TEHERAN (Arrahmah.id) - Militer Amerika Serikat melaporkan telah menyerang dua kapal tanker minyak berbendera Iran yang diklaim berusaha melanggar blokade laut pada Jumat (8/5/2026). Komando Pusat AS (CENTCOM) melalui unggahan di platform X menyatakan bahwa serangan ini menyusul pelumpuhan kapal berbendera Iran ketiga yang dilakukan pada Rabu sebelumnya (6/5).
Insiden ini menandai eskalasi serius setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam aksi saling tembak sepanjang Kamis malam hingga Jumat dini hari (8/5). Kontak senjata ini terjadi meskipun kedua belah pihak secara teknis masih berada dalam masa gencatan senjata yang berlaku sejak 8 April lalu.
Seorang pejabat Iran menyatakan bahwa serangan semalam di dalam dan sekitar Selat Hormuz menghantam sebuah kapal kargo Iran. Insiden tersebut mengakibatkan 10 pelaut luka-luka dan lima orang lainnya dinyatakan hilang.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa Washington tengah menunggu tanggapan Iran pada hari Jumat terkait proposal AS untuk mengakhiri konflik. Namun, Rubio juga mengecam keras upaya Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz.
Kecaman ini muncul setelah adanya laporan bahwa Teheran telah membentuk otoritas khusus untuk mengatur dan menyetujui izin transit di jalur perairan vital tersebut. Rubio menegaskan bahwa upaya Iran untuk mengontrol jalur navigasi internasional adalah hal yang "tidak dapat diterima."
Dampak Regional: Serangan di UEA dan Lebanon Selatan
Konflik ini terus berdampak pada negara-negara tetangga di kawasan Teluk dan Mediterania.
Pemerintah UEA melaporkan serangan rudal dan drone Iran yang menghantam wilayah mereka pada hari Jumat, mengakibatkan tiga orang mengalami luka ringan. UEA sejauh ini menjadi negara yang paling terdampak oleh serangan-serangan Iran di kawasan Teluk.
Di wilayah lain, serangan 'Israel' dilaporkan menewaskan beberapa orang di Lebanon selatan. Pertempuran terus berlanjut di wilayah tersebut meskipun kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah secara resmi masih berlaku.
Kondisi di Timur Tengah saat ini berada dalam titik kritis, di mana serangkaian pelanggaran gencatan senjata di berbagai front mengancam akan menyeret kawasan tersebut kembali ke dalam perang skala penuh. (zarahamala/arrahmah.id)
