangan menilai bahwa bertaruh pada tokoh dari dalam sistem Iran merupakan langkah berisiko, mengingat dominasi kuat Korps Garda Revolusi Islam Iran dalam pengambilan keputusan strategis.

Iran Bantah Adanya Negosiasi

Di pihak Iran, Ghalibaf dengan tegas membantah adanya pembicaraan dengan Washington.

Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa “tidak ada negosiasi dengan Amerika Serikat”, dan menyebut kabar tersebut sebagai bagian dari propaganda untuk memanipulasi pasar minyak dan keuangan.

Meski demikian, sejumlah pejabat Amerika menilai bantahan tersebut kemungkinan hanya ditujukan untuk konsumsi domestik.

Terinspirasi Model Venezuela

Pendekatan Washington ini disebut tidak muncul begitu saja.

Beberapa pejabat mengaitkannya dengan pengalaman sebelumnya di Venezuela, setelah penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada awal 2026.

Dalam kasus tersebut, AS tetap membuka komunikasi dengan tokoh dari dalam sistem, termasuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez, untuk mencapai kesepakatan pragmatis terutama di sektor energi.

Realitas Kekuasaan di Iran

Di tengah perkembangan ini, pengaruh Korps Garda Revolusi Islam Iran justru semakin menguat.

Setelah terbunuhnya sejumlah pemimpin senior, serta penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi, Garda Revolusi memainkan peran yang lebih dominan dalam menentukan arah kebijakan strategis negara.

Hal ini membuat setiap upaya negosiasi dengan Iran menjadi sangat kompleks dan penuh ketidakpastian.

Penutup

Langkah Washington yang mulai melirik figur dari dalam Iran menunjukkan adanya perubahan taktik di tengah kebuntuan militer.

Namun, dengan tingginya tingkat ketidakpercayaan dan kuatnya pengaruh militer di dalam struktur kekuasaan Iran, peluang keberhasilan pendekatan ini masih belum jelas.

Apakah Ghalibaf akan benar-benar menjadi jembatan menuju kesepakatan, atau hanya bagian dari manuver politik yang lebih luas—waktu yang akan menjawabnya.

(Samurmusa/arrahmah.id)