Memuat...

1.000 Pohon Zaitun Kuno Musnah dalam Semalam di Tepi Barat, Ancaman Permukiman Semakin Nyata

Zarah Amala
Rabu, 6 Mei 2026 / 19 Zulkaidah 1447 11:47
1.000 Pohon Zaitun Kuno Musnah dalam Semalam di Tepi Barat, Ancaman Permukiman Semakin Nyata
Para pemukim mencegah penduduk memanen zaitun... Eksklusif Al Jazeera Net (Al Jazeera)

RAMALLAH (Arrahmah.id) - Lahan pertanian di kota Turmus Ayya, timur laut Ramallah, mengalami aksi perusakan massal setelah sekitar 1.000 pohon zaitun kuno dicabut dan diratakan. Warga setempat menggambarkan tindakan ini sebagai pembersihan agrikultur sistematis yang terus mengancam kelangsungan lahan mereka.

ini menambah daftar panjang kehancuran pohon zaitun di wilayah yang sama, di mana sekitar 20.000 pohon telah dicabut atau dibiarkan mati dalam periode terakhir.

Petani setempat, dipimpin oleh Abdullah Abu Awad, melaporkan bahwa perusakan dilakukan pada malam hari menggunakan buldoser dan alat berat pertanian. Para pemilik lahan menegaskan bahwa tanah tersebut adalah milik sah warga Palestina dengan bukti dokumen resmi, dan tidak ada keputusan pengadilan yang memerintahkan penyitaan lahan tersebut.

Penduduk melaporkan bahwa lahan yang dirusak kini menjadi area terlarang bagi pemilik aslinya, sementara pemukim ilegal diberikan akses penuh dan kebebasan bergerak di area tersebut.

Warga menjelaskan bahwa perusakan tidak berhenti pada pencabutan pohon, namun diikuti oleh langkah-langkah untuk membentuk ulang lahan tersebut. Lahan yang telah diratakan kemudian segera disiapkan untuk ditanami tanaman alternatif seperti anggur, sebagai bagian dari upaya perubahan fitur wilayah dan identitas tempat secara bertahap.

Menurut warga, intensitas pembatasan akses bagi pemilik Palestina meningkat drastis sejak 7 Oktober 2023, yang membuat akses ke lahan pertanian tersebut hampir mustahil.

Penduduk Turmus Ayya menyatakan kekhawatiran yang meningkat bahwa lahan pertanian mereka akan diubah sepenuhnya menjadi pos pemukiman tertutup. Warga menekankan bahwa pohon zaitun bukan sekadar sumber ekonomi, melainkan simbol sejarah dan memori lintas generasi.

Mereka menganggap penargetan pohon zaitun adalah ancaman terhadap identitas dan rasa memiliki di tengah minimnya intervensi internasional untuk menghentikan perubahan radikal yang dipaksakan di atas lahan mereka secara diam-diam. (zarahamala/arrahmah.id)