Memuat...

Menlu Kenya: 19 Warga Kenya Tewas Saat Bertempur untuk Rusia di Ukraina

Hanin Mazaya
Jumat, 8 Mei 2026 / 21 Zulkaidah 1447 14:18
Menlu Kenya: 19 Warga Kenya Tewas Saat Bertempur untuk Rusia di Ukraina
(Foto: BBC)

NAIROBI (Arrahmah.id) - Menteri Luar Negeri Kenya mengatakan pada Kamis (7/5/2026) bahwa 19 warga negaranya telah tewas dalam pertempuran di garis depan Ukraina dan 32 lainnya hilang, seiring meningkatnya kritik atas laporan perekrutan paksa warga Kenya ke dalam tentara Rusia.

Berbicara selama sesi komite Senat, Musalia Mudavadi mengatakan jumlah warga Kenya yang terdaftar di tentara Rusia telah meningkat menjadi 291 dari angka sebelumnya yaitu 250.

Dinas intelijen negara Afrika Timur tersebut memperkirakan angka itu jauh lebih tinggi, memperkirakan bahwa lebih dari 1.000 warga Kenya telah direkrut ke dalam militer Rusia setelah dibujuk oleh perekrut dengan janji palsu tentang pekerjaan yang menguntungkan, lansir AFP.

“Lebih banyak detail telah muncul (tentang mereka) yang terdaftar di pasukan khusus Rusia,” kata Mudavadi kepada Senat, menambahkan bahwa 53 rekrutan Kenya sejauh ini telah dipulangkan.

“Kami memiliki 19 warga Kenya yang mungkin telah tewas di Rusia. Dan sekarang kami memiliki angka 32 orang yang hilang dalam pertempuran,” katanya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi kepada AFP bahwa kematian tersebut terjadi di garis depan.

Dua warga Kenya ditahan sebagai tawanan perang di Ukraina, menurut Mudavadi.

Menteri Luar Negeri mengunjungi Moskow pada Maret, di mana ia mengadakan pembicaraan dengan para diplomat senior dalam upaya untuk menghentikan wajib militer paksa warga Kenya untuk berperang dalam perang Rusia-Ukraina.

Berbagai investigasi, termasuk yang diterbitkan oleh AFP, telah mengungkap bagaimana Rusia telah memikat pria dari negara-negara Afrika dengan janji pekerjaan yang menguntungkan, hanya untuk memaksa mereka berperang di garis depan Ukraina.

Pengungkapan ini telah menyebabkan kegemparan di Kenya.

Wakil Mudavadi, Abraham Korir Sing’Oei, mengecam penggunaan warga Kenya sebagai “umpan meriam” oleh Rusia yang “tidak dapat diterima”. (haninmazaya/arrahmah.id)